BEKASI, Pena Katolik – Di tengah keberagaman masyarakat Indonesia, kehadiran relawan yang melayani tanpa sekat menjadi oase yang menyejukkan. Semangat inklusif inilah yang ditegaskan kembali oleh 465 anggota Legio Maria (Legioner) dalam upacara tahunan Acies 2026 yang digelar di Paroki Cikarang Gereja Ibu Teresa (PCGIT) pada Sabtu (14/3/2026).
Momentum ini bukan sekadar seremoni rutin. Acies yang dalam bahasa Latin berarti “bala tentara yang siap sedia” merupakan pernyataan komitmen mendalam bagi para Legioner untuk memperbarui janji kesetiaan kepada Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria. Sebagai penyelenggara, Kuria Regina Pacis Bekasi-2 mengoordinasikan perwakilan dari lima wilayah paroki: Cikarang, Taman Galaxy, Kranggan, Jatiwaringin, dan Kampung Sawah.
Spiritualitas yang Membumi
Tahun ini, Acies mengusung tema khusus: “Merawat Bumi dan Alam Semesta adalah Bagian dari Spiritualitas Legioner.” Tema ini memperluas cakrawala pelayanan mereka; tidak lagi hanya menyentuh aspek kemanusiaan, tetapi juga kesadaran akan tanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan.
Dalam sambutannya, Romo Robertus Guntur Dewantoro, Pr., selaku Romo Kepala Paroki Cikarang, memberikan penekanan kuat pada dimensi ekologis ini. Beliau menegaskan bahwa menjaga kelestarian alam bukanlah sekadar isu sosial, melainkan bagian integral dari kehidupan beragama.
”Menjaga kelestarian alam merupakan wujud nyata dari iman kita kepada Sang Pencipta. Spiritualitas Legioner tidak boleh berhenti pada doa di dalam kapel, tetapi harus tumpah ke luar dalam bentuk kepedulian terhadap bumi sebagai rumah kita bersama,” ujar Romo Guntur.
Ketua Panitia Acies 2026, Maria Neneng Kamida, menambahkan bahwa tema ini adalah respons konkret terhadap tantangan zaman. Panitia berharap semangat ini menjelma menjadi gaya hidup sehari-hari, di mana menjaga alam menjadi bentuk pengabdian spiritual yang nyata.
Pelayanan Tanpa Sekat dan Batas
Selama ini, para Legioner dikenal melalui aksi nyata di garis depan kemanusiaan: menghibur pasien di rumah sakit, mengunjungi panti asuhan, hingga menyapa para narapidana. Uniknya, dukungan moral ini diberikan kepada siapa pun yang membutuhkan tanpa memandang latar belakang agama.
Kini, semangat inklusif tersebut diperkuat dengan kepedulian lingkungan. Bagi para anggota, janji pelayanan yang diucapkan diharapkan berdampak langsung pada masyarakat majemuk Indonesia. “Dalam karya pelayanan, yang utama adalah kasih dan sikap saling menghormati di tengah keberagaman,” tegas Maria Neneng.
Vexillum: Simbol Penyerahan Diri Total
Puncak sakral acara terjadi saat setiap anggota memegang batang Vexillum (panji Legio) dan berikrar: “Aku adalah milikmu, Ratuku dan Bundaku, dan segala milikku adalah kepunyaanmu.”
Bagi Eufrasia Metta, anggota Legio Maria dari Paroki Cikarang, kalimat tersebut merupakan fondasi hidup di tengah dunia yang kompetitif. Meski harus menyeimbangkan waktu antara keluarga dan pekerjaan, ia berkomitmen untuk menjadi “ketaatan yang hidup” agar kehadirannya mempermudah langkah rekan sejawat dalam bertugas.
Harapan dan Regenerasi
Acara yang berlangsung selama empat setengah jam ini diisi dengan doa Rosario dan Misa Kudus sebagai sarana “mengisi ulang” energi spiritual. Di tengah hiruk-pikuk dunia, Maria Neneng mengingatkan pentingnya meneladani sosok Bunda Maria yang bersahaja dan setia mendengarkan Tuhan.
Optimisme mengenai masa depan organisasi ini juga menguat dengan lahirnya presidium junior di sekolah Don Bosco III. Hal ini menjadi sinyal bahwa panggilan melayani tetap relevan bagi generasi muda.
Upacara Acies 2026 ditutup dengan harapan besar agar api semangat pelayanan ini tidak padam. Di bawah panji Bunda Maria, para Legioner melangkah maju dengan satu doa: kesetiaan dan ketaatan sampai akhir untuk Tuhan, sesama, dan semesta.
(Lourentius EP)
