BANYUASIN, Pena Katolik – Di tengah riuh rendah perubahan kebijakan pendidikan nasional dan derasnya arus teknologi, lembaga pendidikan Katolik di wilayah Sumatera menegaskan kembali komitmennya: mendidik bukan sekadar mentransfer ilmu, melainkan membentuk manusia utuh yang berakar pada iman dan relevan dengan zaman.
Semangat inilah yang melandasi pertemuan strategis Komisi Pendidikan (Komdik) Regio Sumatera yang digelar pada 11-14 Maret 2026. Bertempat di Wismalat Podomoro, Kabupaten Banyuasin, para penggerak pendidikan Katolik dari Lampung hingga Aceh berkumpul untuk bersinergi dalam sebuah studi bersama yang krusial bagi masa depan sekolah-sekolah Katolik.
Kegiatan ini dibuka secara resmi melalui Misa Kudus yang dipimpin oleh RD Yohanes Kristianto, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Palembang. Ibadah ini menjadi simbol bahwa setiap upaya intelektual dan manajerial yang dibahas dalam pertemuan ini harus senantiasa bersumber dan bermuara pada pelayanan kasih Kristus.
Pertemuan ini dihadiri oleh jajaran pengurus Komdik, Majelis Pendidikan Katolik (MPK) Keuskupan, pengurus Yayasan Sekolah Keuskupan maupun Tarekat Religius, hingga pimpinan Perguruan Tinggi Katolik se-Regio Sumatera.
Pendidikan Katolik saat ini diperhadapkan pada tantangan kompleks. RD Gading Johanes Sianipar menekankan bahwa di era persaingan global, sekolah Katolik tidak boleh kehilangan jati dirinya.
“Melalui pendidikan, nilai-nilai Injili seperti kasih, keadilan, dan kejujuran ditanamkan. Namun, kita juga dituntut melahirkan pribadi yang berdaya saing. Lembaga pendidikan Katolik perlu berinovasi tanpa kehilangan identitas,” ungkapnya.
Untuk membedah tantangan tersebut, pertemuan ini menghadirkan empat narasumber ahli yang membawa fokus berbeda: RP Antonius Vico Christiawan, SJ (Mengupas tuntas evaluasi diri sekolah Katolik); RP Vinsensius Darmin Mbula, OFM (Menggagas kurikulum unggul yang memiliki kekhasan Katolik); L. Manik Mustikohendro (Memaparkan data peta jalan sekolah Katolik di Regio Sumatera); dan Ferdinandus Hindiarto (Mengusung konsep “Sentra Belajar Guru” sebagai pusat pengembangan kompetensi pendidik).
Kurikulum Khas dan Sentra Belajar
RD Agustinus KG Faran , Ketua Komdik Regio Sumatera, mengingatkan bahwa karya pendidikan adalah bagian integral dari misi Gereja. Mengutip Kitab Amsal 22:6, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu”, ia menegaskan bahwa kolaborasi antar-Keuskupan adalah kunci.
Oleh karena itu, pertemuan ini mengusung tema besar, “Bersinergi Membangun Pendidikan Katolik yang Bermutu, Berkarakter, dan Relevan di Regio Sumatera.”
Senada dengan hal tersebut, RD Dionesius Anton Liberto selaku Ketua Panitia menjelaskan bahwa pertemuan ini memiliki target konkrit. “Kami ingin merumuskan mekanisme Sentra Belajar Guru dan menyusun strategi implementasi Kurikulum Khas Katolik. Ini adalah langkah nyata agar pendidikan kita tetap menjadi terang di tengah masyarakat,” jelasnya.
Selama empat hari, para peserta akan terlibat dalam diskusi intensif untuk menyepakati pembagian peran antar-Keuskupan serta menetapkan timeline pelaksanaan program. Harapannya, hasil dari Wismalat Podomoro ini akan menjadi kompas baru bagi seluruh sekolah Katolik di Sumatera untuk terus melayani dengan standar kualitas tinggi yang berlandaskan nilai-nilai iman. (Andreas Daris Awalistyo/Palembang)
