Selasa, Februari 24, 2026

Misa Perdana Dua Imam Baru MSC di Merauke Berlangsung Meriah

MERAUKE, Pena Katolik – Suasana penuh syukur menyelimuti Gereja Katolik Sang Penebus Kampung Baru, Merauke, pada Selasa, 17 Februari 2026. Sebanyak 1.500 umat hadir memenuhi halaman gereja untuk mengikuti Misa Perdana (Misa Anyar) dua imam baru Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC), Romo Agustinus Nicolaus Yokit, MSC dan Romo Johannes Lando, MSC. Perayaan ekaristi ini merupakan ungkapan syukur setelah keduanya ditahbiskan oleh Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC.

Dalam khotbahnya, Romo Agustinus Nicolaus Yokit menekankan bahwa esensi merayakan Ekaristi bukanlah sekadar urusan makan dan minum, melainkan karena panggilan Allah. Ia mengaku takjub dengan kehadiran umat yang luar biasa banyak.

“Saya tidak pernah membayangkan misa ini akan dihadiri 1.500 umat. Awalnya, rencana kami hanya ingin merayakan secara sederhana dalam lingkup keluarga inti. Namun, setelah berdiskusi dengan Pastor Paroki Sang Penebus, Romo Christofel Feddy Andries, MSC, rencana itu berubah menjadi perayaan besar yang melibatkan banyak orang,” ungkap Romo Agus.

Romo Agus juga berpesan agar umat terus saling mendukung dan tidak memelihara kebencian. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan acara ini adalah buah dari kerja keras panitia kecil yang bergerak dari rumah ke rumah, mengumpulkan bantuan moril maupun materiil dari umat yang tulus mendukung panggilan mereka.

Tugas berat telah menanti kedua imam baru ini. Romo Agustinus dan Romo Johannes dijadwalkan akan mengemban misi internasional ke Kuba dan Ekuador, tempat mereka sebelumnya bertugas sebagai diakon.

Romo Agus sempat membandingkan kebebasan beragama di Indonesia dengan tantangan di Kuba. “Di sana, untuk mengadakan kegiatan keagamaan perlu izin ketat karena ideologi negara. Di Indonesia, kita penuh dengan kasih dan kebebasan. Maka, pergunakanlah kebebasan itu untuk semakin dekat dengan Tuhan,” pesannya.

Nada keprihatinan muncul dari Vikjen Keuskupan Agung Merauke, Romo Hendrikus Kariwop, MSC. Ia menyoroti fakta bahwa di usia Keuskupan Agung Merauke yang sudah mencapai 120 tahun, jumlah imam Orang Asli Papua (OAP) masih sangat minim.

“Jumlah imam asli Papua bisa dihitung dengan jari. Padahal, kebutuhan umat semakin besar sementara banyak imam senior yang mulai memasuki masa pensiun,” ujar Romo Hendrikus.

Ia mengajak keluarga-keluarga Katolik di Merauke, khususnya suku Marind, Auyu, Kimaam, Mappi, Yaghai, Muyu, dan Mandobo, untuk mendorong putra-putri mereka menjadi imam, bruder, atau suster. Ia berharap semangat Izakod Kai Izakod Bekai (Satu Hati Satu Tujuan) benar-benar dihidupkan untuk membangun Gereja di Papua Selatan.

Ketua Panitia, Maria Salome Kanden, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang membantu kesuksesan acara, mulai dari para seminaris Seminari Pastor Bonus Kelapa Lima, OMK Paroki Sang Penebus, hingga OMK Paroki Bambu Pemali.

Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh umat di antaranya: Paskalis Imadawa (Wakil Gubernur Papua Selatan); Yoseph Bladib Gebze (Bupati Merauke); Fauzun Nihayah (Wakil Bupati Merauke); Heribertus Silfanus Silubun (Ketua DPR Papua Selatan); Frits Wagasu (Anggota DPD RI); Serta jajaran pejabat daerah dan kepala suku Muyu serta Wambon.

Perayaan ini ditutup dengan ramah tamah dan komitmen bersama untuk terus mendoakan para imam baru agar tetap setia dalam pelayanan mereka di tanah misi yang jauh. (Agapitus Batbual/Merauke)

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini