Rabu, Februari 25, 2026

Bacaan dan Renungan Jumat, 27 Februari 2026, Hari Biasa Pekan Prapaskah I (ungu)

Bacaan I – Yeh. 18:21-28

Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup, ia tidak akan mati.

Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia; ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya. Apakah Aku berkenan kepada kematian orang fasik? demikianlah firman Tuhan ALLAH. Bukankah kepada pertobatannya supaya ia hidup?

Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan seperti segala kekejian yang dilakukan oleh orang fasik?apakah ia akan hidup? Segala kebenaran yang dilakukannya tidak akan diingat-ingat lagi. Ia harus mati karena ia berobah setia dan karena dosa yang dilakukannya.

Tetapi kamu berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat! Dengarlah dulu, hai kaum Israel, apakah tindakan-Ku yang tidak tepat ataukah tindakanmu yang tidak tepat? Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya.

Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya. Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya, ia pasti hidup, ia tidak akan mati.

Demikianlah Sabda Tuhan

U. Syukur Kepada Allah

Mzm. 130:1-2,3-4ab,4c-6,7-8

  • Nyanyian ziarah. Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku.
  • Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang.
  • Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya.
  • Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi.
  • Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan. Dialah yang akan membebaskan Israel dari segala kesalahannya.

Bacaa Injil – Mat. 5:20-26.

Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Demikianlah Injil Tuhan

U. Terpujilah Kristus

***

Kesucian dalam Hati

Yesus memberikan pernyataan yang cukup mengejutkan dengan menegaskan bahwa jika hidup keagamaan kita tidak lebih benar daripada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kita tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Bagi masyarakat kala itu, kelompok Farisi adalah standar tertinggi dalam ketaatan beragama, namun Yesus melihat adanya celah besar berupa formalitas yang hampa. Mereka sangat taat pada aturan lahiriah, tetapi hati mereka sering kali jauh dari kasih yang tulus. Melalui teguran ini, Yesus memanggil kita untuk melampaui sekadar ketaatan administratif dan menuju pada kesalehan batin yang sejati.

Yesus kemudian membawa pemahaman hukum Taurat ke level yang lebih dalam, yakni dari perbuatan lahiriah menuju ke akar hati. Sebagai contoh, perintah untuk tidak membunuh tidak lagi hanya dimaknai sebagai tindakan mencabut nyawa, melainkan juga mencakup pengendalian diri terhadap amarah, dendam, dan penghinaan. Kata-kata tajam atau makian yang kita lontarkan pada sesama pada dasarnya adalah bentuk pembunuhan karakter yang merusak citra Allah dalam diri manusia. Dengan demikian, menjaga kekudusan berarti menjaga pikiran dan lisan kita agar tetap penuh hormat terhadap sesama.

Poin yang paling menantang dalam ajaran ini adalah ketika Yesus meminta kita untuk meninggalkan persembahan di depan mezbah demi berdamai terlebih dahulu dengan saudara yang sakit hati. Hal ini menjadi pengingat keras bahwa hubungan vertikal kita dengan Allah tidak pernah bisa dipisahkan dari hubungan horizontal dengan sesama. Kita sering kali merasa sudah suci karena rajin beribadah, namun di saat yang sama tetap memelihara tembok permusuhan. Yesus menegaskan bahwa doa dan persembahan kita menjadi tidak sempurna jika hati kita masih menyimpan kebencian yang belum diselesaikan melalui rekonsiliasi.

Pada akhirnya, Tuhan tidak menginginkan ketaatan yang kaku dan dingin, melainkan hati yang lembut dan mau merendah untuk meminta maaf. Marilah kita memeriksa batin dan melihat apakah ada seseorang yang masih kita “penjarakan” dalam kebencian kita. Sebelum melangkah lebih jauh dalam pelayanan atau doa-doa kita, mari kita berupaya melepaskan pengampunan dan mencari perdamaian, agar seluruh hidup kita menjadi persembahan yang harum dan berkenan di hadirat-Nya.

Doa Penutup

Tuhan Yesus Kristus, Engkau mengajar kami bahwa kasih adalah penggenapan dari segala hukum. Ampunilah kami jika selama ini kami hanya mengejar formalitas agama namun mengabaikan ketulusan kasih terhadap sesama. Lembutkanlah hati kami yang keras agar kami berani membuang amarah, dendam, dan kesombongan. Berilah kami kerendahan hati untuk mencari perdamaian dengan mereka yang menyakiti kami atau yang kami sakiti. Jadikanlah hati kami mezbah yang murni, tempat Engkau bersemayam dengan damai. Sebab Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Bapa dan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa. Amin.

***

Santo Gabriel Possenti, Pengaku Iman

Semasa kecilnya Gabriel dipanggil dengan nama Fransiskus, mengikuti nama dari Fransiskus dari Asisi, pelindung kotanya. Ia adalah anak bungsu seorang Gubernur. Ibunya meninggal dunia ketika ia masih berumur 4 tahun. Teladan hidup ibunya sangat berpengaruh terutama dalam hal devosi kepada Bunda Maria. Sepeninggal ibunya yang terkasih itu, Bunda Maria menjadi tokoh pengganti yang sungguh dikasihinya.

Pada umur 7 tahun, Fransiskus kecil telah diperkenankan menerima Komuni Suci. Di sekolahnya ia dikenal sebagai seorang anak yang pintar, lucu dan suka berpakaian rapi. Ia juga menjadi seorang teman yang baik dan setia bagi kawan  kawannya. Ia selalu siap menolong kawan  kawannya, murah hati dan tidak biasa mengeluh apabila dihukum karena kesalahan teman  temannya. Sebagai siswa di Kolose Serikat Yesus, ia tetap unggul dan terus menerus memegang sebutan Sang Juara dalam kelasnya. Karena pergaulannya yang ramah dan kelincahannya dalam olah raga, ia sangat disukai banyak orang.

Dalam mata pelajaran kesustraan, ia sangat pandai, terutama dalam sastra Latin. Ia sangat mahir bersyair dalam bahasa Latin. Sebagai seorang penggemar Sastra, ia terkenal sebagai seorang pemain drama yang berbakat. Ketika duduk di kelas terakhir, ia diangkat sebagai Ketua Akademis para Siswa dan menjadi Prefek Kongregasi Maria. Sifatnya yang mengingini kesenangan  kesenagan duniawi masih tetap menonjol dalam praktek hidupnya. Ia suka membaca buku-buku roman, menonton sandiwara, berburu dan berdansa. Kehidupan rohani kurang diindahkannya. Namun rencana Tuhan atas dirinya tampak jelas.

Tuhan tetap membimbingnya. Pada hari Raya Maria Diangkat Ke Surga, tanggal 15 Agustus 1855, diadakan perarakan Patung Bunda Maria mengelilingi kota Spoleta. Uskup Agung kota Spoleta sendiri membawa patung itu. Ketika itu Fransiskus mendengar suara panggilan bunda Maria: Fransiskus, engkau tidak diciptakan untuk dunia ini, tetapi untuk menjalani kehidupan bakti kepada Allah di dalam Biara. Fransiskus mendengar suara itu dengan takut. Semenjak saat itu tumbuhlah keinginan untuk masuk biara. Dia tidak melamar masuk Serikat Yesus, tempat ia bersekolah, tetapi melamar masuk Kongregasi Imam Imam Passionis.

Di dalam Kongregasi Passionis inilah ia mengganti namanya dengan Gabriel. Pada tahun 1856 ia menerima jubah Kongregasi Passionis. Namun kehidupan biaranya di biara ini tidak lama. Ia meninggal dunia pada tahun 1862 setelah berhasil menempa dirinya menjadi seorang biarawan Passionis sejati.

Selama berada di dalam biara, Gabriel sungguh menunjukkan kesungguhan dalam menata hidup rohaninya. Ia benar  benar mencintai Yesus tersalib dan Bunda Maria yang berduka. Devosi kepada Bunda Maria yang telah dilakukannnya sejak kecil terus dilakukannya hingga menjadikan hidupnya suci. Kesuciannya ternyata dari banyak mukjizat yang terjadi pada setiap orang yang berdoa dengan perantaraanya. Gabriel menjadi seorang tokoh panutan para kaum muda.

Santo Leander, Uskup

Leander yang menjabat sebagai Uskup Sevilla, Spanyol ini adalah kakak Santo Isodorus. Adik  adiknya Santa Florentina dan Fulgentius dinyatakan sebagai kudus juga oleh Gereja. Dengan kesalehan hidupnya dan pengaruhnya yang besar, uskup Leander berhasil menghantar kembali Raja Harmenegild dan Rekkared berserta seluruh bangsawan Wisigoth ke dalam pangkuan Gereja Katolik.

Leander yang lahir pada tahun 540 ini menghembuskan nafas penghabisan pada tahun 600 di Sevilla, Spanyol. Jabatannya sebagai Uskup diambil alih oleh adiknya Santo Isodorus.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini