JAKARTA, Pena Katolik – Sekolah Katolik kini telah menjadi lembaga pendidikan yang mapan dan hadir hampir di setiap negara di dunia. Banyak di antaranya telah berdiri ratusan tahun, bahkan ada yang mengklaim berusia lebih dari seribu tahun. Apa sekolah Katolik yang pertama didirikan?
Ensiklopedia Katolik mencatat bahwa sekolah katekese mulai berkembang sekitar pertengahan abad ke-2. Sekolah-sekolah ini lahir dari perjumpaan antara iman Kristen dengan filsafat pagan. Perpduan ini menjadi semacam akademi pendidikan tinggi.
Sejak awal, ada sekolah episkopal yang melekat pada rumah para uskup untuk melatih para klerus. Sekolah semacam ini ada di Edessa sekitar tahun 180. Di sekolah katekese ini bahkan mengajarkan cabang ilmu dasar selain teologi.
Pada Konsili Vaison tahun 529, para imam di Gaul diperintahkan untuk menerima anak-anak di rumah mereka dan mengajarkan Mazmur, Kitab Suci, serta Hukum Allah. Dari situ kemudian, berkembang pula sekolah monastik yang banyak dipimpin oleh Ordo Benediktin.
Awal Universitas Katolik
Universitas Katolik pertama yang berdiri adalah Universitas Bologna (1088) dan Universitas Paris (1150). Dari lembaga-lembaga ini, banyak sekolah Katolik lain berkembang dengan meniru model mereka.
Seiring waktu, sekolah Katolik semakin terinstitusionalisasi. Namun, perlu diingat bahwa Yesus adalah sumber sejati dari segala pendidikan Katolik. Jika ingin memahami makna sekolah Katolik, kita perlu duduk di kaki-Nya dan belajar dari teladan-Nya.
Maka, menjawab pertanyaan sekolah Katolik pertama juga bergantung pada bagaimana kita mendefinisikan kata “sekolah”. Sekolah adalah “organisasi yang menyediakan pengajaran”. Maka dengan definisi ini, dapat dikatakan bahwa Yesus sendiri adalah pendiri sekolah Katolik pertama. Ia mengumpulkan para murid dan mengajarkan kepada mereka pokok-pokok iman Katolik. Yesus adalah guru, sementara para murid adalah siswa. Bahkan, para murid menyebut-Nya “Guru yang baik” (Luk 18:18-20), dan sering bertanya tentang inti iman yang Ia ajarkan.
Setelah wafat dan kebangkitan Yesus, para rasul melanjutkan perintah-Nya: “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Mat 28:19). Mereka mengorganisasi kelompok-kelompok untuk tujuan pengajaran, terutama karena pada masa itu banyak sekolah pagan yang berkembang.
