Puji Tuhan, setelah hampir tiga tahun menanti, akhirnya saya dapat mengikuti kegiatan Dominikan Awam secara lebih penuh. Penantian panjang itu terasa seperti sebuah masa persiapan batin, hingga pada tanggal 23 November 2025, saya diberi kesempatan untuk naik jenjang dalam perjalanan sebagai anggota Chapter Martinus de Porres.
Sebelum hari itu tiba, ada rekoleksi yang diadakan sekitar sebulan sebelumnya. Rekoleksi itu menjadi ruang hening untuk menata hati, menyadari panggilan, dan meneguhkan kembali niat. Lalu, pada hari kenaikan jenjang, saya bersama saudara-saudari lain mengikuti sesi wawancara sebelum perayaan Ekaristi dimulai. Semua rangkaian itu akhirnya bermuara pada momen yang paling mendalam: pengucapan janji Dominikan.
Saat Mengucapkan Janji
Ketika janji itu keluar dari mulut saya, terasa berat konsekuensinya. Janji itu bukan sekadar kata-kata, melainkan ketaatan yang harus dijalankan di hadapan Tuhan, Romo Presiden Chapter, dan saudara-saudari seordo. Saya sadar, hidup doa dan perjalanan hidup saya akan diperhatikan orang lain. Maka, setiap tingkah laku harus sungguh mencerminkan seorang Dominikan, meski tanpa perlu mengumumkan identitas tersebut.
Janji itu mengikat saya untuk meneladani Santo Dominikus: hidup sederhana, berakar dalam doa, dan setia pada pelayanan. Saya merasakan bahwa sejak saat itu, hidup saya bukan lagi milik saya sendiri, melainkan bagian dari kesaksian bersama keluarga Dominikan.
Dalam perjalanan ini, tiga moto keluarga Dominikan menjadi arah yang jelas: Memuji, memberkati, mewartakan; berkontemplasi dan membagikan buah kontemplasi. Dan menghidupi kebenaran secara terus-menerus.
Ketiganya bukan hanya semboyan, melainkan jalan hidup yang harus saya pelajari dan jalankan sampai akhir. Moto itu menuntun saya untuk tidak berhenti pada doa pribadi, tetapi membagikan buah doa kepada sesama; tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi menghidupi kebenaran dalam keseharian.
Hari kenaikan jenjang itu bukan sekadar seremoni, melainkan awal dari perjalanan baru. Saya diajak untuk semakin serius menapaki jalan doa, studi, dan pelayanan. Dengan janji yang diucapkan, saya ingin terus belajar, bertekun, dan menghidupi kebenaran. Seperti batu-batu yang membentuk bangunan Gereja, setiap langkah kecil dalam hidup Dominikan Awam menjadi bagian dari kesaksian besar: memuji, memberkati, dan mewartakan Sabda yang hidup. (Paulus Wijanto Santoso, OP)
