LUBUK PAKAM, Pena Katolik – Gereja Katolik Keuskupan Agung Medan (KAM) kembali mendapat tambahan tenaga pastoral baru. Uskup Agung Medan, Mgr. Kornelius Sipayung, OFMCap., menahbiskan enam diakon menjadi Imam Diosesan (Projo) dalam Perayaan Ekaristi yang berlangsung khidmat di Gereja Paroki Gembala Yang Baik, Lubuk Pakam, Deli Serdang, Sabtu (20/12).
Keenam imam baru yang menerima tahbisan suci tersebut adalah: Pastor Chrystian Loudry Malau; Pastor Karyanto W.Y. Simangunsong; Romo Reza Vanianta Ginting; Pastor Sandarut Paulus Tambunan; Pastor Sumardiono Sihombing; dan Pastor Imanuel Purba.
Mgr. Kornelius didampingi Vikaris Jenderal KAM RP. Michael Manurung OFMCap, Vikaris Pro Clericis RD. Josep Parasian Gultom, Pastor Paroki Lubuk Pakam RD. Sudi Monang Sinaga, Vikep Katedral & Hayam Wuruk Medan RD. Sampang Tumanggor, serta Ketua Unio KAM RD. Bernardus Sijabat.
Sekitar 100 imam, baik diosesan maupun religius, turut hadir memberikan penumpangan tangan dan doa restu. Ribuan umat, termasuk keluarga, biarawan-biarawati, dan tamu undangan memadati gereja untuk menyaksikan peristiwa iman yang penuh sukacita ini.
Dalam homilinya, Mgr. Kornelius menegaskan bahwa tahbisan adalah bukti kesetiaan Allah yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Namun, ia mengingatkan bahwa inti terdalam dari imamat bukanlah jabatan atau kehormatan, melainkan cinta yang rela menyerahkan diri.
“Mencintai umat lebih dari mencintai diri sendiri pada zaman ini berarti memilih hadir di tengah umat daripada memilih nyaman. Meluangkan waktu untuk mendengarkan umat meski sudah lelah, membuka pintu bagi yang datang kendati tidak ada janji,” tegasnya.
Uskup Agung menekankan pentingnya keseimbangan antara hidup batin yang kuat dan pelayanan pastoral yang membumi. “Tanpa doa, pelayanan akan menjadi kering. Sebaliknya, tanpa kedekatan dengan umat, doa bisa menjadi steril,” tambahnya.
“Ketika umat diperlakukan sebagai objek, bukan sebagai saudara, inilah klerikalisme. Imam yang mengejar kenyamanan, mencari status, atau hanya bekerja jika ada kepentingan seperti buruh upahan, itu adalah klerikalisme,” ujarnya.
