BOGOR, Pena Katolik – Langit Bogor yang teduh dan udara sejuk pegunungan menyambut ratusan anggota Keluarga Dominikan Awam Indonesia dari berbagai daerah — Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Pontianak, serta perwakilan komunitas dari Cirebon, Purwokerto, dan Makassar dari seluruh Indonesia. Selama tiga hari, 3–5 Oktober 2025, mereka berkumpul di Wisma Kinasih, Bogor, mengikuti Retret Nasional dan Dominican Family Gathering 2025 bertema “Membangun Rumah Persaudaraan – Jangan Padamkan Terangmu.”
Sejak awal, retret ini bukan sekadar agenda tiga tahunan, melainkan sebuah ziarah rohani keluarga besar Dominikan Indonesia, tempat hati-hati yang lama berjalan sendiri kini disatukan kembali dalam doa, refleksi, dan kasih persaudaraan.
Acara resmi dibuka oleh Ibu Ratna Suwarna, Presiden Persaudaraan Dominikan Awam Indonesia, dan Bapak Winarno Broto, Presiden Chapter Santa Katarina Siena Jakarta. Dalam sambutannya, Ibu Ratna menegaskan bahwa retret ini adalah panggilan untuk menyalakan kembali semangat Dominikan awam sebagai pembawa terang dan pewarta kebenaran di tengah dunia. Bapak Winarno menambahkan dengan harapan yang meneduhkan, “Semoga retret ini menjadi api yang menyalakan semangat baru dalam pelayanan dan persaudaraan kita.” Sementara Bro Veni Calix selaku ketua panitia pelaksana juga dengan penuh semangat menginformasikan bahwa tahun 2025 adalah tahun penuh berkat bagi keluarga besar Dominikan karena perayaan 800 tahun St Thomas Aquinas serta kanonisasi 2 Dominikan Awam untuk gelar Santo : Pier Giorgio Frassati dan Bartolo Longo de Rosario.
Sesi pertama dibawakan oleh Romo Andre, O.P., moderator nasional Dominikan Awam Indonesia. Dengan keheningan yang penuh daya, beliau membuka dengan refleksi: “Santo Dominikus memulai Ordo bukan dengan kekuasaan, melainkan dengan air mata. Ia menangis karena dunia kehilangan kebenaran, dan dari air mata itulah lahir cahaya yang menuntun manusia kembali kepada Allah.”
Suasana hening seketika. Kata-kata itu menggema dalam hati setiap peserta — mengingatkan bahwa menjaga terang berarti juga berani menangis bersama dunia yang menderita, dan tetap memilih untuk mengasihi.

Malam pertama diisi dengan prosesi Rosario dan perarakan Bunda Maria. Di bawah langit Kinasih yang temaram, peserta berjalan perlahan sambil membawa lilin, melantunkan Ave Maria diiringi hembusan angin malam. Wajah-wajah mereka disinari oleh cahaya kecil, simbol perjalanan iman yang dituntun oleh Bunda Maria menuju Sang Terang sejati. Prosesi ini menjadi pengalaman yang menggugah: langkah-langkah pelan dalam gelap malam menjadi doa hidup tentang pengharapan.
𝓜𝓮𝓻𝓮𝓴𝓪 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓼𝓾𝓭𝓪𝓱 𝓼𝓾𝓵𝓲𝓽 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓪𝓵𝓪𝓷, 𝓶𝓮𝓷𝓰𝓲𝓻𝓲𝓷𝓰𝓲 𝓹𝓮𝓻𝓪𝓻𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓲𝓷𝓲 𝓭𝓮𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓫𝓮𝓻𝓭𝓸𝓪 𝓡𝓸𝓼𝓪𝓻𝓲𝓸 𝓭𝓲 𝓭𝓮𝓹𝓪𝓷 𝓡𝓮𝓵𝓲𝓴 𝓢𝓽. 𝓟𝓲𝓮𝓻 𝓖𝓲𝓸𝓻𝓰𝓲𝓸 𝓕𝓻𝓪𝓼𝓼𝓪𝓽𝓲 𝓭𝓪𝓷 𝓑𝓮𝓪𝓽𝓸 𝓑𝓪𝓻𝓽𝓸𝓵𝓸 𝓛𝓸𝓷𝓰𝓸 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓳𝓾𝓰𝓪 𝓶𝓮𝓷𝓮𝓶𝓪𝓷𝓲 𝓹𝓮𝓻𝓳𝓪𝓵𝓪𝓷𝓪𝓷 𝓡𝓮𝓽𝓻𝓮𝓽 & 𝓰𝓪𝓽𝓱𝓮𝓻𝓲𝓷𝓰 𝓼𝓮𝓵𝓪𝓶𝓪 3 𝓱𝓪𝓻𝓲 𝓲𝓷𝓲.
Hari kedua dimulai dengan doa Laudes dan Misa kudus yang dipimpin oleh Romo Andre, O.P., lalu dilanjutkan dengan refleksi dari Ibu Susan Santoso, seorang katekis dan pengajar TOBIT (Theology of Body InsighT), serta pecinta Santo Thomas Aquinas.
Dalam sesinya bertajuk “Restless Hearts, Pilgrims of Hope: Living the Dominican Way in the Jubilee Year” (Hati yang Gelisah, Peziarah Pengharapan), Susan mengajak peserta merenungkan kegelisahan manusia sebagai rahmat. “Kita semua adalah peziarah di dunia ini,” katanya, “dan di lubuk hati kita ada kerinduan yang tak akan pernah dipuaskan oleh dunia. Kegelisahan itu adalah tanda bahwa kita diciptakan oleh Allah dan untuk Allah.” Mengutip Santo Agustinus, “Our hearts are restless until they rest in You, O Lord,” ia menegaskan bahwa kegelisahan adalah bagian dari ziarah menuju kasih sejati.
Menjelang siang, Romo Adi Prasojo, Pr., melanjutkan acara dengan memperdalam semangat sinodal bagi para Dominikan dalam refleksinya yang bertema “Mencari Kebenaran Bersama: Jalan Sinodal Keluarga Dominikan.” Beliau menegaskan bahwa Veritas tidak pernah ditemukan sendirian: “Sinodalitas berarti berjalan bersama, saling mendengarkan, dan saling meneguhkan. Dalam kebersamaan, kebenaran tumbuh dan kasih menjadi nyata.”
Malam harinya, aula Kinasih berubah menjadi ruang penuh warna dan tawa dalam Malam Komunio dan Kebersamaan bertema “Satu Iman, Banyak Warna, Satu Harapan.”
Setiap chapter mempersembahkan penampilan dengan sukacita — Santa Katarina Siena Jakarta, Santo Tomas Jakarta, Rosa de Lima Surabaya, Yogyakarta, dan Pontianak. Lagu, doa, dan drama menjadi wujud nyata dari komunitas yang bersatu dalam kasih.
“Keluarga Dominikan seperti mozaik,” ujar seorang peserta, “berbeda warna, tapi membentuk satu gambar indah tentang pengharapan.” Malam itu berakhir dengan tawa, doa, dan rasa syukur — seolah setiap hati kembali diingatkan bahwa sukacita adalah wajah dari kasih yang hidup.
Hari ketiga dimulai dalam keheningan dan refleksi pribadi. Para peserta diajak untuk berdiam sejenak, menatap ke dalam diri, dan menuliskan hal-hal yang paling menyentuh hati selama retret. Dalam keheningan itu, banyak yang menitikkan air mata — bukan karena sedih, tetapi karena menemukan kembali makna sederhana dari persaudaraan dan panggilan mereka sebagai Dominikan awam.
Setelah refleksi pribadi, suasana beralih menjadi rekonsiliasi komunitas. Setiap kelompok duduk bersama, saling berbicara dengan jujur dan hangat, membuka hati untuk mendengar dan menerima satu sama lain. Ada pengakuan, ada maaf, dan ada keputusan baru untuk memulai kembali.
Menjelang siang, dua sesi terakhir dibawakan oleh Suster Elisabeth, O.P., dengan tema “Jangan Padamkan Terangmu! Dominikan Awam di Tengah Derasnya Dunia” dan “Pulang Membawa Terang: Aku Peziarah, Aku Dominikan, Aku Harapan Dunia.”
Sesi dimulai dengan sharing dari Suster Elisabeth, OP bersama Suster Rosemary, OP mengenai mengenai bagaimana mereka serta komunitas para Suster OP di Indonesia menghidupi pilar hidup komunitas. Penuh dengan canda tawa karena tidak setiap orang adalah sama, Dominikan adalah keluarga yang penuh warna. Tentunya karena penuh warna, maka setiap orang juga perlu berani memberikan dirinya bagi sesama saudara, termasuk memberikan atau membuka hatinya yang disimbolkan dengan secarik kertas hati berwarna merah agar dapat saling memaafkan, saling mengerti di dalam hidup berkomunitas sehingga terang setiap orang dapat menyala dan terus bertumbuh di dalam terang kasih Kristus.
Dengan kelembutan dan kebijaksanaan, beliau menegaskan: “Terang Kristus tidak akan padam bila dijaga dengan doa dan kasih. Dominikan tidak hanya berbicara tentang terang, tetapi menjadi terang itu sendiri.”
Di sesi berikutnya, Suster Elisabeth, OP juga mengamati bahwa keluarga besar Dominikan Awam terus bertumbuh dari waktu ke waktu semenjak perjumpaan beliau di sekitar tahun 2010. Di tengah percakapan itu, lahir kesadaran bersama: Rumah Persaudaraan Dominikan ini harus dibangun kembali, bukan hanya dengan doa, tetapi juga dengan tindakan nyata, sebuah Dominican Center untuk keluarga besar Dominikan.
Maka, dari hati yang tersentuh, muncul niat-niat sederhana namun tulus: ada yang menawarkan waktu dan tenaga, ada yang ingin membantu dengan keahlian atau relasi, ada yang berniat mendukung secara materi, dan ada pula yang menulis bahwa doa hariannya akan dipersembahkan untuk pembangunan rumah bersama ini. Setiap kata yang ditulis menjadi seperti batu kecil yang disusun satu demi satu — tanda bahwa rumah ini sungguh akan berdiri bukan di atas semen dan batu, melainkan di atas cinta dan kesediaan untuk melayani.
Di pertengahan acara, Bapak Pramono, seorang dominikan awam yang telah melanglang buana di berbagai negara melalui pewartaan karya lukisnya, ada menyumbangkan lukisan Santo Dominikus dan Santa Rosa De Lima yang telah dibuatnya selama 9 bulan terakhir di studio rumahnya. Bapak Sugianto serta Ibu Niken kemudian turut berpartisipasi dalam memenangkan lelang karya lukis tersebut.
Di bagian penutup Retret Nasional dan Family Gathering Dominikan Awam, Panitia yang diwakili oleh Bapak Theo Atmadi, Ibu Ratna Suwarna, Bapak Winarno Broto bersama dengan Suster Rosemary, OP yang mewakili dewan juri, mengumumkan berbagai Chapter Pemenang di dalam kegiatan Booth Chapter dan juga Chapter Performance Night serta membagikan berbagai hadiah sebagai ungkapan terima kasih kepada para peserta yang begitu semangat selama kegiatan.
Doa penutup dibawakan oleh Veni Calix selaku ketua panitia yang dalam suasana syukur dan damai, berdoa agar setiap peserta kembali ke rumah dan komunitasnya dengan hati yang diperbarui. “Pergilah dengan damai. Biarlah terangmu tidak padam oleh arus dunia, tetapi tetap bernyala oleh kasih Kristus,” ujarnya lembut.
Setelah ibadat, panitia dengan penuh perhatian mengatur keberangkatan peserta. Mobil-mobil mulai bergerak meninggalkan Wisma Kinasih, membawa hati yang ringan dan wajah-wajah berseri. Di antara pelukan dan tawa, terpatri satu keyakinan bersama: Rumah Persaudaraan Dominikan kini bukan lagi sekadar rencana, tetapi sudah mulai dibangun — di hati setiap peziarah pengharapan.
Mereka datang membawa kecintaan akan keluarga Dominikan, dan kini pulang membawa terang — terang yang lahir dari doa, kerja, dan cinta yang nyata. (Penulis: Veni, OP, Christine,OP, dan Theo,OP)