ROMA, Pena Katolik – Vatikan tak henti menyerukan perdamaian dan terus menjalin komunikasi dengan Amerika Serikat guna mencari solusi manusiawi atas konflik berkepanjangan di Gaza. Hal Sekretaris Negara Vatikan, Kardinal Pietro Parolin menyampaikan Langkah Vatikan ini di sela-sela perayaan pesta Santa Monika di Gereja Sant’Agostino, Roma, 27 Agustus 2025.
Kardinal Parolin menyayangkan dominasi kepentingan politik dan ekonomi yang menurutnya menjadi penghalang utama penyelesaian konflik. Ia menyinggung soal kepentingan individu dan kelompok yang berorientasi pada kekuasaan dan hegemoni, namun tidak menyebut pihak secara spesifik.
“Ada solusi nyata untuk mengakhiri tragedi ini, namun kepentingan politik, ekonomi, dan kekuasaan membuat semuanya menjadi buntu,” ujar Parolin dengan nada prihatin.
Sebagai orang nomor dua di Vatikan, Kardinal Parolin menegaskan bahwa Tahta Suci tetap berkomitmen untuk terus mendorong perdamaian dan telah aktif berkomunikasi dengan pemerintahan AS, terutama melalui Kedutaan Besar AS untuk Tahta Suci. Ia menyoroti rencana Israel untuk mengevakuasi penduduk dari Gaza Utara. Ia menyebut langkah tersebut sebagai bentuk pemaksaan yang tidak manusiawi, dan berharap pemerintah Israel membatalkan rencana tersebut.
“Kami menerima kabar bahwa umat Ortodoks setempat telah diperintahkan untuk meninggalkan kota. Ini sangat memprihatinkan,” katanya.
Dalam nada yang sama dengan Paus Leo XIV pada audiensi umum hari itu, Kardinal Parolin memuji keberanian komunitas Kristen yang tetap memilih bertahan di tengah situasi yang sangat sulit. Ia menyebut keputusan itu sebagai “pilihan yang berani”, mengingat kondisi wilayah yang kini nyaris sepenuhnya berada di bawah kontrol militer.
Sebelumnya, dalam pernyataan bersama, Patriarkat Latin dan Patriarkat Ortodoks Yunani di Yerusalem menyatakan bahwa para imam dan biarawati dari Kompleks Ortodoks St. Porphyry dan Kompleks Katolik Keluarga Kudus tidak akan meninggalkan Gaza.
Pernyataan itu juga menyoroti kondisi pengungsi yang banyak terdiri dari lansia dan penyandang disabilitas, serta kelaparan yang semakin parah. Para pemimpin gereja menegaskan bahwa memindahkan mereka ke tempat lain bukanlah solusi, melainkan justru bisa menjadi “vonis mati.”
“Setiap orang berhak memutuskan sendiri langkah yang akan diambil,” tutup Kardinal Parolin, menegaskan bahwa Gereja menghormati pilihan setiap individu untuk tetap tinggal atau mengungsi.