Jumat, Juli 19, 2024
26.2 C
Jakarta

Gereja Siro-Malabar di India untuk Sementara Berhasil Menghindari Perpecahan

SIRO MALABAR, Pena Katolik – Kemungkinan perpecahan berhasil dihindari di Gereja Siro-Malabar, sebagai akibat dari perselisihan liturgi. Sebuah ritus kuno dalam Gereja Siro-Malabar selama ini telah menjadi pusat perselisihan hingga memaksa Vatikan melakukan intervensi. Ritus ini berkembang di lebih dari 30 keuskupan.

Setelah perselisihan ini terjadi dalam waktu lama, Uskup Agung Mayor, Mar Raphael Thattil dan Sinode Gereja Siro Malabar telah mencapai kompromi dengan para pihak yang berseberangan.

“Perselisihan mengenai liturgi untuk sementara telah diselesaikan,” kata Kuriakose Mundadan, Sekretaris Dewan Presbiteral, Keuskupan Agung Ernakulam-Angamaly, kepada AsiaNews.

Asal usul perselisihan

Persesilihan atau bisa dibilang ketidaksepakatan ini berakar pada seruan Konsili Vatikan II agar Gereja-Gereja Timur kembali ke bentuk yang lebih dekat dengan tradisi kuno mereka. Konsili menyerukan untuk membatalkan adaptasi yang sudah berabad-abad lamanya, dan membawa mereka lebih dekat ke Ritus Latin.

Konsili Vatikan II menyerukan para imam yang merayakan Misa menghadap umat beriman sepanjang liturgi. Penolakan terhadap perubahan ini, terutama terjadi di Eparki Ernakulam-Angamaly (eparki adalah sebuah wilayah pastoral setara dengan keuskupan). Sinode Gereja Siro-Malabar pada tahun 1999 memutuskan untuk mengadopsi rubrik liturgi yang mengharuskan pemimpin menghadap jemaat selama bagian liturgi dan menghadap altar dengan membelakangi umat pada bagian lain.

Namun, banyak imam dan umat Eparki Ernakulam-Angamaly terus menolak karena telah merasa cocok dengan kebiasaan selama ini.

Konflik menjadi semakin parah dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada Natal tahun 2023. Paus Fransiskus memperingatkan para imam yang “bandel” bahkan mengingatkan mereka yang menolak merayakan menggunakan liturgi yang disetujui Sinode pada tanggal 25 Desember 2023, maka mereka akan diekskomunikasi.

“Kamu taat, dan di mana ada ketaatan, di situ ada Gereja. Di mana ada ketidaktaatan, di situ ada perpecahan,” kata Paus Fransiskus ketika itu.

Pada Natal tahun lalu, para imam merayakan Misa, namun tidak semuanya setuju dengan cara liturgi yang disetujui Vatikan. Hal inilah yang menjadikan krisis terus berlanjut.

Sebuah kompromi

Baru-baru ini, Uskup Agung Mayor, Mar Thattil mengeluarkan ultimatum pada 3 Juli 2024. Ia menuntut kepatuhan terhadap keputusan liturgi Sinode yang selaras dengan arahan Vatikan. Selanjutnya pada 1 Juli 2024, Sinode mencapai kompromi.

Selanjutnya, setiap gereja, mulai dari tanggal sasaran ultimatum tersebut, merayakan satu Misa sinode setiap hari Minggu dan hari raya. Mar Thattil juga setuju, bahwa perubahan lebih lanjut hanya akan dilakukan setelah berkonsultasi dengan Badan Kanonik Keuskupan Agung Ernakulam-Angamaly.

Perjanjian ini juga membebaskan penundaan penahbisan delapan diakon untuk menjadi imam di keuskupan, yang hingga saat ini ditunda karena perselisihan tersebut.

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini