Selasa, Juli 23, 2024
32.1 C
Jakarta

Gereja Harus Ingat, bahwa Selibat Klerikal adalah Anugerah dari Tuhan

PONTIANAK, Pena Katolik – Ada banyak sudut pandang untuk menganalisis selibat klerus saat ini. Sering terdengar seruan untuk mendiskusikan lagi, bahkan mengakhiri praktik hidup selibat tersebut. Namun, pada uraian ini akan fokus pada dua hal: sejarahnya dan refleksi.

Gereja Katolik terkadang mengingat aspek-aspek tradisinya yang sudah tidak digunakan lagi,  seperti ajarannya tentang panggilan universal menuju kekudusan dan kebebasan beragama. Dua hal ini dipulihkan dan disempurnakan pada Konsili Vatikan II. Kemudian ada pertanyaan, apakah Gereja pernah memiliki “seorang imam yang menikah”? Kalau ada, apakah dapat hal itu terjadi lagi saat ini?

Kardinal Alfons Maria Stickler pernah menulis buku yang kemudian menjadi karya klasik, The Case for Clerical Celibacy. Buku ini baru-baru diterbitkan ulang. Di sana, Kardinal Stickler menunjukkan sumber pertama mengenai para imam Katolik yang menikah setelah pentahbisan yaitu pada Konsili Trullo II tahun 692 M, sebuah konsili lokal di Konstantinopel. Konsili ini tidak pernah diakui oleh Roma. Satu langkah kontroversial: kanon ketigabelas dari konsili ini dengan sengaja salah mengutip konsili sebelumnya di Kartago untuk membalikkan tradisi sebelumnya.

Sejak saat itu, para imam Katolik di Timur diizinkan hidup sebagai suami dari istri. Saat itu, imam Gereja Latin tetap mempertahankan selibat, yang telah menjadi kebiasaan universal. Singkatnya, praktik imam Katolik yang “menikah” ini bukanlah tradisi yang berasal dari para rasul yang pernah hilang dalam sejarah. Tradisi imam yang menikah ini dimulai lebih dari enam abad setelah Masehi.

Selibat sebagai Anugerah

Lalu, apa yang bisa diajarkan sejarah tentang selibat para imam, selain bahwa selibat telah ditinggalkan di Gereja Timur sejak tahun 692 M?

Teks-teks awal, seperti De singularitate clericorum ‘Tentang hidup para imam’ menggambarkan selibat klerikal bukan sekadar disiplin yang dipaksakan dari luar. Cara hidup ini dipahami dan dihayati sebagai anugerah Tuhan yang diterima di dalam, artinya dari kesadaran pribadi imam itu. Teks ini berasal dari abad ketiga masehi, yang secara salah dikaitkan dengan St. Cyprianus. Namun, teks ini adalah indikasi situasi Gereja pada masa itu.

Menghayati hidup imamat, seseorang akan menyadari bahwa selibat imam, ini merupakan sebuah anugerah yang diberikan Allah ke dalam hati seorang imam, bukan sekadar kewajiban kanonik, yang diterapkan secara eksternal. Seseorang yang berpikir untuk menjadi seorang imam, ini merupakan pengorbanan yang perlu untuk bias ditahbiskan. Namun semakin banyak referensi justru menunjukkan bahwa panggilan selibat adalag anugerah yang positif. Hal ini terutama dijelaskan dalam Teologi Tubuh karya Santo Yohanes Paulus II. Seperti sabda Yesus, pernikahan tidak ada di Surga, seperti yang Yesus sendiri katakan (Matius 22:30). Maka, selibat di bumi dapat berarti memulai menjalani apa yang akan dialami di surga: cinta terbesar yang bisa dibayangkan.

Hal ini sangat berkaitan dengan imamat: sama seperti Yesus hidup selibat untuk mencintai setiap orang masing-masing secara mendalam sebagai anak-anak rohani-Nya, demikian pula imam mengambil bagian dalam kasih kebapakan Kristus bagi setiap orang yang dipercayakan kepadanya. Semua naluri kebapakan seorang imam tidak disangkal oleh selibatnya, namun diubah menjadi jenis kebapakan yang berbeda; sudah sepantasnya kita menyebut pendeta dengan sebutan “bapak”.

Kebahagiaan Besar

Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar sebagai seorang imam, selain melihat orang-orang bertumbuh dalam rahmat, dan membantu mereka bertumbuh dengan mempersembahkan Sabda Allah dan Sakramen-sakramen. Karunia selibat imam ini tidak dapat dibuat oleh imam sendiri, melainkan hanya dapat diterima. Untuk menyambut karunia menjadi bapa rohani ini, imam pertama-tama harus menjadi seorang putra dan saudara rohani: seorang putra Allah melalui doanya, seorang putra uskup melalui ketaatannya; saudara dari rekan-rekan imamnya melalui persahabatannya dengan mereka.

Namun tanpa doa; tanpa kesetiaan kepada uskupnya dan tanpa persahabatan para imam, selibat hanya akan menjadi sebuah beban dan bukannya sebuah kebahagiaan yang memilukan. Di masa lalu, terdapat banyak imam yang menerima selibat secara lahiriah, namun tanpa transformasi batin yang diinginkan Kristus bagi mereka, dan hal ini telah menimbulkan berbagai macam masalah.

Jawaban atas permasalahan ini adalah dengan memperbarui rasa syukur atas anugerah selibat imam dengan menerimanya secara autentik sebagaimana adanya, hak istimewa untuk ikut serta dalam kasih kebapakan Yesus kepada anak-anak-Nya. Salah satu orang suci yang dapat membantu kita melakukan hal ini adalah orang yang, secara manusiawi, membentuk kebajikan kebapakan Yesus: St Yosef. (AES)

Komentar

Tinggalkan Pesan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Terhubung ke Media Sosial Kami

45,030FansSuka
0PengikutMengikuti
75PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Terkini