Asisten Imam di Gereja Redemptor Mundi, Raih Doktor Ilmu Sosial Politik

0
206
Theodorus Warma dan istri. IST

“Memang Tuhan sangat baik, sangat luar biasa.Tuhan  selalu memberikan berkat yang melimpah, serta bimbingan terus menerus kepada saya dimana setelah saya pensiun dari militer, saya dituntun untuk belajar dan belajar. Itulah karya Roh Kudus. Pengalaman saya dalam hal belajar di perguruan tinggi, menjadi bukti bagi saya kalau Tuhan terlalu baik. Selama saya kuliah di perguruan tinggi, tidak ada yang mengarahkan saya dan itu semua tumbuh dari dalam dan itulah karya Roh Kudus.”

Petikan kalimat diatas meluncur dari bibir seorang Theodorus Warman, asisiten imam/prodiakon dan aktivis di Gereja Katolik Redemptor Mundi, Surabaya, awal J Januari lalu di Surabaya. Warman –begitu dia disapa— menceritakan panjang lebar, bagaimana perjalanan hidupnya menekuni bangku kuluiah satu universitas ke universitas lainnya.

Setelah pensiun dari militer tahun 2004, saya mengikuti Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP), di Gereja Redemptor Mundi (RM). Saya tergerak dan tertarik tanpa ada yang mengajak. “Itu berarti Roh Kudus yang bekerja. Tahun 2004-2007 saya menyelesaikan kursus , kemudian saya lanjut kuliah theologi, waktu itu saya sudah aktif di pengurus wilayah dan menjadi ketua Wilayah V. Selesai saya belajar theologi, saya melanjutkan kuliah di Malang di STP (Sekolah Tinggin Pastoral) IPI Malang,” kata Theodorus Warman.

Warman masih ingat, ketika kuliah di STP IPI Malang, dia berbaur dengan teman-teman sekelasnya dari kalangan guru-guru. Kuliah di STP IPI kampusnya di Paroki Salib Suci Surabaya. Dosennya yang datang mengajar di Surabaya. Tahun 2014, Warman menyelesaikan studi di IPI dan ikut wisuda di IPI Malang. Setelah mengambil gelar S2 di STP IPI, Warman melanjutkan kuliah di Sekolah Tinggi Ekonomi Mahardika Surabaya tahun 2018-2020 dan meraih gelar S2 (Magister Management).  Setelah meraih gelar MM, Warman menanyakan kepada Kaprodi (Ketua Program Studi), apakah dia bisa melanjutkan ke program S3? Warman pun melanjutkan ke S3 (program doktor ) di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Akhirnya ayah dua anak ini (Antonius Aditya Wardhana dan Fransisca Ima Kusuma Wardhani) melanjutkan ke program doktor di Untag 45 Surabaya di Sosial Politik. Dulu sebelum Warman meraih gelar sarjana agama, dia sudah mendapat gelar sarjana S1 di Universitas Terbuka (UT) sarjana Sosial Politik dengan gelar SIP. Dengan gelar tersebut menjadi pintu masuk  bagi Warman melanjutkan ke S3. Namun dalam perjalanan, dunia dihantam badai pandemi, Covid-19, perjalanan kuliah di program S3 agak kacau tapi tetap berjalan walau lewat online. Sebagai seorang  asisten imam (AI), pria kelahiran Jogjakarta 21 Mei 1946 juga merangkap pengurus DPP Seksi Keamanan di Paroki Redemptor Mundi, tidak membuat Warman mundur dari perkuliahan. Malah Warman bisa membagi waktu dengan baik. Dia pun sering mengikuti rapat atau pertemuan-pertemuan di Gereja.

Berkat ketekunan dan doa kepada Tuhan Yesus, Allah Tritunggal Mahakudus, bos PT Mawar Sejahtera ini bisa menyelesaikan tugas-tugasnya di S3 dengan baik. Pada 21 Desember 2023, Theodorus Warman akhirnya berhasil mempertahankan distertasinya di depan dewan penguji dan meraih gelar Doktor Bidang Sosial Politik. Kini namanya dilengkapi embel-embel gelar: Kolonel Marinir (Purn) DR Theodorus Warman, S.IP, S.Ag, MM. Dari angkatannya sebanyak 18 orang, 5 diantaranya sudah meraih gelar doktor.

Didukung istri dan anak-anak

Rasanya jarang kita temukan seorang yang telah berusia kakek-kakek 75-78 tahun masih ingin meraih gelar sarjana dan doktor. Berbeda dengan doktor yang satu ini. Kakek dari 4 cucu ini sangat bersemangat belajar dan belajar. Meskipun telah meraih gelar sarjana, dia tetap ingin belajar lagi pada disiplin ilmu lainnya. Apakah istri dan anak anda mendukung, kuliah dan kuliah terus? “Ya istri dan anak-anak saya mendukung penuh. Istri saya malah termotivasi setelah melihat saya terus kuliah, sekarang istri saya mau selesai sarjana S1,” kata suami dari Anna Tri Prasetyowati ini bersemangat. Menurut  Warman, belajar tidak akan habisnya, banyak yang terus digali, tergantung mau atau tidak, niat atau tidak.

Baginya ada hal positif saat terus  kuliah, adalah mendapat banyak teman, atau kawan. Setelah meraih gelar doktor, Warman diterima menjadi dosen Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya dan memegang mata kuliah Pancasila (Mata Kuliah Dasar Umum). Selain itu juga mengajar di Politeksnik Ubaya mengajar mata kuliah Leadership. Kepada para gererasi muda bangsa dan generasi muda Katolik, Warman berpesaan bahwa tujuan utama pendidikan adalah untuk mengasah kemampuan berpikir kritis juga menggali ilmu perngetahuan lebih banyak di sekitar kita. (Herman Yos Kiwanuka)

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here