Situs Ziarah Kristiani Tetap Aman, di Tengah Perang Israel-Hamas

0
693
Basilika Kelahiran Yesus di Bethlehem, Palestina sebelum perang.

YERUSALEM, Pena Katolik – Perang Israel melawan Hamas, yang dimulai ketika kelompok tersebut melancarkan serangan mendadak ke Israel pada 7 Oktober 2023. Selanjutnya, perang terus berlangsung sepanjang Oktober dan November, sebelum gencatan senjata dimulai minggu ini dan masih perpanjangan. Meski begitu, pertempuran diperkirakan akan berlanjut.

Jumlah korban jiwa dalam perang ini sangatlah besar. Hari serangan Hamas adalah hari paling mematikan bagi Israel, sejak Israel menjadi sebuah negara. Selain itu, pertempuran tersebut telah menyebabkan ribuan korban jiwa dari kedua belah pihak, dan kerusakan fisik yang sangat besar, terutama di Gaza. Analisis citra satelit New York Times baru-baru ini menemukan bahwa sekitar setengah dari seluruh bangunan di Jalur Gaza utara telah rusak.

Selama ini, umat ​​​​Kristiani di seluruh dunia telah mengunjungi Israel dan Palestina selama ratusan tahun. Mereka mencari perkenanan Tuhan saat mereka berjalan di tempat suci di mana Kristus dan tokoh-tokoh Alkitab lainnya berdiri. Banyak umat Kristiani khawatir, tempat suci yang telah dijaga selama berabad-abad sebagai tempat ziarah akan rusak, atau bahkan hancur di tengah kekacauan perang.

Dilaporkan, Hamas memiliki roket yang mampu menjangkau jarak 150 mil. Jarak ini bisa menjangkau semua tempat suci Kristiani yang ada di Palestina dan Israel, meski dengan akurasi terbatas. Secara teoritis, roket-roket ini dapat mencapai semua tempat suci di Yerusalem dan sekitarnya. Sejauh ini, sistem pertahanan rudal Iron Dome milik Israel mampu mencegat sebagian besar serangan roket dari Gaza. Serangan roket juga dilaporkan datang dari utara, diluncurkan oleh kelompok Hizbullah Lebanon yang didukung Iran, sekutu Hamas.

Situs Ziarah Terjaga Aman

Kastodia Fransiskan untuk Tanah Suci telah memelihara tempat-tempat suci Kristiani di wilayah tersebut selama lebih dari 800 tahun. Karya ini dimulai pada tahun 1342, ketika Paus Klemens VI memberikan mandat resmi kepada para Biarawan Fransiskan untuk menjadi penjaga tempat suci Gereja Katolik.

Saat ini, para Fransiskan merawat 65 situs Tanah Suci yang paling penting, termasuk Basilika Kelahiran Yesus di Betlehem, Taman Getsemani, dan Basilika Makam Suci di Yerusalem. Basilika yang terakhir disebutkan merupakan situs tradisional kematian dan kebangkitan Yesus. Situs-situs tersebut tersebar di Israel dan Palestina, sementara beberapa lainnya berlokasi di Suriah, Lebanon, Yordania, dan Mesir.

Pastor David Grenier OFM, adalah Komisariat Tanah Suci untuk Amerika Serikat. Ia bertugas mempromosikan situs-situs Tanah Suci kepada masyarakat AS. Ia mengatakan minggu ini bahwa tidak ada satupun situs yang dijaga Fransiskan terpengaruh atau rusak akibat perang ini. Situs-situs ini aman dari ancaman perang, aman dari bahaya seperti bom atau roket.

“Semua terjaa dengan baik. Sejauh ini, kami diberkati karena tidak ada ancaman langsung dari perang,” kata Pastor Grenier kepada CNA.

Sebaliknya, katanya, ancaman yang dihadapi tempat-tempat suci di wilayah tersebut lebih tidak berwujud, yaitu kurangnya dukungan finansial dari para peziarah internasional. Hal ini karena peziarah berkurang drastic akibat perang ini. Kunjungan kelompok wisata yang biasanya stabil dari AS dan negara lain, sebagian besar telah berkurang. Saat ini, organisasi dan pengelola ziarah cemas menunggu untuk melihat bagaimana perang akan terjadi.

“Tidak ada ancaman langsung dari pemboman atau roket yang dilempar. Kami harus mengatakan bahwa kami beruntung tidak ada satu pun situs ziarah yang kami jaga rusak, atau berisiko rusak.”

Di tempat seperti Bethlehem, yang terletak di Tepi Barat yang dikuasai Palestina, Pastor Grenier mengatakan sekitar 90% umat Kristen menggantungkan hidup pada para peziarah yang datang. Mereka melakukan pekerjaan yang berhubungan langsung dengan melayani kelompok ziarah. Mereka bekerja di restoran, hotel, toko suvenir, dan sebagainya, pemandu, atau di kuil itu sendiri. Dengan adanya perang, praktis kehidupan ekonomi ini terganggu cukup parah.

Penguncian dan pembatasan di tengah pandemi COVID-19 memberikan pukulan berat bagi para pekerja ini selama beberapa tahun. Setelah pandemi, jalan-jalan di Yerusalem yang sudah mulai ramai, kini kembali kosong. Setelah perang berlangsung, rencana perayaan Natal publik di kota kelahiran Yesus sudah dibatalkan.

“Rencananya tahun ini akan menjadi tahun rekor jumlah jamaah peziarah, dan menjelang Natal tiba. Kini masyarakat merasa putus asa. Mereka tidak bisa bekerja,” kata Pastor Grenier. “Banyak orang saat ini berpikir untuk pergi,” lanjutnya.

Para Fransiskan adalah penerima manfaat dari pengumpulan kolekte Jumat Agung tahunan Vatikan, yang akan dikumpulkan tahun ini pada tanggal 29 Maret 2024 nanti. Secara tradisional, 65% dari kolekte tersebut disumbangkan ke Kustodian Fransiskan di Tanah Suci dan 35% sisanya diberikan kepada Dikasteri untuk Gereja-Gereja Timur, untuk mendukung para seminaris dan imam serta kegiatan pendidikan dan kebudayaan. Pada tahun 2022, kolekte ini menghasilkan lebih dari $9 juta.

Sementara itu, para Fransiskan telah meluncurkan kampanye darurat untuk mengumpulkan dana guna mendukung umat Kristen di Tanah Suci dan situs-situs tak ternilai yang mereka jaga.

“Saat ini terdapat iklim yang sangat tegang yang menyulitkan semua orang,” kata Grenier.

Banyak pihak membangun framing bahwa perang ini mengakibatkan perlawanan dua kelompok-kelompok agama. Selama ini, kehidupan antar agama berlangsung harmonis di Palestina dan Israel. Dalam banyak kesempatan, Duta Besar Palestina untuk Indonesia mengatakan bahwa umat Islam dan Kristen hidup damai dan berdampingan di Palestina. Gereja Katolik sendiri jelas menyatakan dukungannya untuk kemerdekaan Palestina. Dalam lima tahun terakhir, setidaknya Presiden Mahmoud Abbas telah tiga kali mengunjungi Vatikan dan berjumpa dengan Paus Fransiskus.

Bagi Vatikan, situasi damai sangat didambakan terjadi di wilayah Pelestina, hal ini karena banyak situs iman ada di wilayah ini. Di Palestina juga ada sejumlah besar umat Katolik yang tinggal berdampingan bersama masyarakat beragama Islam di negara itu.

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here