Uskup Agustinus Ulang Tahun ke-72: Pengalaman itu-lah yang Membentuk Kita

0
1114
Mgr Agustinus Agus Mengunjungi Rumah Tahanan di Bengkayang Kalimantan Barat.

PONTIANAK, Pena Katolik- Sekali waktu, (26 Desember 2017 lalu) Uskup Agustinus mengunjungi rutan kelas II B Bengkayang, saat itu masih nuansa natal, dimana banyak orang yang merayakan hari natal di rumah dan kunjungan ke rumah sahabat atau kerabat. Hari natal adalah hari yang harusnya bergembira dan berbagi sukacita, ya kira-kira begitulah sekilas keindahan natal yang harusnya kita rayakan.

Pada hari natal ke dua, saat itu kebetulan Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan dipanggil Sam ikut berjalan bersama Mgr Agustinus Agus untuk merayakan natal di Kabupaten Bengkayang.

Tidak disangka Uskup Agustinus sudah menjadwalkan kedatanganya untuk merayakan natal bersama penghuni rutan kelas II B Bengkayang.

Tercatat dalam jurnal harian rumah tahanan Negara kelas II B Bengkarang saat itu kapasitas sebanyak 217 orang dengan isi rutan sebanyak 197 orang, tahanan ada 41 orang, dan narapidana sebanyak156 orang. Mgr. Agustinus Agus spontan mengadakan misa natal bersama dengan para penghuni rutan.

Isak tangis di Rutan

Masih hangat dalam ingatan, ketika Uskup Agustinus melangkah masuk mengunjungi rutan. Mata narapidana kala itu sontak tertuju ke sosok orang tua yang berkarisma itu dengan tatapan penuh harapan dan senyuman yang menggugah hati.

Tangannya tidak segan-segan merangkul para narapidana kala itu. Tampak hampir semua mata berkaca-kaca membisu tanpa suara. Hanya tatapan mata mereka lah yang seolah menceritakan isi hati saat itu.

Tercetus kalimat dari seorang narapidana saat itu, “bagaimana mungkin seorang pembesar Gereja Katolik di Kalimantan Barat yakni seorang Uskup Agung Pontianak mau mengunjungi dan memimpin perayaan suci natal bersama kami para tahanan,” ujarnya (nama dirahasiakan).

Namun itulah gayanya Uskup Agus, ia tidak segan untuk datang dan memberi penghiburan kepada mereka yang sedang mengalami proses hukuman.

Tangisan semakin besar saat uskup memberkati mereka non-Katolik. ‘Merinding’ momen gila yang saya rasakan sebagai jurnalistik yang ikut gaya Uskup Agus. Begitu total ia melayani tanpa memandang siapa dan dari mana orang itu berasal.

Setiap orang memiliki kesempatan

Dalam homilinya Mgr Agustinus Agus mengatakan bahwa setiap orang membutuhkan kesempatan berbuat baik dimanapun ia berada dan dalam kondisi apapun ia berada.

“Kadang-kadang manusia terlalu muluk dengan apa yang sebetulnya bukan prioritas utama, sehingga apa yang diberikan dan diserahkan terkait dengan hidup merupakan bagian yang tidak terlepas dari moral hidup,” kata Uskup Agus.

Uskup Agustinus juga menyatakan bahwa bagi mereka yang melakukan tindak kriminal dan bagi mereka yang terlanjur masuk dalam rumah tahanan, mau atau tidak ia mesti menanggung masa hukuman yang sudah ditetapkan sesuai dengan ketentuan hukum.

“Dalam proses masa hukuman yang mereka jalani, tentunya ada perasaan yang sangat sulit untuk mereka terima,” lanjut Uskup Agustinus.

“Kebutuhan dan keperluan setiap orang memang berbeda,” lanjut Uskup Agus, “karena perbedaan itulah setiap manusia memiliki kebebasan untuk mendapatkannya dan menggunakan kebebasan hidup itu tadi.”

“Tetapi apa akibatnya bagi mereka yang tidak menggunakan kebebasan itu dengan sebaik mungkin? Tentu ada ganjarannya, lantas  mereka yang sudah masuk dalam sel tahanan harus dicap sebagai kriminal bahkan lebih parahnya adalah sebagai sampah masyarakat?”

“Tentu tidak, mereka masuk dalam tahanan bukan juga sepenuhnya kesalahan mereka,” kata Mgr Agustinus Agus.

Pengaruh lain diluar kontrol

Melihat kondisi narapidana saat itu, Mgr Agustinus Agus meneguhkan mereka dengan memberikan semangat hidup baru untuk memulai dan melakukan kebaikan untuk semua orang.

Uskup Agustinus juga melihat bahwa perbuatan mereka juga ada karena pengaruh lain yang tak terduga.

Menurutnya mungkin edukasi yang kurang, kesadaran pribadi, pengaruh lingkungan, kurangnya perhatian dan didikan orang tua, maupun keadaan ekonomi yang tidak memungkinkan membuat mereka terjerumus dalam hal yang tidak mereka inginkan.

Menutup Homilinya Uskup Agustinus Agus berdoa agar natal itu memberikan semangat baru bagi semua yang berkumpul.

Natal adalah kelahiran baru, lahir roh baru dan serba baru, jadi kasih Tuhan tidak terpengaruh oleh tembok, jarak dan waktu. Lakukanlah kebaikan, mulai sekarang dan jadikan dirimu terang, pesannya.

Uskup Agustinus Agus mengatakan dalam berkat penutupnya bunyinya demikian “setiap manusia pasti tidak terlepas dari masalah hidup, dan masalah itu jangan pernah kita lewatkan. Justru karean itu adalah sebuah pengalaman, dan karena Pengalaman itu-lah yang membentuk manusia.”

Hari ini tepat pada 22 November 2021, Mgr Agustinus Agus, Uskup Agung Pontianak genap berumur 72 tahun. Selamat ulang tahun Bapa Uskup Agustinus Agus, kami selalu mendoakan Bapa Uskup dalam tugas dan pelayanannya.

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here