Senin, 20 September 2021; Peringatan Wajib St. Andreas Kim Taegon, Imam dan Paulus Chong Hasang, dkk Martir Korea

0
975
St Andreas Kim Tae Gon.(Wikipedia)

Ezr. 1:1-6

Pada tahun pertama zaman Koresh, raja negeri Persia, TUHAN menggerakkan hati Koresh, raja Persia itu untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia, sehingga disiarkan di seluruh kerajaan Koresh secara lisan dan tulisan pengumuman ini: “Beginilah perintah Koresh, raja Persia: Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh TUHAN, Allah semesta langit. Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. Siapa di antara kamu termasuk umat-Nya, Allahnya menyertainya! Biarlah ia berangkat pulang ke Yerusalem, yang terletak di Yehuda, dan mendirikan rumah TUHAN. Allah Israel, yakni Allah yang diam di Yerusalem. Dan setiap orang yang tertinggal, di manapun ia ada sebagai pendatang, harus disokong oleh penduduk setempat dengan perak dan emas, harta benda dan ternak, di samping persembahan sukarela bagi rumah Allah yang ada di Yerusalem.” Maka berkemaslah kepala-kepala kaum keluarga orang Yehuda dan orang Benyamin, serta para imam dan orang-orang Lewi, yakni setiap orang yang hatinya digerakkan Allah untuk berangkat pulang dan mendirikan rumah TUHAN yang ada di Yerusalem. Dan segala orang di sekeliling mereka membantu mereka dengan barang-barang perak, dengan emas, harta benda dan ternak dan dengan pemberian yang indah-indah, selain dari segala sesuatu yang dipersembahkan dengan sukarela.

Mzm. 126: 1-2ab. 2cd-3. 4-5. 6

  • Nyanyian ziarah. Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi.
  • Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: “TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!”
  • TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.
  • Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb!
  • Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.
  • Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Luk. 8: 16-18

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.

Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanyaakan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.”

Cahaya Iman yang Menerangi Dunia

Dalam perikop Injil hari ini, TUHAN YESUS bersabda: “Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya”. (Luk.8: 16).

Pesan TUHAN itu jelas, bahwa kebaikan dalam diri kita, termasuk talenta yang  kita miliki, sebenarnya bukan milik pribadi kita, tetapi juga hak orang lain untuk menerimanya. Hak itu tidak bisa ditunda untuk diberikan. Kebaikan-kebaikan bukan soal si pemilik saja, sehingga ia bisa berbuat sesuka hati. Ia harus membagikan kepada orang lain.

Kita sering lupa, kadang kita hidup demi ego sendiri. Cahaya pelita harus dapat kita bagi kepada orang lain. Potensi, bakat dan kemampuan diri kita pun harus dapat kita kembangkan dan harus menjadi berkat bagi orang lain. Ingat, bahwa kemampuan, bakat dan kebaikan yang kita bagikan kepada sesama itu sama sekali tidak akan habis dan membuat diri kita jadi miskin dan “kehabisan” bakat dan talenta. Semakin banyak kita membagi maka semakin banyak pula kita akan menerima. Maka jangan kita “pelit” berbagi!

Jika kita malas dan membiarkan kemampuan dan kebaikan itu “dibiarkan terlantar” begitu saja, maka “dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.” (ayat 18).

AKarena itu sebagai murid KRISTUS yang dianugerahi berbagai talenta, harus murah hati pula mengembangkannya dan mau berbagi demi kesejahteraan bersama (bonum commune). Inilah yang menjadi dasar bagi usaha dan perjuangan para murid KRISTUS dalam bidang apa pun di abad digital ini. Janganlah kita geser kesejahteraan bersama ini dengan suatu perjuangan yang hanya menguntungkan sebagian kecil masyarakat, justru yang kaya raya. Marilah kita pertebal terus bela rasa dan perjuangan keadilan serta kesetaraan di dalam masyarakat.

Dalam Bacaan Pertama dikisahkan bahwa ALLAH menggerakkan hati  Koresy, Raja Persia untuk menggenapkan Firman-NYA yang dinubuatkan oleh Yeremia. Dari Bacaan ini nampak bahwa TUHAN bukan hanya kreatif, tetapi juga menunjukkan Ke-maha kuasa-an-NYA juga atas orang-orang kafir, kejam dan sangat sombong seperti Koresy. Bahkan ia dengan arogan menobatkan dirinya sebagai “tuhan atau dewa”. Tetapi di hadapan TUHAN, Koresy itu tidak ada arti apa-apa, sekali pun ia seorang penguasa dunia yang hebat dan ditakuti. Koresy justru digerakkan hatinya untuk mengizinkan dan membiarkan bangsa Israel yang dalam pembuangan itu bisa pulang kembali ke Yehuda untuk membangun lagi Rumah ALLAH di Yerusalem.

Di hadapan kekuasaan ALLAH siapalah kita ini yang hanya “orang kecil dan sederhana” ini? Karena itu TUHAN YESUS menegaskan kepada kita untuk “memperhatikan cara mendengar.” (bdk Luk. 8: 18). Penginjil Lukas bermaksud dengan kata “mendengar” itu bukan hanya dengan telinga, melainkan juga berarti mengetahui dan melaksanakan Firman-NYA, Dan dalam melaksanakan itu juga kita meneruskan serta berbagi dengan orang lain. Melalui pelaksanaan Firman itulah kita bisa memancarkan Cahaya Iman kepada orang lain sehingga kita dapat menerangi dan mendatangkan berkat-NYA kepada orang banyak.

Sudahkah hidup kita ini menjadi Terang dan Cahaya yang memancarkan Iman, harapan dan kasih? Hari ini Gereja memperingati 103 para Santo dan Santa di Korea yang dinyatakan Kudus oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1984. Para Martir Kudus di Korea adalah korban penganiayaan terhadap 8.000 dari 10.000 orang yang dibunuh karena mempertahankan iman akan KRISTUS. Itu terjadi antara tahun 1839-1846. Di antara para Kudus itu terdapat Andreas Kim Taegon (1821- 1846), seorang imam pribumi pertama, dan Paulus Chong Hasang (1795-1839), seorang katekis, dan masih ratusan bahkan ribuan anak-anak, kaum muda dan orangtua serta para imam yang mengikuti jejak Salib KRISTUS. Para Martir inilah Cahaya Iman yang menerangi dunia!

Ya TUHAN YESUS, ajarilah aku untuk rendah hati agar mampu KAU pakai sebagai pelita-MU yang memancarkan Cahaya dalam kegelapan dosa saat ini. Kuatkanlah imanku agar aku tidak goyah dalam menghadapi marabahaya yang mengancam Gereja-MU di Tanah Air ku ini.

Para Martir Kudus di Korea, berilah sedikit keberanian dan ketabahan hati dalam hidupku saat ini. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.

PK/hr.

Tinggalkan Pesan

Please enter your comment!
Please enter your name here