
Hari itu, 15 Mei, dari pukul 8 hingga 11 pagi, nampak seorang suster dengan pakaian biara dan rompi biru, topi, tas kecil, dan masker, menaiki mobil terbuka mengitari 20 titik di Kota Medan sambil meneriakkan berulang-ulang dengan mikrofon, âPenyemprotan Eco Enzyme ke udara, Eco Enzyme sangat baik untuk menjernihkan udara,â lalu menyemprotnya ke udara.
Ternyata suster dari Kongregasi Suster Fransiskus Dina (SFD) bersama dua pria dan satu wanita di mobil itu adalah Komunitas Eco Enzyme Nusantara yang sedang terlibat dalam program âPenjernihan Udara dengan Eco Enzyme (Organik) Tanpa Bahan Kimiah,â yang dilakukan 13-15 Mei dengan seruan âMari Bersama Kita Menjaga Lingkungan.â Walikota Medan membuka kegiatan itu tanggal 13 Mei pagi.
âYa, saya terlibat dalam komunitas itu untuk menjernihkan udara dengan menyemprotkan eco enzyme ke udara, demi pulihnya udara kota Medan, demi menyelamatkan bumi rumah kita bersamaâ kata Suster Raynelda Simanjorang SFD kepada PEN@ Katolik lewat medsos, 27 Mei.
Suster yang mengaku hampir setiap hari membuat eco enzyme dari sisa sampah organik yang sangat berbahaya dari dapur komunitasnya untuk suburkan tanaman mengatakan bahwa apa yang dia lakukan itu sangat erat terkait dengan spiritualitas Kongregasi Suster-Suster Fransiskus Dina âkarena kami pengikut Santo Fransiskus Assisi.â
Menurut suster yang sudah menjadi anggota SFD sejak 1991 itu, banyak hal dari Santo Fransiskus Assisi yang mendorong kecintaannya kepada bumi dan lingkungan, âtetapi yang paling tertarik adalah pernyataan orang kudus itu bahwa alam ini adalah catatan harian Tuhan Allah.â Dia pun rela naik truk dengan pakaian biara âtanpa memikirkan resikoâ karena dia âdipenuhi semangat ingin berkontribusi menyelamatkan bumi rumah kita.â
Suster yang âsangat bersukacita dan bahagia bisa bergabung dengan pencinta alam yang begitu gigih menyelamatkan bumiâ itu berharap agar umat Katolik pun sebanyak mungkin berkontribusi melestarikan lingkungan, âdengan bersedia mengolah sampah dapur sendiri demi keamanan dan keselamatan kita bersama dalam menghuni bumi rumah kita bersama, sebagaimana juga dianjurkan oleh Bapa Suci Paus Fransiskus dalam Laudato Siâ.â
Keterlibatan suster itu membuat âbanyak orang senang dan mendukung aksi nyata yang saya buat,â dan Ministra Umum Kongregasi Suster Fransiskus Dina di Yogyakarta, Suster Imelda Tampubolon SFD, tidak melarang kegiatan suster itu. âTidak apa-apa, sejauh tidak mengganggu tugas-tugas. Kalau masih ada waktu yang bisa digunakan, baik juga kan?â Bahkan lebih jauh Suster Imelda berharap, seperti yang diteruskan oleh Raynelda kepada PEN@ Katolik, âMungkin lain kali sudah semakin ada yang nantinya terlibat sehingga suster tinggal menjadi koordinator.â(PEN@ Katolik/paul c pati)