Santa Margaret Castello / Wikipedia | CC BY-SA 4.0
Santa Margaret Castello / Wikipedia | CC BY-SA 4.0

Paus Fransiskus telah mengakui kekudusan seorang wanita bangsawan Italia yang buta dan cacat, dan yang ditolak oleh orang tuanya, Santa Margaret dari Castello, 24 April. Paus memperluas penghormatan terhadap Margaret (1287-1320), seorang anggota Dominikan Awam, dalam Gereja universal (hari pestanya adalah 13 April). Inilah pengakuan atas kekudusan Margaret melalui proses kanonisasi “ekuipollent” (ekuivalen atau setara), tanpa menuntut persyaratan mukjizat.

Kisah Margaret menyayat hati. Dia lahir buta dengan kelengkungan tulang belakang yang parah di Metola, Italia tengah saat ini, dan mengalami kesulitan berjalan. Orangtuanya menolaknya karena kecacatannya dan menyembunyikan dia bertahun-tahun, kemudian memasukkannya dalam kamar yang dibangun di sisi kapel, meskipun dia dapat menghadiri Misa dan menerima sakramen. Akhirnya, mereka meninggalkannya di kota. Di sana tak seorang pun dia kenal.

Tahun 1303 dia ditinggalkan oleh orangtuanya di sebuah kuil di Città di Castello. Mereka membawanya ke sana dengan harapan terjadi kesembuhan yang ajaib. Dia lalu ditemukan oleh warga kota setempat, yang mulai merawatnya. Sebagai anggota Dominikan Awam dia tetap mengenakan pakaian religius Dominikan hingga akhir hidupnya.

Untuk berterima kasih kepada tetangganya karena telah membesarkannya, dia membuka sekolah kecil, tempat dia mengajar anak-anak mendaraskan Mazmur, yang telah dia pelajari dengan hati, dan mengajar mereka tentang iman Katolik. Dia meninggal tahun 1320, pada usia 33, dan dimakamkan di dalam gereja. Makamnya pun dengan cepat dikaitkan dengan mukjizat.

Paus Paulus V membeatifikasi Margaret dengan beatifikasi “ekuipollent” tahun 1609.

Paus Benediktus XIV meresmikan proses ini tahun 1700-an. Melalui proses itu, seorang paus mengundang Gereja universal (sebagai lawan dari tempat asal seorang kudus, atau ordo religius tertentu yang dia ikuti) untuk mengakui pesta orang kudus itu, dengan Misa dan Ibadah Ilahi.

Paus Fransiskus relatif sering menggunakan proses itu. Orang-Orang Kudus yang dibuat dengan kanonisasi “ekuipollent” sejak pemilihannya antara lain Angela dari Foligno dan Peter Faber tahun 2013, José de Anchieta, Marie dari Inkarnasi, dan François de Laval de Montmorency tahun 2014, dan Bartholomeus dari Braga tahun 2019.

Proses itu mengakui bahwa keputusan Gereja telah dibuat atas kekudusan orang itu, meski rumus biasa kanonisasi belum dibuat. Gadis buta dan cacat yang ditolak orangtuanya itu sudah diakui sebagai orang kudus.(PEN@ Katolik/paul c pati/Aleteia/CNA/Wikipedia

Saint_Patrick_Catholic_Church_(Columbus,_Ohio)_-_Blessed_Margaret_of_Castello_statue

Tinggalkan Pesan