Uskup Raul Dael memimpin perayaan Hari Bumi di Keuskupan Tandag. FOTO KEUSKUPAN TANDAG
Uskup Raul Dael memimpin perayaan Hari Bumi di Keuskupan Tandag. FOTO KEUSKUPAN TANDAG

Pada Hari Bumi, seorang uskup berkumpul kembali bersama orang-orang di Surigao del Sur yang kaya mineral untuk bersatu melindungi lingkungan setelah pemerintah mencabut larangan kesepakatan pertambangan baru. Uskup Tandag Mgr Raul Dael mengimbau orang-orang untuk tabah, dan meyakinkan mereka bahwa keuskupan tidak akan pernah mundur dalam misinya untuk “menjaga ciptaan.”

“Kita tidak akan pernah menyerah dalam melindungi, melestarikan dan membiarkan kesuburan ciptaan kita disaksikan dalam kelimpahan,” kata Mgr Dael. Kalau orang bertindak dalam kesatuan dan iman, menurut uskup itu, tidak ada yang perlu ditakuti meskipun itu berarti mempertaruhkan nyawa. “Karena mati untuk orang lain, mati untuk karunia Allah adalah nilai hidup kita, waktu kita, dan usaha kita,” kata uskup.

Hari Kamis 22 April, uskup itu memimpin keuskupan dalam merayakan Hari Bumi 2021 di Paroki San Isidore di kota Madrid. Kegiatan dua hari yang dimulai kemarin itu, meliputi penanaman pohon di seluruh keuskupan, pembersihan pantai, dan simposium isu lingkungan dengan fokus pada keadilan lingkungan.

Baru-baru ini, Presiden Rodrigo Duterte mencabut moratorium tentang proyek mineral baru yang diberlakukan tahun 2012 dalam sebuah langkah kontroversial yang bertujuan meningkatkan kas negara. Industri pertambangan menyambut baik perintah eksekutif yang dirilis 15 April itu, tetapi membuat kecewa para pendukung lingkungan.

Keputusan pemerintah itu, kata Mgr Dael, mungkin “mengecewakan,” tetapi keputusan itu juga merupakan “peluang agar kita lebih bersatu.” Bahkan uskup itu menambahkan, “Kita akan semakin kuat dan tidak akan pernah menyerah.” Masa depan umat manusia, tegas uskup, “bergantung pada bagaimana kita menjaga seluruh ciptaan dengan baik.”

Prelatus itu lalu mengimbau pihak berwenang untuk menghentikan penganiayaan dan pelecehan terhadap para pembela lingkungan karena mereka melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah. Sebaliknya, pejabat “harus berterima kasih” karena “kami melakukan tanggung jawab yang menjadi tanggung jawab mereka,” kata Mgr Dael.(PEN@ Katolik/paul c pati/CBCP News)

 

 


Warning: A non-numeric value encountered in /home/martinus/public_html/pena/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

Tinggalkan Pesan