Tentara Myanmar di sebuah pos terdepan di sebuah desa di negara bagian Karen.
Tentara Myanmar di sebuah pos terdepan di sebuah desa di negara bagian Karen.

Setidaknya empat gereja Katolik di desa-desa di Keuskupan Pathein Myanmar digerebek tanggal 8 April oleh polisi dan tentara untuk mencari dugaan kegiatan ilegal atau para aktivis anti-kudeta. Pasukan keamanan bersenjata menggeledah dalam gereja Katolik dan memeriksa di sekitar pemakaman, menurut sumber-sumber gereja. Gereja-gereja Katolik menjadi target terbaru menyusul penggerebekan militer terhadap gereja-gereja lain di negara bagian Kachin, sebuah benteng Kristen, selama akhir pekan Paskah.

Sumber kantor berita Vatikan Fides mengatakan militer baru-baru ini menggerebek gereja Kristen Baptis, Gereja Katolik dan Gereja Anglikan di kota Mohnyin. Tanggal 1 Maret, pasukan keamanan juga menerobos gerbang gereja Baptis Kachin di Lashio, di negara bagian Shan, dan menahan lebih dari 10 pemimpin agama dan staf yang kemudian dibebaskan, menurut laporan media. Para tentara melepaskan tembakan dalam kompleks gereja selama pencarian. Penggerebekan juga menargetkan biara dan kuil Buddha di negara yang sebagian besar beragama Buddha itu.

Sumber Fides mengatakan, “Tempat-tempat ibadah dan biara Buddha rutin digeledah dengan kekerasan. Inilah tindakan intimidasi serius oleh tentara yang meningkatkan ketegangan dan permusuhan dalam penduduk Burma dari semua etnis dan agama.” Sumber itu mengatakan, “Militer mengidentifikasi orang muda dan para pemimpin protes di media sosial, kemudian meluncurkan penggerebekan malam untuk menghentikan mereka.”

Situs berita online Irrawaddy yang dijalankan orang-orang buangan Myanmar di Thailand menceritakan penggerebekan di tiga gereja dari Pendeta Awng Seng dari Sidang Baptis Kachin (KBC). “Tentara memanjat pagar dan memasuki semua gedung di kompleks itu, tanpa pembenaran apa pun dan menggeledah semua ruang,” kata pendeta itu.

Mereka mencurigai seorang pemimpin protes bersembunyi di dalam dan para pemimpin agama berpartisipasi dalam protes melawan rezim. Tidak ada yang ilegal ditemukan dalam gereja-gereja, katanya, seraya meratapi mengapa hal itu harus dilakukan di rumah orang-orang. Dia mengutuk tindakan militer yang juga menargetkan Kolese Teologi Kachin KBC dan Seminari Kristen Baptis yang berdekatan di Myitkyina, ibu kota Kachin.

Umat ​​Kristen adalah minoritas di negara yang mayoritas beragama Buddha itu, hanya 6,2 persen dari 54 juta penduduk. Daerah-daerah yang diduduki kelompok etnis Kachin, Chin, Karen dan Kayah, yang menghadapi penindasan dan penganiayaan di tangan militer selama beberapa dekade, sebagian besar beragama Kristen.

Diperkirakan sepertiga Myanmar, sebagian besar wilayah perbatasan, kini dikendalikan oleh 20 kelompok pemberontak bersenjata. Militer telah memerangi kelompok-kelompok ini. Sejak 2015, 10 kelompok bersenjata telah menandatangani perjanjian gencatan senjata nasional dengan pemerintah sipil. Tetapi pertempuran terus berlanjut, terutama di negara bagian Kachin dan Shan di utara, dan negara bagian Rakhine di barat, membuat ribuan orang mengungsi. Tanggal 27 Maret, jet tempur tentara melancarkan serangan udara di sebuah desa Karen, menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai delapan lainnya.

Lebih dari 100.000 orang, banyak dari mereka beragama Kristen, tetap dalam kamp pengungsian di negara bagian Kachin dan Shan, sementara 100.000 lainnya, kebanyakan umat Kristen Karen, berada di kamp-kamp di seberang perbatasan Thailand. Menurut laporan Komisi AS untuk Kebebasan Beragama Internasional 2020, dalam konflik itu militer dilaporkan telah merusak atau menghancurkan lebih dari 300 gereja.

Militer Myanmar yang kuat merebut kekuasaan 1 Februari, setelah menahan pemimpin terpilih negara itu Aung San Suu Kyi. Perebutan itu memicu protes harian nasional dan gerakan pembangkangan sipil, termasuk pemogokan, menuntut pembebasannya dan pemulihan demokrasi.

Kudeta itu terjadi setelah beberapa hari ketegangan meningkat antara pemerintah sipil dan militer, yang mengklaim pemilihan umum November, yang dimenangkan secara besar-besaran oleh partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Suu Kyi adalah curang.

Menurut Asosiasi Bantuan untuk Narapidana Politik, kelompok aktivis yang memverifikasi dan menyusun daftar korban dan orang-orang yang dipenjarakan dalam protes-protes itu, pasukan keamanan menanggapi dengan kekuatan brutal dan menewaskan 710 pengunjuk rasa hingga 12 April. (PEN@ Katolik/paul c pati/Robin Gomes/Vatican News)

Artikel Terkait:

Para kardinal se-Asia memohon perdamaian di Myanmar

Paus Fransiskus: saya juga berlutut di jalanan Myanmar

Para biarawati dan imam Katolik ikut dalam protes anti-kudeta Myanmar

Tinggalkan Pesan