Mgr Fransiskus Kopong Kung dalam kotbah Misa Hari Minggu Paskah Kedua, Minggu Kerahiman Ilahi, di lokasi terdampak banjir bandang di Desa Nelelamadike, Ile Boleng, Adonara (PEN@ Katolik/pcp/screenshot)
Mgr Fransiskus Kopong Kung dalam Misa Hari Minggu Paskah Kedua, Minggu Kerahiman Ilahi, di lokasi terdampak banjir bandang di Desa Nelelamadike, Ile Boleng, Adonara (PEN@ Katolik/pcp/screenshot)

“Sangat manusiawi jika kita berduka oleh musibah yang kita alami. Pada saat kita mempersiapkan diri untuk Perayaan Paskah Kebangkitan Tuhan, kita dikejutkan oleh peristiwa yang membawa maut dan dukacita, musibah banjir bandang dan tanah longsor yang telah membawa korban. Banyak saudara-saudari kita, keluarga kita, orang yang kita kasihi menjadi korban. Rumah-rumah kita dihanyutkan, dihancurkan oleh banjir dan tanah longsor. Memang kita sedih, kita berduka.”

Uskup Larantuka Mgr Fransiskus Kopong Kung berbicara dalam khotbah Misa Hari Minggu Paskah Kedua, Minggu Kerahiman Ilahi di lokasi terdampak banjir bandang di Desa Nelelamadike, Ile Boleng, Adonara NTT, 11 April, yang dilanjutkan pemberkatan kuburan para korban banjir bandang di desa itu.

“Perayaan Paskah yang kita persiapkan berganti kesedihan dan kedukaan. Memang manusiawi sekali kalau kita sedih. Namun secara iman, kita harus bisa bangkit untuk menyaksikan bahwa dalam situasi seperti ini, dalam situasi apa pun Allah tidak meninggalkan umat kesayangan-Nya, dalam situasi apa pun Yesus yang bangkit dan hidup tidak meninggalkan umat kegembalaan-Nya,” tegas Mgr Kopong Kung.

Dalam situasi saat ini, lanjut uskup, “kita harus dengan penuh kerendahan hati seperti Tomas, meskipun mempunyai kebimbangan, dan bertanya dalam hati, apa benar Allah itu hidup, Yesus itu bangkit? Kalau Allah itu hidup, Yesus itu bangkit dan hidup, kenapa ada kesedihan, ada kekecewaan, ada dukacita? “Dia datang kepada murid-murid-Nya untuk mengatakan memang benar Dia hidup, Dia bangkit, Dia mahamurah, mahabaik, berbelas kasih, mengampuni, membebaskan dan menyelamatkan,” tegas uskup.

Dalam peristiwa saat ini, lanjut Mgr Kopong Kung, “meski peristiwa ini menyedihkan, tapi kita percaya, Yesus yang bangkit dan hidup tidak meninggalkan kita. Dia memperlihatkan bahwa dalam situasi seperti ini Tuhan mendampingi dan menguatkan kita.”

Perhatian banyak saudara-saudari dari mana-mana, menurut uskup itu, “adalah ungkapan dan pernyataan hati dan belas kasih Tuhan yang juga terdapat dalam diri sesama, siapa saya yang menaruh peduli kepada kita.” Betapa pun kita sedih dan duka mendalam, lanjut uskup, “Tuhanlah yang menghibur, meneguhkan dan menguatkan kita. Dia dia tidak pernah akan meninggalkan umat-Nya.”

Mgr Kopong Kung berharap kehadiran umat dalam Misa di tempat itu “untuk memohon agar Tuhan Bapa yang Maharahim, yang berbelas kasih menerima jiwa-jiwa saudara-saudari kita, keluarga kita, kekasih kita yang menjadi korban, menerima jiwa mereka, menyelamatkan mereka, dan memberikan mereka damai dan sukacita abadi.”

Uskup juga mengajak umat untuk memohon kepada Tuhan agar “kepada kita semua, keluarga yang ditinggalkan, semua yang terkena musibah ini, selalu diteguhkan dan dikuatkan oleh Tuhan sendiri, supaya kita bangkit kembali dan membangun hidup kita menuju ke masa depan yang kita harapkan, hidup yang damai dan sejahtera.”

Mgr Kopong juga menasihati umatnya agar meningkatkan kewaspadaan agar terhindar dari musibah atau bencana dan tetap menjaga protokol kesehatan.(PEN@ Katolik/paul c pati/jr)

Larantuka 3Larantuka 5

Tinggalkan Pesan