Mgr Saku

“Di masa Prapaskah 2021 kita diundang untuk kembali menata hidup kita dengan mengobarkan dan mempraktekkan semangat bela rasa dan sikap peduli terhadap sesama dan alam lingkungan sekitar kita. Di tengah situasi krisis hidup dan resesi ekonomi, hendaknya kita juga ikut merasakan panggilan dan desakan untuk turut berbela rasa dan bersetiakawan. Banyak orang hidup dalam kondisi hidup yang tidak manusiawi. Mereka serba kekurangan, tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup primer yang paling mendasar. Lingkungan hidup kita rusak parah dan hancur-lebur.”

Surat Gembala Masa Puasa 2021 Uskup Atambua Mgr Dominikus Saku dengan tema “Membangun dan Memajukan Ekonomi Berbela Rasa” menekankan hal itu, karena sikap egois, ingat diri, loba, tamak dan nafsu liar pengelolaan sumber-sumber daya kehidupan, “membangkitkan sikap tidak bertanggungjawab dan tidak bertenggang-rasa yang merusak tatanan hidup manusia dan alam semesta.”

Menurut Mgr Saku, makna hidup manusia sudah kita kerdilkan dengan mengabaikan aspek rohani dan ekologi yang sangat fundamental untuk perkembangan sejati dan utuh dari manusia dan dunia. Akibatnya sungguh parah. “Banyak orang terpaksa hidup dalam kondisi hidup sangat memprihatinkan, sementara segelintir orang hidup nyaman dan terjamin. Masyarakat dan banyak orang jatuh sakit, menderita dan mati, karena dunia sudah terlebih dahulu dimatikan dengan pelbagai cara!” tulis Uskup Atambua itu.

Sementara itu Mgr Saku melihat pandemi Covid-19 kiranya menjadi kesempatan rahmat bagi pemulihan ekosistem, sikap beriman dan penataan hidup. “Kita dipaksa berhenti, atau bergiat dengan pembatasan-pembatasan, agar seluruh proses pengrusakan hidup manusia dan alam dunia dihentikan,” kata uskup seraya menegaskan bahwa pandemi itu perlu diikuti suspensi, “agar terjadi lagi proses pemulihan, pembersihan, dan penataan diri alam semesta. Kita berhenti agar dunia berbenah diri.”

Di masa PSBB 2020, kata uskup, sempat berkembang pemikiran ekstrim berupa penolakan dan kutukan terhadap kehadiran manusia di bumi ini melalui narasi videoclip yang menulis, “Enyahlah, hai engkau, manusia jahanam, dunia tidak membutuhkan kehadiranmu. Tanpa engkau, dunia menjadi lebih baik, aman-sentosa dan selamat!”

Sungguh ironi dan sinisme yang secara sarkastik menyentak dan menantang, tulis Mgr Saku. “Kita ditantang merefleksikan lagi kehadiran kita yang sepantasnya berbela rasa, peka dan bertanggungjawab atas keutuhan dan keberlanjutan alam ciptaan”

Bahkan dalam surat itu Mgr Saku bertanya, “Mungkinkah pandemi Covid-19 merupakan konkretisasi, aktualisasi dan repetisi tragedi Taman Eden, di mana Adam dan Hawa jatuh mengenaskan dalam tubir dosa, lalu terusir dari taman itu untuk selanjutnya menanggung segala penderitaan dan segala bentuk kesakitan selama hidupnya di luar tatanan azali dunia berdasarkan rencana keselamatan Allah?”

“Apakah masa damai universal jaman Mesias sebagaimana diimpikan para Nabi dapat terwujud? Apakah ada pembelajaran yang dapat kita petik dari pemberlakuan protokol Covid-19 dalam proses isolasi dan karantina selama sakit hingga meninggal dan dimakamkan dari begitu banyak orang di sekitar kita?” uskup lanjut bertanya. Kiranya kita makin sadar, jawab uskup, bahwa “mereka mengalami pembuangan dan pemisahan secara mengenaskan karena ulah kita yang tanpa bela-rasa.”

Mgr Saku berharap rasa takut, cemas, terancam, kehilangan orang-orang terkasih menjadi bahan refleksi konstruktif tentang kehadiran kita yang seharusnya digelorakan sikap bela rasa yang termotivasi oleh daya kekuatan cinta kasih Tuhan sendiri. “Bila kita telah menjadi perusak tatanan hidup dunia, mari kita belajar untuk kembali menjadi rekan kerja Allah dalam merawat ibu bumi sebagai tempat yang nyaman dan rumah yang hangat bagi semua orang,” lanjut uskup.

Selanjutnya dalam surat itu Uskup Atambua mengajak umatnya membangun ekonomi berbela-rasa yang menunjuk pada sikap solider, saling berbagi untuk saling meneguhkan dan menghidupkan. “Hukum kasih berpadanan dengan hukum universal yang terpancar dari dalam hati setiap orang untuk melakukan segala sesuatu yang baik dan menghindari segala yang jahat sehingga suasana damai dan harmoni dapat tercipta dalam kehidupan bersama,” tulis uskup.

Membangun ekonomi yang berbela rasa berarti “menata kehidupan alam semesta dan tatanan masyarakat sedemikian rupa sehingga mereka yang paling berkebutuhanlah yang pertama-tama mendapatkan keuntungan, uluran bantuan, pertolongan dan sokongan, sehingga hidup mereka terselamatkan,” jelas uskup.

“Tuntutan dan tantangan paling berat untuk ekonomi berbela rasa adalah semua orang membutuhkan semangat dan kesadaran untuk bangkit menjadi pelaku ekonomi yang handal karena kreatif, produktif dan inovatif. Tingkat partisipasi dan produktivitas hidup seseorang atau suatu entitas sosial dan komunal menentukan tingkat dan efektivitas ekonomi berbela rasa. Juga sikap rohani dan ethis-moral menentukan kualitas ekonomi berbela rasa. Semakin tinggi kesadaran seseorang atau masyarakat untuk memikul beban kehidupan dan tanggungjawab ekonomi, semakin memungkinkan terwujudnya ekonomi berbela rasa karena tanggungjawab melahirkan kekuatan, termasuk kekuatan sebagai sikap berbagi. Dan semakin orang mengembangkan sikap cinta kasih dan altruistik, semakin dia sanggup membangun dan mempraktekkan ekonomi berbela rasa,” tulis Mgr Saku.(PEN@ Katolik/simprosius leki dasi)


Warning: A non-numeric value encountered in /home/martinus/public_html/pena/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

Tinggalkan Pesan