Foto file dari Paus Fransiskus
Foto file dari Paus Fransiskus

“Iblis membuat kita ragu, lalu hidup berlangsung bersamaan dengan tragedi-tragedinya: ‘Mengapa Allah membiarkan ini terjadi?’ Tetapi iman tanpa keraguan tidak bisa maju. (…) Pikiran ditinggalkan oleh Allah adalah pengalaman iman yang dialami banyak orang kudus, bersama dengan banyak orang saat ini yang merasa ditinggalkan oleh Allah, tetapi tidak kehilangan iman. Dengan berhati-hati mereka menjaga karunia itu: ‘Saat ini saya tidak merasakan apa-apa, tetapi saya menjaga karunia iman itu. Umat Kristen yang tidak pernah mengalami keadaan pikiran ini kekurangan sesuatu, karena itu berarti mereka kurang puas. Krisis iman bukanlah kegagalan melawan iman. Sebaliknya, mereka mengungkapkan kebutuhan dan keinginan untuk masuk lebih penuh dalam kedalaman misteri Allah. Iman tanpa pencobaan-pencobaan ini membuat saya ragu bahwa itu adalah iman yang sejati.”

Pernyataan itu diungkapkan oleh Paus Fransiskus dalam wawancara yang diterbitkan dalam buku “Of Vices and Virtues” (diterbitkan oleh Rizzoli). Buku baru berisi wawancara Don Marco Pozza dengan Paus Fransiskus itu akan dirilis 2 Maret, namun beberapa bagian dari buku itu diterbitkan hari Minggu, 28 Februari, oleh surat kabar Italia, Corriere della Sera.

Dalam bagian lain wawancara itu, Paus menggambarkan tentang kemarahan dan jalan menuju penyembuhan dari kemarahan. “[Kemarahan] adalah badai yang tujuannya menghancurkan. Salah satu contoh adalah mem-bully yang terjadi di kalangan anak muda. (…) Bully muncul ketika, bukannya berusaha memahami identitas diri sendiri, seseorang meremehkan dan menyerang identitas orang lain. Ketika episode-episode penyerangan dan bully terjadi pada kelompok-kelompok anak muda, sekolah-sekolah, dan di kalangan tetangga, kita melihat kemiskinan identitas dari penyerang. Satu-satunya cara untuk ‘sembuh’ dari bully adalah berbagi, hidup bersama, berdialog, mendengarkan orang lain, dan mengambil waktu, karena hanyalah waktu yang bisa membangun hubungan.”

Selanjutnya Paus memikirkan murka Allah. Paus ingat bahwa kemarahan Ilahi “ditujukan pada kejahatan, yang bukan berasal dari kelemahan manusia, tetapi kejahatan dari inspirasi setan. (…) Murka Allah berusaha membawa keadilan dan ‘membersihkan’. Air Bah adalah hasil dari murka Allah, menurut Kitab Suci.”

Paus menjelaskan bahwa air bah, menurut beberapa ahli, adalah “cerita mitos”. Namun, menurut para arkeolog, ini malah “peristiwa sejarah karena ditemukan jejak air bah dalam penggalian mereka.” Paus memperingatkan kita yang tidak mengurus ciptaan, dengan mengatakan bahwa risikonya adalah  mengalami “air bah” baru.

Beralih ke topik kebijaksanaan, Paus menyebutnya “kebajikan pemerintah,” dengan menyatakan “Tidak mungkin memerintah tanpa kebijaksanaan. Sebaliknya, siapa pun yang memerintah tanpa kebijaksanaan, akan jelek dalam memerintah. Mereka akan melakukan hal-hal jahat, dan membuat keputusan buruk, yang selalu menghancurkan orang.”

Tapi kebijaksanaan dalam pemerintahan, kata Paus, “terkadang harus tidak seimbang, guna membuat keputusan yang menghasilkan perubahan.” (PEN@ Katolik/paul c pati/Vatican News)


Warning: A non-numeric value encountered in /home/martinus/public_html/pena/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

1 komentar

Tinggalkan Pesan