Uskup-Malang-Mgr-Pidyarto Dokpen

“Pandemi ini memporak-porandakan kehidupan manusia. Sudah banyak jiwa melayang. Kehidupan sosial dan budaya amat terganggu. Banyak bisnis merugi, bahkan tidak sedikit yang bangkrut. Akibatnya, banyak orang kehilangan mata pencaharian. Proses belajar dan mengajar anak-anak kita pun terganggu. Tidak sedikit orang mengalami depresi karena terlalu lama ‘terkurung’ dalam rumah. Masih banyak dampak lain tak bisa disebutkan di sini. Singkat kata, banyak orang sangat menderita akibat pandemi ini. Gereja pun alami dampak-dampak negatif pandemi ini. Dalam situasi seperti itulah kita memasuki masa Prapaskah 2021. Oleh karena itu, lebih dari biasanya faktor amal-kasih dari pertobatan menjadi amat relevan bagi masa puasa kita.”

Uskup Malang Mgr Henricus Pidyarto Gunawan OCarm menulis itu dalam Surat Gembala Prapaskah 2021 Keuskupan Malang seraya menegaskan bahwa melakukan hal-hal rohani, seperti merenungkan Sabda Allah, berpuasa dan berpantang, lebih rajin berdoa dan menerima sakramen-sakramen itu baik dan perlu bagi pertobatan. Akan tetapi, pada masa pandemi ini, tegas uskup itu, yang perlu lebih diperhatikan adalah belajar berbuat baik!

“Sesuai kemampuan masing-masing, kita dipanggil menjadi sesama bagi mereka yang membutuhkan bantuan kita,” kata uskup itu seraya meminta umatnya agar dalam masa pandemi ini “bersatu-padu, bahu membahu dan bekerja sama dengan semua manusia, tanpa memandang bulu. Marilah kita berusaha menjadi sesama bagi mereka yang membutuhkan batuan kita.”

Dalam ensiklik “Fratelli Tutti,” kata uskup, Paus Fransiskus mensinyalir penanganan Covid-19 jadi sulit karena kurangnya kerja sama antarnegara. Bisa jadi, tegas uskup, hal sama terjadi di tingkat lokal, yakni di tempat kita masing-masing. Mungkin di tempat kita sulit menanggulangi Covid-19 karena kurangnya kerja sama antara kita. “Dari sebab itu, kami menghimbau umat Katolik Keuskupan Malang untuk siap bekerja sama dengan siapa pun, istimewanya dengan pemerintah lokal, dalam usaha menanggulangi pandemi Covid-19,” tulis Mgr Pidyarto.

Amal kasih yang jadi salah satu ciri Prapaskah, tegas Mgr Pidyarto, tidaklah terbatas pada pemberian materiil seperti sembako atau uang, “tetapi mencakup setiap perbuatan kasih, seperti misalnya menaati dengan sungguh-sungguh protokol kesehatan. Dengan menjaga diri, kita menjaga sesama kita juga dan dengan demikian kita mempraktikkan amal kasih.”

Menyinggung tema Aksi Puasa Pembangunan Nasional 2021, “Semakin Beriman, Semakin Solider,” Uskup Malang mengatakan, sesungguhnya, ada kaitan erat antara iman (yaitu hubungan kita dengan Allah) dan solidaritas (yaitu hubungan kita dengan sesama). Mgr Pidyarto lalu menguraikan beberapa teks Alkitab yang menyatakan kaitan keduanya.

Di akhir surat gembala, Mgr Pidyarto mengingatkan umat bahwa di tahun ini, Gereja Katolik Indonesia menghimbau umat ikut memberdayakan rakyat kecil dalam mencari nafkah kehidupan, memajukan kerja sama masyarakat di bidang ekonomi, misalnya dengan menggalakkan berbagai bentuk koperasi simpan-pinjam, Credit Union, arisan dan sebagainya.(PEN@ Katolik/paul c pati)

 


Warning: A non-numeric value encountered in /home/martinus/public_html/pena/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

Tinggalkan Pesan