Paus sedang menaburkan abu di atas kepala seorang kardinal dalam Misa Rabu Abu di basilika Santo Petrus 17 Februari
Paus sedang menaburkan abu di atas kepala seorang kardinal dalam Misa Rabu Abu di basilika Santo Petrus 17 Februari

Saat Gereja memulai masa Prapaskah, Paus Fransiskus merayakan Misa Rabu Abu, dengan pemberkatan dan pengenaan abu di Basilika Santo Petrus, 17 Februari. Dalam homilinya, Bapa Suci merenungkan Prapaskah sebagai perjalanan pulang kepada Allah dan sebagai kesempatan untuk memperdalam cinta kepada saudara dan saudari kita.

Allah, kata Paus, berseru kepada hati kita dan kepada seluruh keberadaan kita, dan mengajak kita datang kepada-Nya. “Inilah waktu untuk mempertimbangkan kembali jalan yang kita ambil,” kata Paus, “untuk menemukan jalan yang menuntun kita pulang dan menemukan kembali hubungan kita yang mendalam dengan Allah, yang menjadi sandaran segalanya.”

Paus mendesak umat Kristen untuk mengevaluasi arah tujuan hidup kita dan seberapa teguh kita menjalani jalan menuju Allah. “Perjalanan Prapaskah adalah eksodus dari perbudakan menuju kebebasan,” kata Paus. Saat maju, jelas Paus, kita akan merasa tergoda untuk kembali pada kebiasaan dan ilusi lama, tetapi kita bisa menemukan kembali jalan dengan melihat pada Sabda Allah, tidak peduli berapa kali kita tersandung.

Langkah pertama Prapaskah, kata Paus, adalah perlu kembali kepada Bapa, dengan menerima pengampunan Allah dalam Sakramen Pengakuan. “Pengampunan Bapa yang selalu membuat kita kembali berdiri,” kata Paus. Selanjutnya, kata Paus, kita perlu kembali kepada Yesus. Seperti penderita kusta yang kembali berterima kasih kepada-Nya, kita juga “butuh kesembuhan dari Yesus. Kita perlu tunjukkan luka-luka kita kepada-Nya dan berkata, ‘Yesus, aku di hadapan-Mu, dengan dosaku, dengan kesedihanku. Engkaulah dokterku. Engkau bisa bebaskan saya. Sembuhkanlah hatiku’.” Kemudian, kata Paus, kita diundang kembali kepada Roh Kudus. Abu yang ditaburkan di kepala, kata Paus, mengingatkan bahwa kita ini debu. “Tapi di atas debu kita ini, Allah menghembuskan Roh kehidupan-Nya.”

Selanjutnya Paus mencatat, perjalanan pulang kepada Allah hanya mungkin karena Dia “pertama berjalan kepada kita.” Karena Yesus menerima dosa dan kematian kita, “maka perjalanan kita adalah membiarkan Dia memegang tangan kita.” Tanggapan kita atas ajakan Allah, kata Paus, memerlukan rekonsiliasi sepenuh hati, “dengan perbuatan dan praktik yang mengungkapkannya.”

Masa Prapaskah, Paus ingatkan, adalah saat tepat untuk melakukan perjalanan menuju Allah dan menuju saudara-saudari kita. “Prapaskah adalah rendah hati merendahkan diri ke dalam maupun ke arah orang lain. Ini tentang menyadari bahwa keselamatan bukanlah naik menuju kemuliaan, tetapi merendah dalam kasih,” kata Paus.

Tidak peduli betapa sering tersandung, kata Paus, kita selalu bisa berpaling kepada Salib Kristus dan merenungkan kekurangan dan kekosongan kita sendiri dalam luka-luka-Nya. “Dengan mencium luka-luka itu, kita akan sadar bahwa di sana, dalam luka-luka kehidupan yang paling menyakitkan, Allah menunggu kita dengan belas kasihan-Nya yang tak terbatas.”(PEN@ Katolik/pcp/Devin Watkins/Vatican News)


Warning: A non-numeric value encountered in /home/martinus/public_html/pena/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

1 komentar

Tinggalkan Pesan