Paus dalam Audiensi Umum 12 Februari (Vatican Media)
Paus dalam Audiensi Umum 12 Februari (Vatican Media)

Dalam Audiensi Umum minggu lalu, Paus Fransiskus berbicara tentang bagaimana doa Kristen “berlabuh” dalam liturgi. Dalam audiensi minggu ini, yang disiarkan langsung dari Perpustakaan Istana Apostolik, 10 Februari, Paus menjelaskan bagaimana doa kembali dari liturgi dan masuk ke dalam situasi kehidupan sehari-hari, seperti di jalanan, di kantor, dan di angkutan umum.

“Pada dasarnya, semua menjadi bagian dialog dengan Allah,” yaitu doa. “Setiap sukacita menjadi alasan untuk pujian, setiap cobaan adalah kesempatan meminta bantuan,” kata Paus. Menurut Paus, “Doa selalu hidup dalam kehidupan, laksana bara api … Bahkan ketika mulut tidak berbicara, hati berbicara.”

Setiap pikiran, bahkan yang nampak “profan”, dapat diresapi oleh doa, “yang menerangi beberapa langkah di depan kita dan kemudian membuka segenap realitas yang mendahului dan melampauinya.” Doa Kristen, tegas Paus, “menanamkan harapan tak terkalahkan dalam hati manusia.” Cinta Allah, lanjut Paus, “bisa mengubah pengalaman apa pun yang kita sentuh dalam perjalanan kita menjadi kebaikan.”

Dalam hal ini, Paus mengutip Katekismus Gereja Katolik, yang mengatakan, “Kalau kita mendengar Sabda Tuhan dan mengambil bagian dalam misteri Paskah, kita belajar berdoa pada waktu-waktu tertentu. Tetapi Roh-Nya dikaruniakan kepada kita setiap saat, dalam peristiwa-peristiwa setiap hari, sebagai sumber doa.” Katekismus menegaskan bahwa “Waktu ada di tangan Bapa. Saat ini kita bertemu Dia, bukan kemarin atau besok, tapi hari ini.”

Ada orang, kata Paus, melihat masa depan tanpa menganggap hari ini apa adanya. Mereka hidup di dunia fantasi dan tidak tahu bagaimana menjalani realitas konkret saat ini.

Paus berkata, yang mengubah hari yang kita jalani ini menjadi rahmat adalah doa – atau lebih tepatnya, doa mengubah kita. Doa “mengalahkan amarah, menopang cinta, menggandakan sukacita, dan menanamkan kekuatan untuk mengampuni.” Rahmat hidup dan bekerja dalam kita. Nampaknya, masalah yang kita hadapi bukan lagi penghalang bagi kebahagiaan kita, tetapi seruan dari Allah, kesempatan bertemu dengan-Nya.

“Ketika pikiran marah atau tidak bahagia mengakibatkan kepahitan,” kata Paus, “kalian harus berhenti dan berpaling kepada Allah. Tuhan, yang ada di sana, akan memberi kalian kata dan nasihat yang tepat untuk terus maju tanpa kepahitan negatif ini. Kalau seseorang ditemani Tuhan, dia merasa lebih berani, lebih bebas dan juga lebih bahagia.”

Bapa Suci mengajak umat Kristen untuk selalu berdoa, bukan hanya untuk orang yang kita kasihi tetapi untuk semua orang, bahkan orang yang tidak kita kenal. “Marilah berdoa bahkan untuk musuh kita seperti yang sering Kitab Suci minta kita lakukan,” kata Paus seraya menambahkan, “doa mengarahkan kita ke arah kasih yang melimpah.”

Paus mengajak kita berdoa bagi orang yang sedih, dan bagi orang yang menangis dalam kesendirian dan putus asa yang bertanya-tanya apakah masih ada orang mencintai mereka. Doa seorang Kristen, kata Paus, menghasilkan mukjizat dengan menghadirkan belas kasih Kristus bagi orang miskin.

Kenyataannya, Yesus memandang dengan sangat lembut kerumunan orang yang lelah dan tersesat seperti domba tanpa gembala. Belas kasih, kedekatan, dan kelembutan, tegas paus, adalah “gaya” Tuhan.

Paus lebih lanjut menjelaskan, doa membantu kita mencintai orang lain, terlepas dari kesalahan dan dosa mereka. Orang itu selalu lebih penting daripada tindakannya. Dan Yesus melakukan hal itu. Dia tidak menghakimi dunia tetapi menyelamatkannya.

Bapa Suci heran, betapa buruk dan tidak bahagianya hidup orang yang selalu menghakimi dan mengutuk orang lain. Sebaliknya, desa Paus, bukalah hati kalian, maafkan, benarkan orang lain, dekati orang lain, miliki kasih sayang dan kelembutan seperti Yesus.

“Kita perlu mencintai setiap orang,” lanjut Paus, dan kita perlu mengingatkan diri sendiri bahwa kita semua orang berdosa “yang juga dicintai secara individu oleh Allah.” Dengan cara ini, “kita akan temukan bahwa setiap hari dan segala sesuatu mengandung fragmen misteri Allah.”

Katekismus lebih lanjut menegaskan, “adalah baik dan layak berdoa agar Kerajaan Keadilan dan Perdamaian mempengaruhi perjalanan sejarah.” Namun agar hal ini terjadi, “juga penting meresapi situasi-situasi biasa dan sehari-hari dengan bantuan doa. Semua bentuk doa dapat menjadi ragi yang dengannya Tuhan membanding-bandingkan Kerajaan Allah.”

Kita, tegas Paus, adalah makhluk rapuh, tapi kita tahu cara berdoa, martabat terbesar dan kekuatan kita. “Berdoalah setiap saat dan dalam setiap situasi karena Tuhan dekat,” desak Paus. “Dan kalau doa diucapkan sesuai hati Yesus, doa itu menghasilkan mujizat.” (PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Robin Gomes/Vatican News)

Paus dalam Audiensi Umum 10 Februari 2021 (Vatican Media)
Paus dalam Audiensi Umum 10 Februari 2021 (Vatican Media)

Tinggalkan Pesan