BHK

Menghadapi tantangan yang kian berat saat ini berkaitan dengan kuantitas, kualitas, regulasi pemerintah dan pandemi Covid-19, yang dimaknai adalah semangat misionaris pendahulu, kata Frater Maria Polikarpus dari Kongregasi Frater Bunda Hati Kudus (BHK).

“Saat ini, bekerja harus dalam team work bukan single fighter. Jika ingin berlari cepat, berlarilah sendiri, tetapi jika kamu ingin berlari jauh, berlarilah bersama-sama,” kata Ketua Yayasan Mardi Wiyata Pusat Malang yang mengelola 22 Satuan Pendidikan yang tersebar di Jawa Timur, Sumatra, Kalimantan (Nunukan), Sumba, Timor dan Flores, tujuh asrama serta satu 1 museum.

Maka, dalam rilis yang diterima PEN@ Katolik, 2 Februari, Frater Polikarpus BHK minta para pendidik yang bekerja di Satuan Pendidikan Yayasan Mardi Wiyata untuk “tidak menyerah dengan situasi dan kondisi saat ini, tetapi terus memaknai spiritualitas pendiri kongregasi dan pendahulu.”

Rilis itu dikeluarkan dalam rangka “93 tahun BHK Bermisi di Indonesia” yang dirayakan dengan Misa pada hari yang sama di Biara Frateran Bunda Hati Kudus Malang. Superior Kongregasi Frater BHK Frater Venansius Edi Budi Santoso BHK hadir dalam acara itu bersama Dewan Pimpinan Umum serta Pengurus Yayasan Mardi Wiyata Pusat Malang, serta kepala sekolah enam sekolah Mardi Wiyata di Sub Perwakilan Malang dan para guru.

Rilis itu menguraikan perjalanan Kongregasi Frater BHK dari Utrecht Belanda hingga Indonesia, tepatnya Malang, 2 Februari 1928. Hadirnya Tarekat BHK di Indonesia, jelasnya, tidak terlepas dari keprihatinan Uskup Utrecht Belanda Mgr Andreas Ignatius Schaepman.

“Saat itu, kondisi pendidikan di Utrecht sangat memprihatinkan dan sekolah Katolik tidak memiliki tenaga pendidik berkualitas dan terampil untuk membina kaum muda, sehingga mutu pendidikan sangat rendah dan terjadi degradasi moral di kalangan kaum muda,” Frater Poli.

Situasi itu, lanjut mantan Kepala Sekolah SMAK Frateran Maumere itu, membuat Gereja prihatin dan mengetuk nurani Uskup Schaepman untuk mendirikan Tarekat Frater Bunda Hati Kudus, 13 Agustus 1873, dengan tujuan menanggulangi masalah pendidikan.

Di Indonesia menurut mantan bendahara dan sekretaris Yayasan Mardi Wiyata Pusat Malang itu kongregasi ini memulai karya postulatnya di Keuskupan Malang dan Surabaya tahun 1928. “Mulanya pelayanan pendidikan dikhususkan bagi anak-anak Katolik dari Belanda dan Indo Belanda. Beberapa tahun kemudian pelayanan pendidikan dibuka untuk umum tanpa membedakan SARA,” lanjutnya.

Sebelum Perang Dunia II, lanjut Frater Poli, karya kongregasi dibuka di Kediri dan Palembang, kemudian ekspansi ke Ende tahun 1947 menangani ELS, ALS, Schackel School. Para frater itu mulai berkarya di Mataloko Bajawa tahun 1949 dan di Ndona Ende tahun 1951 serta daratan Timor.(PEN@ Katolik/Yuven Fernandez)

Tinggalkan Pesan