Barbara Jatta, Direktur Museum Vatikan
Barbara Jatta, Direktur Museum Vatikan

Mulai Senin, 1 Februari, Museum Vatikan dibuka kembali untuk tamu, sehingga bisa mengunjungi Kapel Sistina, Ruang Raphael, dan semua mahakarya seni, sejarah, dan kepercayaan lainnya pada koleksi-koleksi Paus. Museum akan buka Senin sampai Sabtu, dengan reservasi online.

Saat berbicara dengan Radio Vatikan bulan lalu, ketika penutupan Museum Vatikan diperpanjang karena situasi Covid-19 di Italia, Direktur Museum Vatikan Barbara Jatta berharap museum itu bisa resmi dibuka kembali untuk umum tanggal 1 Februari.

Jatta menjelaskan, seperti dilaporlan oleh Paolo Ondarza dari Vatican News, perpanjangan penutupan itu sesuai keputusan yang diambil oleh dewan pengurus pemerintahan Takhta Suci, dan sejalan dengan petunjuk pemerintah Italia.

Dia membenarkan bahwa rencana perjalanan tujuh kilometer yang dipetakan sepanjang Museum Vatikan untuk sejumlah kecil pengunjung, sesuai tindakan pencegahan anti-Covid, “tidak menimbulkan masalah kesehatan atau sarana infeksi.” Maka, ujarnya, “adalah pesan sangat bagus untuk bisa membuka kembali koleksi-koleksi kita untuk umum.”

Jatta adalah salah satu peserta konferensi virtual sehari “More Museum” bulan Januari, yang bertujuan merefleksikan masa depan museum-museum, kelahiran kembali mereka setelah krisis covid dan skenario-skenario baru untuk koleksi seni. Dia mengatakan penggunaan platform dan teknologi inovatif sangat menjadi pusat perhatian.

“Kami mengalami peningkatan pengunjung sangat besar tidak hanya melalui situs kami tapi juga melalui saluran media sosial kami seperti Youtube dan Instagram,” jelas wanita itu. Jumlahnya, katanya, meningkat secara eksponensial terutama selama periode lockdown ketat, dan dia menyoroti keberhasilan prakarsa yang dilakukan bekerja sama dengan Dikasteri Komunikasi yang memprediski publikasi harian Instagram mengenai karya seni milik koleksi Museum Vatikan.

Yang tak kalah populera, lanjutnya, adalah video pendek “Face to Face” yang menunjukkan bagaimana Museum terus bekerja meski ditutup berkat kontribusi kurator, asisten di berbagai departemen, dan tukang seni, yang membagikan apa yang mereka sedang lakukan.

Sadar akan fakta bahwa penggunaan media sosial bekerja baik untuk Museum selama lockdown yang ketat dan sedikit berkurang saat Museum dibuka, Jatta berharap peluang yang diberikan oleh media sosial terus menjadi bagian kehidupan Museum itu.

“Syukur juga atas pilihan tiket lebih murah, belakangan ini kami mengalami peningkatan pengunjung muda antara kelompok usia 18 dan 30 tahun,” katanya.

Barbara Jatta menegaskan kembali bahwa aktivitas dalam Museum Vatikan tidak pernah berhenti. “Tanggal 9 Maret kami menutup pintu-pintu sejalan dengan lockdown total nasional. Hanya sedikit sekali orang yang masuk kerja. Sejak 6 November, ketika kami tutup lagi, setelah pembukaan kembali pertama 1 Juni, semua tukang seni dan semua personel yang menjaga Museum tetap bekerja,” dengan menghormati aturan dan tindakan pencegahan demi menjaga kesehatan.

Pekerjaan editorial tidak pernah berhenti. Semua kegiatan penelitian departemen, kegiatan restorasi, lokasi konstruksi dan laboratorium sudah aktif dan berjalan,” ujarnya. Dalam arti tertentu, kata Jatta, seperti direktur museum internasional lainnya, dia telah mengambil kesempatan di saat pameran dan acara ditangguhkan, “untuk fokus pada koleksi, pada pemeliharaan ruang pameran dan simpanan, pada katalog, pada penelitian dan publikasi.”

Di akhir wawancara, Barbara Jatta berharap agar di waktu dekat Museum dapat membuka pintunya untuk publik, sebuah harapan yang kini membuahkan hasil.(PEN@ Katolik/paul c pati/Vatican News)

Museum Vatikan

Museum atikan 3Museum Vatikan 2

Tinggalkan Pesan