Seorang biarawati menghiasi patung Maria dengan bunga (ANSA)
Seorang biarawati menghiasi patung Maria dengan bunga (ANSA)

Kebanyakan pria dan wanita religius yang mengikrarkan kaul kekal di tahun 2020 berpendidikan tinggi, berlatar belakang keluarga Katolik, dan pertama kali mempertimbangkan panggilan di usia relatif muda, demikian hasil penelitian baru yang dilakukan Center for Applied Research in the Apostolate (CARA) berdasarkan tugas dari Komisi Klerus, Hidup Bakti, dan Panggilan dari Konferensi Waligereja AS menjelang Hari Doa Sedunia untuk Hidup Bakti yang akan dirayakan sedunia tanggal 2 Februari.

CARA menerima tanggapan dari 549 superior jenderal dari 747 yang ada dengan response rate sebesar 73% di antara lembaga-lembaga religius. Dari 172 religius pria dan wanita yang mengikrarkan kaul kekal tahun 2020, 55 suster dan biarawati serta 57 bruder dan imam menanggapi survei itu dengan response rate 65%.

Menurut survei itu, rata-rata usia religius responden angkatan 2020 adalah 38 tahun. Separuh dari mereka berusia 34 tahun ke bawah. Rata-rata mereka berusia 19 tahun saat pertama mempertimbangkan panggilan hidup religius. Tiga perempat responden berasal dari keluarga di mana kedua orang tuanya beragama Katolik dan 84% beragama Katolik sejak lahir.

Sembilan dari sepuluh (89%) melaporkan, seseorang dorong mereka mempertimbangkan panggilan hidup religius. 45% didorong oleh pastor paroki mereka, 41% oleh teman, dan 40% oleh biarawan atau biarawati, sementara 30% mengatakan mereka didorong oleh ibu mereka dan hanya 18% oleh ayah mereka.

Survei itu juga menemukan bahwa angkatan 2020 berpendidikan tinggi. Menurut temuan itu, seperempat responden sudah memperoleh gelar sarjana sebelum memasuki lembaga religius mereka. Tiga perempat (75%) memasuki lembaga religius dengan setidaknya gelar sarjana (71% untuk wanita dan 80% untuk pria). Selain itu, hampir sembilan per sepuluh (85%) dari responden religius melaporkan beberapa jenis pengalaman kerja sebelum memasuki ordo religius mereka.

Mengenai latar belakang etnis dan ras, tujuh dari sepuluh mengidentifikasi diri sebagai orang Kaukasia, Amerika Eropa, atau kulit putih, sementara 13% mengidentifikasi sebagai Penduduk Asia atau Kepulauan Pasifik atau Pribumi Hawaii, 7% sebagai Amerika keturunan Afrika dan 5% sebagai orang Hispanik. Tiga perempat responden lahir di Amerika Serikat. Dari mereka yang lahir di luar AS, negara asal yang paling umum adalah Vietnam.

Hari Doa Sedunia untuk Hidup Bakti yang diresmikan oleh Santo Paus Yohanes Paulus II tahun 1997, dirayakan bersamaan dengan Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah yang juga dikenal sebagai Hari Lilin, yang dengan pemberkatan dan terang lilin Kristus memperingati bahwa Kristus adalah terang dunia. Maka, orang-orang yang menjalani hidup bakti dipanggil untuk memantulkan terang Yesus Kristus kepada semua orang.

Untuk tahun ini, yang akan dirayakan oleh paroki-paroki AS di akhir pekan 6-7 Februari, Uskup James F Checchio, ketua Komisi Klerus, Hidup Bakti dan Panggilan, mengundang umat beriman untuk kembali berterima kasih kepada Kristus untuk karunia hidup bakti.

“Dengan doa dan kerasulan, orang-orang yang menjalani hidup bakti memberikan kepada kita contoh kasih Kristus yang penuh belas kasihan, dan khususnya di masa-masa tidak pasti dan sulit ini, mereka mengarahkan kita pada kenyataan bahwa Kristus adalah tujuan akhir kita,” kata uskup itu.(PEN@ Katolik/pcp/Lisa Zengarini/Vatican News)

Tinggalkan Pesan