Adele Bonolis
Adele Bonolis

Adele Bonolis lahir di Milan, 14 Agustus 1909. Ia anak bungsu dari empat bersaudara, yang lahir dalam keluarga yang tak menjalankan agama meskipun prinsip-prinsip dasar mereka jalani. Ibu dan ayahnya “umat beriman” tetapi tidak aktif dalam kegiatan Gereja, termasuk Misa. Tapi, anak-anak mereka dibaptis. Adele dibaptis di Basilika Santo Ambrogio.

Adele menjadi anggota Women’s Youth, yang merupakan bagian dari Catholic Action. Di sinilah ia menerima pendidikan pertama dalam ajaran Katolik dan mulai terus belajar imannya. Adele sekolah di sekolah menengah klasik. Ia selalu mendapat nilai bagus dan menerima diploma. Dia lulus dari Fakultas Sastra dan Filsafat di Universitas Katolik Hati Kudus. Setelah lulus, dia jadi guru agama di sekolah menengah.

Perjumpaan di masa kecil dengan pelacur adalah momen penting dalam kehidupan Adele. Dia bersama ayahnya ketika melihat seorang pelacur lewat. Ayahnya menyuruhnya untuk tidak melihat perempuan itu, tetapi Adele tidak mengindahkannya. Penampilan perempuan itu menarik keingintahuannya sebagai anak kecil, dan Adele terus mengamatinya. Inilah titik balik bagi gadis itu. Itulah saat singkat yang membantunya memutuskan bahwa nanti di saat dewasa, dia akan bantu para perempuan ini mendapatkan kembali martabat mereka yang hilang dan ditebus secara sosial. Dia ingin bantu memberi mereka kesempatan untuk hidup baru. Dia tidak tahu bagaimana melakukan hal itu.

Adele menunjukkan tekad dan punya kualitas kepemimpinan yang tidak salah lagi. Tahun 1947, dia pimpin perkemahan musim panas untuk anak-anak yang membutuhkan di kota Lecco yang dilanda kemiskinan. Dia lalu ditugaskan menjadi pengawas Women’s Youth of Catholic Action tingkat paroki. Kemampuan alaminya untuk mengkoordinasikan dan mengatur kelompok ini membuatnya melayani para perempuan yang terancam bahaya di pusat keuskupan, dan, tak lama kemudian, di kota Milan. Di sinilah rencana-rencananya untuk membantu para pelacur yang terlupakan mulai terbentuk.

Tahun 1957, menyusul lahirnya Undang-Undang Merlin yang baru, rumah-rumah prostitusi atau pelacuran diizinkan untuk ditutup. Prostitusi sendiri tidak dilarang, tapi rumah-rumah bordil dilarang. Salah satunya, yang terletak di Montano Lucino, menjadi pusat penerimaan para mantan pelacur. Namanya, Pusat Orientasi Perempuan Maria Assunta. Dan, dibuka juga Casa San Paolo di Vedano, Casa Maria dell Grazie di Cibrone, dan Villa Salus di Lenno.

Belas kasih Adele meluas ke perempuan lain yang menderita, seperti mantan narapidana dan orang sakit jiwa. Dia yakin, iman membuat kami sangat percaya akan nilai pribadi manusiawi dan tidak ada masa lalu dari seseorang bisa cukup untuk membatalkan nilai misterius namun nyata ini.

Perlahan tapi pasti, para sukarelawan sependapat dengan dia. Tapi pertama-tama, mereka harus berkomitmen pada konsep “merehabilitasi cinta, melalui rekonstruksi pribadi.” Di panti-pantinya, dia inginkan suasana kekeluargaan di mana setiap orang saling membantu. Dia percaya, suasana seperti ini mengarah pada rehabilitasi dan membantu mereka siap masuk kembali ke masyarakat. Kadang-kadang sampai 30 orang tinggal di panti-pantinya.

Kesehatan Adele mulai menurun, dan diketahui dia menderita tumor usus. Dia melanjutkan pelayanan selama bisa, tetapi akhirnya, penyakitnya mencegahnya untuk melanjutkan. Dia meninggal 11 Agustus 1980. Saat pemakaman, Mgr Libero Tresoldi berkata, “Mendekati Adele Bonolis, kesannya adalah seseorang yang menemukan dalam dirinya titik dukungan, tempat perlindungan, harapan untuk melanjutkan perjalanan. Dia selalu peduli dengan berperilaku seperti layar perahu yang mencari tiupan angin dan membiarkan diri dituntun olehnya.”

Tanggal 21 Januari 2021, Paus Fransiskus menyatakan Adele Bonolis sebagai perempuan yang memiliki “Kebajikan Heroik” dan dia menjadi Venerabilis Adele Bonolis. Semakin dekat beatifikasinya.(PEN@ Katolik/pcp/Larry Peterson/Aleteia)

Tinggalkan Pesan