Presiden baru Amerika Serikat Joe Biden
Presiden baru Amerika Serikat Joe Biden

“Pada kesempatan pelantikan Anda sebagai Presiden keempat puluh enam Amerika Serikat, saya menyampaikan ucapan selamat yang hangat dan jaminan doa saya agar Tuhan Yang Mahakuasa memberikan Anda kebijaksanaan dan kekuatan dalam menjalankan jabatan tinggi Anda.”

Demikian Paus Fransiskus membuka pesannya kepada Presiden AS Joe Biden. Hari Rabu, 20 Januari, dua orang dari Partai Demokrat, Joseph R Biden dan Kamala Harris, mengambil sumpah dan dilantik sebagai presiden dan wakil presiden ke-46.

Pelantikan Biden terjadi saat perpecahan intens di negara itu. Dua minggu lalu, 6 Januari, saat Kongres mengesahkan hasil pemilihan presiden, pendukung Presiden Donald Trump menyerbu Gedung Capitol di Washington DC, dan menduduki gedung itu beberapa jam.

Paus mengecam tindakan kekerasan ini dalam Angelus 10 Januari. Setelah serangan di Capitol, yang akibatkan lima orang meninggal, Dewan Perwakilan Rakyat memakzulkan Donald Trump atas tuduhan ‘menghasut pemberontakan.’ Meskipun bukan lagi presiden, kemungkinan persidangan Senat atas tuduhan tersebut masih dapat diterima.

Dalam pesannya kepada Presiden Biden, Paus berharap agar “di bawah kepemimpinan Anda, rakyat Amerika terus mendapatkan kekuatan dari nilai-nilai politik, etika dan agama yang luhur yang telah menginspirasi bangsa sejak didirikan.”

Amerika Serikat merayakan 244 tahun demokrasi sejak didirikan tahun 1776. Presiden Joe Biden menaiki jabatan itu di saat negara itu terus memerangi salah satu dari krisis virus corona terbesar di dunia. Seraya mendorong orang Amerika untuk mengikuti secara online, program pelantikan ke-59 itu diisi degan peringatan bagi mereka yang meninggal dalam pandemi ini, dan pengakuan akan ditunjukkan bagi mereka yang telah menunjukkan cinta dan ketahanan terhadap mereka yang membutuhkan.

Sejauh ini, 402 ribu orang telah meninggal akibat Covid-19 di Amerika Serikat. Lebih dari 24 juta kasus yang dikonfirmasi dilaporkan di sana. “Di saat krisis besar yang dihadapi keluarga manusia perlu tanggapan berpandangan jauh ke depan dan bersatu,” tulis Paus Fransiskus dalam pesannya, “Saya berdoa agar keputusan-keputusan Anda dipandu oleh kepedulian untuk membangun masyarakat yang ditandai dengan keadilan dan kebebasan otentik, bersama dengan penghormatan yang tiada henti terhadap hak dan martabat setiap orang, terutama yang miskin, yang rentan, dan yang tidak memiliki suara.”

Paus juga meminta kepada Tuhan, sumber semua kebijaksanaan dan kebenaran, “untuk membimbing upaya Anda dalam mendorong pemahaman, rekonsiliasi dan perdamaian di Amerika Serikat dan di antara negara-negara di dunia untuk memajukan kebaikan bersama universal. Dengan perasaan ini, saya mohon limpahan berkat bagi Anda, keluarga Anda dan rakyat Amerika terkasih.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan