Lima roti dan dua ikan

Ada pabrik pembuatan botol yang baru saja memproduksi sejumlah botol yang terbuat dari bahan yang sama. Botol-botol itu berbentuk serupa, dan dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Botol pertama dikirim ke pabrik pengisian air mineral, kemudian dijual seharga 3 ribu rupiah. Botol kedua dikirim ke produsen jus buah, lalu dijual seharga 10 ribu rupiah. Botol ketiga dikirim ke petani madu asli, dan dijual seharga 200 ribu rupiah. Botol keempat dikirim ke perusahaan minyak wangi terkenal, kemudian dijual seharga 1 juta. Botol kelima terjatuh dalam selokan dan terisi air got yang sangat kotor dan dipungut oleh tukang loak lalu dijual 50 rupiah. Meski kelima botol itu botol yang sama, namun yang membuat harga mereka berbeda adalah isinya.

Sama halnya dengan hidup kita. Kita semua adalah manusia yang diciptakan oleh Tuhan dengan harkat dan martabat yang sama. Akan tetapi, bagaimana kita mengisi hidup kita itulah yang membuatnya menjadi lebih berharga. Oleh karena itu, “apa yang perlu kita lakukan agar hidup kita dapat menjadi lebih berharga di mata Allah?”

Sahabat terkasih, di dalam bacaan Injil Markus 6: 34-44, kita membaca kisah tentang mujizat Yesus yang memberi makan 5000 orang atau yang dikenal juga dengan mujizat melipat gandakan roti. Saat itu, para murid memberikan lima roti dan dua ikan yang mereka punya kepada Yesus. Lalu, seperti ada tertulis, “Setelah mengambil lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat. Lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada para murid, supaya dibagi-bagikan kepada orang banyak itu. Dan mereka semua makan sampai kenyang.”

Para ahli Kitab Suci berpendapat bahwa di antara sekian banyak orang yang mengikuti Yesus, pasti ada banyak di antara mereka yang juga membawa bekal (roti). Tetapi, di sini kita dapat melihat bagaimana roti yang dimiliki oleh para rasul yang hanya sedikit itu (lima potong) mampu memberi makan 5000 orang lebih hingga kenyang. Sama-sama roti yang terbuat dari gandum, namun yang membuatnya menjadi berbeda ialah karena kelima roti itu dipersembahkan kepada Yesus untuk diberkati oleh-Nya.

Demikian pula dengan hidup kita. Jangan sampai kita menyerahkan dan mengisi hidup kita dengan sesuatu yang tidak berguna atau sesuatu yang bukan berasal dari Allah. Sungguh, hidup kita akan menjadi berharga dan bahkan mampu menjadi berkat bagi sesama apabila kita mau menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan supaya Ia dapat mengisi hidup kita dengan berkat dan kasih-Nya.

Dan, syukur pada Allah, Tuhan Yesus telah menunjukkan teladan-Nya terlebih dahulu kepada kita, yaitu ketika Ia terentang di atas kayu salib, Ia menyerahkan nyawa-Nya ke dalam tangan Bapa-Nya. Kematian yang sama sebagai seorang manusia, namun karena Allah sungguh berkenan, maka kematian-Nya telah memberi hidup kekal kepada semua orang yang percaya kepada-Nya.

Semoga, semua ini dapat menginspirasi kita semua supaya kita dapat semakin menghargai Ekaristi Kudus (komuni) yang kita sambut. Harapannya, hidup kita pun akan menjadi lebih berharga, sebab ada Yesus yang mengisi dan memberkati hidup kita.

Santo Agustinus mengatakan, “Jika kita menerima Ekaristi dengan layak, kita menjadi apa yang kita terima. Ketika kita menerima Kristus, kita menjadi satu tubuh di dalam Dia, dan melalui Dia, kita menjadi satu dengan Bapa dan Roh Kudus. Kita menjadi apa yang kita makan.”

Frater Agustinus Hermawan OP


Warning: A non-numeric value encountered in /home/martinus/public_html/pena/wp-content/themes/Newspaper/includes/wp_booster/td_block.php on line 352

1 komentar

  1. Mohon maaf jika diperkenankan saya mohon dikirim renungan ini dan akan saya sebarkan ke group stasi kami, bahkan ke Paroki kami, melalui email, karena saya mempunyai beberapa group umat Katolik. Trimakasih mohon maaf jika tidak berkenan.

Leave a Reply to Dionisius Lisiyanto Batal