Pastor José Rodrigo López Cepeda bersama putra altarnya. (Semua foto dalam tulisan ini diambil dari Facebook @ parroquia.delapaz)
Pastor José Rodrigo López Cepeda bersama putra altarnya. (Semua foto dalam tulisan ini diambil dari Facebook @ parroquia.delapaz)

Setelah enam bulan ditahbiskan imam, Pastor José Rodrigo López Cepeda dikirim oleh uskupnya untuk melayani Paroki Tempat Ziarah Santa Orosia di Spanyol. Pastor José menggantikan seorang imam yang telah menjadi pastor di sana selama hampir 30 tahun.

Awalnya tidak mudah bagi imam muda itu, karena umat sudah terbiasa dengan pastor yang lama dan caranya melakukan sesuatu. Meskipun sulit, kata Pastor José, “tugas itu membuahkan hasil, tapi hasilnya tidak akan lebih banyak sesudahnya kalau tanpa bantuan seorang anak laki-laki bernama Gabriel.” Imam itu membagikan ceritanya di Facebook.

Minggu kedua berada di paroki itu, satu pasangan muda datang berbicara dengan Pastor José. Mereka datang bersama putra mereka berusia delapan tahun, Gabriel, anak laki-laki dengan tantangan tertentu yang Pastor José gambarkan, “istimewa segalanya.”

Orang tua Gabriel meminta imam baru itu untuk mengangkat anak mereka sebagai putra altar. Awalnya, pastor itu ragu, bukan karena keterbatasan yang mungkin dimiliki bocah itu, tapi karena dia kewalahan dengan semua kesulitan mengambil alih kepemimpinan paroki itu.

Anak laki-laki kecil itu punya “senjata rahasia,” untuk memenangkan hati imam itu. Ketika Pastor José bertanya apakah dia ingin jadi putra altar, dia bukan menjawab secara lisan tapi memeluk pinggang imam itu. Bagaimana dia bisa berkata “tidak?”

Pastor José menyuruh anak laki-laki itu datang untuk Misa 15 menit lebih awal pada hari Minggu berikutnya agar dia bisa tepat waktu melayani di altar untuk pertama kalinya. Gabriel tiba tepat waktu bersama seluruh keluarganya, yang sangat ingin melihatnya melayani Misa. Dia mengenakan jubah merah dan superpli putih dengan pinggiran renda yang dibuat oleh neneknya.

Kemudian  Pastor José menjelaskan, saya harus mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk Ekaristi. Saya tidak punya koster atau sakristan atau orang yang membunyikan lonceng, maka saya harus lari bolak-balik, dan saat Misa akan mulai, barulah saya sadar bahwa Gabriel tidak tahu apa-apa tentang bagaimana membantu. Karena waktu singkat, saya dapat ide untuk mengatakan kepadanya, Gabriel, kau harus lakukan apapun yang saya lakukan, oke?

Gabriel adalah anak kecil yang sangat patuh, dan sangat literal. Ketika Misa dimulai dan pastor mencium altar, bocah itu juga melakukannya. Ketika tiba saat homili, Pastor José memperhatikan semua orang tersenyum dan memperhatikan, tetapi bukan kepadanya. Mereka melihat putra altar kecil lucu itu, yang dengan patuh sebaik mungkin meniru setiap gerakan imam itu.

Setelah Misa, cerita Pastor José, dia mengatakan kepada Gabriel apa yang harus dan tidak harus dia lakukan selama Misa. Antara lain, dia mengklarifikasi bahwa hanya imam yang harus mencium altar; altar melambangkan Kristus, dan imam, saat melaksanakan sakramen itu, ikut bersama Dia dengan secara khusus.

“Dia menatap saya dengan mata besar bertanya-tanya, tanpa memahami sepenuhnya penjelasan yang saya berikan kepadanya,” tulis Pastor José. Meskipun Gabriel patuh, dia terus terang, dan tidak ragu-ragu mengatakan, “Aku juga ingin menciumnya.” Penjelasan berulang-ulang tidak membantu mengubah keinginan anak laki-laki itu untuk mencium altar. Tetapi akhirnya, Pastor José mengatakan dia akan mencium altar “untuk mereka berdua.” Bocah itu sepertinya menerima solusi ini, setidaknya untuk saat ini.

Hari Minggu berikutnya ketika Misa dimulai, pastor itu mencium altar dan melihat apa yang akan dilakukan bocah itu. Gabriel tidak mencium altar bersama imam itu. Sebaliknya, dia menempelkan pipinya ke altar dan tetap melakukannya “dengan senyum lebar di wajah kecilnya” sampai Pastor José menyuruhnya berhenti.

Setelah Misa, imam itu membahas lagi instruksi bersama bocah itu, dan mengingatkannya bahwa dia tidak boleh mencium altar, dan bahwa pastor melakukannya “untuk mereka berdua.” Jawaban anak laki-laki itu membuatnya terkejut, “Aku tidak menciumnya; (altar) itu menciumku.” Sambil terkejut, Pastor José berkata, “Gabriel, berhentilah bermain-main dengan saya.” Anak laki-laki itu tidak mundur. “Itu benar!” katanya. “Dia mencium-cium saya.”

Kesederhanaan yang indah! Mendengar itu, sulit untuk tidak mengingat kata-kata Yesus tentang anak-anak, yang dicatat oleh Penginjil Santo Mateus:

Waktu itu berkatalah Yesus, Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil … .”(Mat 11:25)

“Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” (Mat 18: 3)

Yesus berkata kepada mereka, ‘Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusui, Engkau telah menyediakan puji-pujian. (Mat 21:16)

Pastor José mengatakan bahwa kata-kata Gabriel membuatnya merasakan “kecemburuan suci.” Dia ingin ciuman-ciuman juga! Maka, setelah semua orang keluar, dia menutup gereja, pergi ke altar, dan meniru putra altar kecilnya. Dia menempelkan pipinya ke altar dan berdoa, “Tuhan, ciumlah aku seperti Engkau mencium Gabriel.”

Dalam publikasinya, Pastor José mengatakan bahwa Gabriel kecil mengajarinya tentang pentingnya membiarkan diri dikasihi oleh Yesus terlebih dahulu, dan pentingnya menjaga diri tetap bersatu dengan-Nya di masa-masa sulit. Imam itu mengatakan, “Anak laki-laki itu mengingatkan saya bahwa pekerjaan itu bukanlah pekerjaan saya, dan bahwa memenangkan hati orang hanya bisa terjadi berdasarkan keintiman yang manis dengan Kristus, satu-satunya Imam.”

Sejak itu, jelasnya, setiap kali dia mencium altar, dia juga letakkan pipi di atasnya “untuk menerima ciuman-Nya,” karena “bersama putra altar dan guru saya Gabriel yang terkasih, saya belajar bahwa sebelum mencium altar Kristus, saya perlu untuk dicium oleh-Nya.”

Saat ini, Gabriel sudah berusia 25 tahun dan masih tinggal di kota yang sama. Pastor José Rodrigo López Cepeda sekarang menjalankan pelayanan imamatnya di Meksiko (negara asalnya), dan belum kembali ke Spanyol sejak 2010. Terakhir kali dia pergi, dia menyapa temannya, yang saat itu masih remaja. Meskipun jaraknya jauh, mereka berdua sama-sama mengenang kisah indah saat Kristus adalah dan akan selalu menjadi pelaku utama.

(Kisah yang ditulis oleh Cecilia Zinicola dan Matthew Green diterbitkan tanggal 25 Desember 2020 di Aleteia dan diterjemahkan oleh PEN@ Katolik/pcp)

PADRE-JOSE-RODRIGO-LOPEZ-CEPEDA-04-@parroquia.delapaz 1PADRE-JOSE-RODRIGO-LOPEZ-CEPEDA-05-@parroquia.delapaz 2PADRE-JOSE-RODRIGO-LOPEZ-CEPEDA-02-@parroquia.delapaz 3

Tinggalkan Pesan