Kardinal Oswald Gracias. Foto Keuskupan Pagadian
Kardinal Oswald Gracias. Foto Keuskupan Pagadian

Kelahiran Yesus adalah tanda dan pesan harapan terkuat dalam dunia yang gelap oleh bayang-bayang ketakutan dan ketidakpastian yang disebabkan oleh pandemi virus corona. Vatican News menampilkan suara-suara para pemimpin religius dan kepala-kepala organisasi amal kasih Kristen karena mereka memandang masa depan, saat “Tidak ada yang diselamatkan sendirian.”

Saat merayakan kelahiran Anak Yesus, yang membawa terang harapan dan keselamatan ke dunia, Uskup Agung Bombay Kardinal Oswald Gracias merenungkan ensiklik terbaru Paus Fransiskus, Fratelli tutti, yang katanya bisa menjadi surat gembala Natal. Saat membacanya, jelas kardinal itu, benar-benar muncul semangat kelahiran Yesus: Natal.

Kardinal Gracias mengingat bahwa Yesus dilahirkan dalam “keadaan sangat menyedihkan,” di kandang dan “bukan di istana.” Ini mengingatkan kita akan perlunya memperhatikan orang miskin, “punya hati yang kuatir akan mereka, mata yang melihat kesulitan mereka, tangan yang menjangkau mereka. Cinta untuk orang miskin adalah apa yang harus Natal berikan kepada kita.”

“Ketika Yesus datang ke Betlehem, tidak ada kamar untuk mereka di penginapan,” kata Kardinal Gracias. Hal ini, lanjut kardinal, mengingatkan kita pada semua kaum migran yang diberitahukan bahwa tidak ada tempat bagi mereka. “Mereka dalam penerbangan yang sama dengan Yesus, Maria dan Yusuf,” kata kardinal.

Kardinal Gracias lalu mengatakan bahwa pernyataan tentang kelahiran Yesus diberikan oleh para malaikat kepada semua orang, “tetapi pertama-tama kepada para gembala.” Para gembala, jelas kardinal, “adalah masyarakat adat.” Ini mengingatkan bahwa masyarakat adat, yang begitu banyak mengalami diskriminasi, harus dihormati dan diperhatikan.

Uskup Agung Bombay itu juga mengingatkan bahwa Yesus lahir di sebuah kandang yang “dikelilingi alam.” Tak ada tangisan ketidaknyamanan di sana. Ini mengingatkan “kewajiban kita sendiri untuk menjaga rumah kita bersama.”

Kardinal Gracias mengingatkan bahwa pesan Laudato si adalah bahwa “Allah menciptakan kebaikan Bumi, bukan hanya untuk satu generasi tetapi untuk semua.” Namun demikian, kita mengeksploitasinya, lanjut kardinal itu.

Menurut Kardinal Gracias, kita berada di tengah pandemi, dan satu hal yang sangat jelas adalah perlunya solidaritas, agar kita semua berkumpul sebagai saudara dan saudari dari satu keluarga. “Semuanya adalah ‘kita,” kata Kardinal Gracias. “Itulah pesan Natal.”

***

Saat merayakan kelahiran bayi Yesus yang membawa terang harapan dan keselamatan ke dunia, Uskup Agung Birighham Mgr Bernard Longley merenungkan merefleksikan suasana tidak biasa yang sangat menandai tahun lalu dan mendorong umat beriman untuk membagikan kabar gembira Natal:

Uskup Agung Longley merenungkan bagaimana kita berkumpul tahun ini untuk merayakan pesta besar Natal dalam keadaan yang sangat tidak biasa, dan menjelang akhir tahun apa yang sangat tidak biasa bagi kita semua.

Mgr Longley mengajak umat beriman tidak membiarkan apa pun “memperkecil sukacita kita dalam merayakan kelahiran Juruselamat kita Yesus Kristus,” dan mengatakan bahwa pengalaman tahun 2020 “memberikan makna lebih dalam pada perayaan kita.”

“Kita tahu bahwa bagi banyak orang tahun ini telah membawa lebih banyak kesedihan dan kecemasan,” kata uskup agung itu, dan mengubah cara hidup kita semua, tetapi secara khusus di saat-saat seperti ini tatkala “kita membutuhkan fondasi iman.”

Uskup Agung Longley mengajak semua umat Kristen untuk memikirkan makna kedatangan Allah ke dunia kita, dan untuk membagikan “pesan luar biasa kisah Natal” dengan sesama.

***

Merayakan kelahiran bayi Yesus yang membawa terang harapan dan keselamatan ke dunia, Suster Patricia Murray, Direktur Eksekutif Perhimpunan Para Superior Jenderal Sedunia (International Union of Superiors General, UISG) menggali akar-akarnya sendiri dan memberi pesan dari tradisi Celtic kepada kita:

Suster Patricia memberikan kepada kita sebuah doa bagi semua orang yang merasa membutuhkan cahaya penuntun:

Jika jalanmu dihalangi oleh bayangan, semoga Tuhan mengelilingimutetap terang, tanpa kegelapan.
Jika jalanmu menjadi sasaran konflik, semoga Tuhan, mengelilingimutetap dicintai, tanpa kebencian.
Jika jalanmu terancam oleh kekhawatiran, semoga Tuhan, mengelilingimutetap damaitanpa ketakutan.
Sudah lama kami menunggumu, Ya Tuhan. Kegelapan sudah tertanam dalam. Kami rindukan kedatangan-Mudi sini di antara kami di tempat Engkau berada saat ini.
Kami tidak akan takut pada bayangan-bayangan yang mengelilingi kami karena Engkau datang di antara kami.
Kami menunggu suara tangisan malam hari, sukacita yang mengikuti rasa sakit, datangnya Harapan ke dunia kami.

UISG adalah badan Internasional yang berakar pada Kristus, dan mewakili Kongregasi-Kongregasi Para Religius Wanita di seluruh dunia. UISG berusaha memberi kesaksian dan mewartakan identitas kehidupan religius apostolik dalam semua keragamannya. Misi UISG adalah membangun jembatan yang menjangkau jarak, pembatasan dan batas guna menciptakan cara-cara berkomunikasi, berkomunitas dan bersekutu bagi para anggota. Tujuannya adalah meningkatkan pemahaman tentang kehidupan religius, dan para anggotanya terlibat dalam berbagai proyek termasuk perang melawan perdagangan manusia, perlindungan kaum migran, dialog antaragama, pendidikan, serta Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan.(PEN@ Katolik/pcp)

 

Tinggalkan Pesan