WEB3-ADVENT-WREATH-CHURCH-CHRISTMAS-CANDLES-PRIEST-GAUDATE-SUNDAY-Shutterstock

Oleh Philip Kosloski

Paus Benediktus XVI menjelaskan bahwa sukacita masih mungkin di dunia dengan begitu banyak penderitaan.

Hari Minggu Ketiga Adven dikenal sebagai “Minggu Gaudete,” sebuah kata bahasa Latin yang berarti “bersukacitalah.” Minggu ini dinamakan seperti kata kata-kata pertama dari bacaan kedua, karena Natal sudah dekat dan Gereja mengangkat suasana pertobatan Adven untuk mengarahkan hati kita pada sukacita yang akan datang.

Paus Benediktus XVI merenungkan tema ini dalam sebuah Angelus Minggu di tahun 2007, dan menyebutkan sebuah pertanyaan yang sering diajukan sehubungan dengan penderitaan besar yang masih ada di dunia. Paus itu mengatakan, “Beberapa orang bertanya: tetapi, apakah sukacita ini masih mungkin saat ini?”

Pertanyaan itu yang sangat penting dijawab, karena sulit melihat cara kita bersukacita ketika begitu banyak dari kita menderita.

Benediktus XVI menunjuk orang-orang kudus sebagai kunci untuk membuka sukacita Kristiani.

Pria dan wanita dari segala usia dan kondisi sosial, dengan senang hati mendedikasikan keberadaan mereka untuk orang lain, memberikan dengan kehidupan mereka! Bukankah [Santa] Bunda Teresa dari Kalkuta merupakan saksi tak terlupakan tentang sukacita Injil sejati di zaman kita? Setiap hari dia menjalani kesengsaraan, degradasi manusia dan kematian. Jiwanya mengetahui cobaan-cobaan dari malam iman yang gelap, namun dia memberikan senyum Allah kepada semua orang. Dalam salah satu tulisannya, kita membaca, “Dengan tidak sabar kita menunggu surga, tempat Allah berada, tetapi berada di surga bahkan di bumi ini dan mulai saat ini adalah dalam kekuatan kita. Menjadi bahagia bersama Allah berarti mencintai seperti Dia, membantu seperti Dia, memberi seperti Dia, melayani seperti Dia” (The Joy of Giving to Others, 1987, hlm. 143). Ya, sukacita memasuki hati orang-orang yang mengabdikan diri untuk melayani orang kecil dan miskin. Allah tinggal di dalam orang-orang yang mencintai seperti ini dan jiwa-jiwa mereka bersukacita.

Kunci kegembiraan adalah melayani orang lain. Ini sesuatu yang tidak selalu kita pahami, karena kita sering mencoba untuk “membuat” kebahagiaan.

Sebaliknya, jika orang mengidolakan kebahagiaan, mereka tersesat dan sangat sulit bagi mereka untuk menemukan sukacita yang Yesus bicarakan. Sayangnya, inilah yang ditawarkan oleh budaya yang menggantikan Allah dengan kebahagiaan individu, pola pikir yang berdampak mencari kesenangan dengan segala cara, menyebarkan penggunaan narkoba sebagai pelarian, perlindungan di surga buatan yang kemudian terbukti tak bisa dipercaya sepenuhnya.

Di atas segalanya, kita perlu ingat bahwa sukacita abadi tidak bisa ditemukan dalam upaya kita sendiri, tetapi hanya di dalam Tuhan. Dia sendiri yang bisa memberi sukacita yang kita cari.

Saudara-saudari yang terkasih, seseorang bisa tersesat bahkan di hari Natal, seseorang bisa mengganti  perayaan yang sebenarnya dengan perayaan yang tidak membuka hati pada sukacita Kristus. Semoga Perawan Maria membantu semua umat Kristen dan orang-orang yang mencari Alla untuk mencapai Betlehem, untuk menjumpai dengan Anak yang lahir untuk kita, untuk keselamatan dan untuk kebahagiaan seluruh umat manusia.(PEN@ Katolik/pcp/terjemahan dari Aleteia)

Tinggalkan Pesan