Pastor Fion dimakamkam di Pemakaman Para Imam di Kompleks Seminari Menengah Kakaskasen (scrrenshot/pcp)
Pastor Fion dimakamkam di Pemakaman Para Imam di Kompleks Seminari Menengah Kakaskasen (scrrenshot/pcp)

Bunyi tambur dan trompet Drumband Seminari Santo Fransiskus Xaverius Kakaskasen, Tomohon, menerima dan mengantar jenazah Almarhum Pastor Fion Dianomo Pr di kompleks Seminari Menengah Kakaskasen untuk dimakamkan. Pastor Fion dibawa dari Katedral Manado tempat dia ditahbiskan menuju Seminari Kakaskasen tempat dia mengawali pembinaannya sebagai imam.

“Hari ini dia (Pastor Fion) akan dimakamkan di kompleks Seminari Kakaskasen, tempat almarhum sekitar 30 tahun lalu datang untuk memenuhi panggilan Yesus sebagai seorang seminaris,” kata Pastor Marcel Lintong Pr, seorang prefek di Seminari Kakaskasen dalam Ibadat Penerimaan Jenazah Pastor Fion. Pastor Marcel, yang juga Rektor Stipas Don Bosco Tomohon, adalah teman sekelas Pastor Fion. Mereka bersama-sama memulai pendidikan di seminari itu tahun 1989.

Pastor Fion meninggal pada usia 47 tahun pada Minggu Adven Pertama, 29 November 2020, di Rumah Sakit Sentra Medika di Maumbi, Sulawesi Utara, lalu dipindahkan ke Rumah Sakit Hermana Lembean dan kemudian disemayamkan di Gereja Katedral Manado. Di sana dirayakan Misa 30 November yang dikoordinir oleh UNIO Keuskupan Manado kemudian Misa Requiem 1 Desember dipimpin Uskup Manado Mgr Benedictus Rolly Untu MSC. Pastor Fion adalah kakak dari Ekonom Keuskupan Manado Pastor Jansen Dianomo Pr.

“Dukacita yang dialami Keuskupan Manado ini mengingatkan kita semua bahwa betapa imam itu  sungguh berharga di mata Tuhan dan semoga mulia juga pelayanannya bagi Gereja dan masyarakat,” kata Pastor Marcel Lintong seraya menegaskan, “Kalau ada seorang imam yang meninggal, ingatlah bahwa Gereja membutuhkan waktu sembilan atau 10 tahun untuk melahirkan imam yang baru, dan itu bukan waktu yang singkat.”

Pastor Marcel menegaskan, kematian dalam pandangan iman Kristiani adalah kemenangan iman dan jalan menuju kebahagiaan kekal di surga. Namun begitu banyak orang berduka dan hadir dalam pemakaman itu, karena menurut Pastor, almarhum adalah imam yang sederhana dalam berbicara, berpikir dan bertindak, baik hati, mudah menerima teman-teman dengan berbagai sikap dan kelakuan, punya bakat seni dan musik yang luar biasa, dan bisa menyanyi dengan baik serta menulis lagu.

“Dengan senyum khas dan wajah yang tampan, Pastor Fion selalu ramah dan bersahabat dengan kami semua,” maka kematiannya meninggalkan dukacita bagi kaum keluarga, teman-teman imam, sahabat-sabat dan seluruh umat.

Mgr Rolly juga mengakui dalam Misa requiem bahwa Pastor Fion sudah memberikan diri menjadi imam, dan seperti Santo Andreas sudah mengantar umat yang dia layani kepada Tuhan. Uskup Manado itu juga mengutarakan kesaksian beberapa teman imam bahwa “Pastor Fion adalah figur yang disenangi umat, mudah didekati, orang tidak takut datang kepadanya, karena saya yakin dan percaya orang mengalami bahwa kehadirannya sungguh membawa suasana di mana kerukunan bisa diciptakan.”

Selama 17 tahun sebagai imam, menurut Mgr Rolly, Pastor Fion “telah memberikan yang terbaik untuk umat Tuhan dan Gereja, memberikan diri kepada Tuhan dan mengenal rencana-Nya untuk keselamatan umat-Nya dalam pelayanan rohani dan pengadaan fasilitas dan sarana yang dibutuhkan umat.”

Menurut Pastor Jansen, Pastor Fion adiknya itu pendiam tetapi suka senyum. Dari banyak kesaksian di medsos, kotbah menghantar kepergiannya, dan perkataan langsung para rekan imam dan umat, jelas imam itu, Pastor Fion dikenal sebagai imam yang baik dan disenangi umat. “Tapi lepas dari semua itu, Pastor Fion tak lepas dari kekurangan dan kelemahan dalam pelayanannya, maka kami keluarga mohon maaf,” kata pastor Jansen.

Namun, lanjut Pastor Jansen, kunjungan silih berganti banyak umat dari berbagai paroki sepanjang Pastor Fion disemayamkan dari RS Lembean hingga Katedral Manado “adalah kesaksian bahwa ternyata ternyata benar bahwa Pastor Fion adalah imam yang disenangi umat. Kami bangga dengan kehadirannya sebagai imam di Keuskupan Manado.”

Kesaksian hidupnya, “jadi kekuatan dan pendorong kami, imam-imam dan saya adiknya, untuk terus berjuang menjadi pastor yang baik,” kata Pastor Jansen menahan tangis.

Pastor Fion lahir di Nullion, Banggai, Sulawesi Tengah, 5 Agustus 1973. Secara fisik ia kerap disapa “pastor tampan” seperti bintang film India, berbakat seni dan sangat akrab dengan umatnya. Sebelum ditahbiskan imam 15 Mei 2003, Pastor Fion pernah bertahun pastoral di Paroki Yesus Gembala yang Baik, Rike Manado, dan bertahun diakonal sebagai “socius” atau pendamping frater-frater Seminari Tinggi Pineleng.

Sesudah ditahbiskan imam, Pastor Fion berkarya di Paroki Kokoleh dan tinggal di Stasi Klabat, kemudian berkarya di Paroki Maria Pengantara Dumoga dan Paroki Kebangkitan Amurang. Di sana imam itu juga berkarya di bidang pendidikan. Tanggal 15 Desember 2019, Pastor Fion pindah ke Paroki Kristus Raja Toli-toli, Sulawesi Tengah.

Bulan Juli, Pastor Fion sakit sesak nafas. Dia lalu dibawa ke Manado untuk pemeriksaan medis akibat gangguan paru-paru dan menjalani operasi bulan Oktober di Rumah Sakit Siloam. Sesudah itu, imam itu tinggal di RS Hermana, Lembean, untuk pemulihan. Namun beberapa hari lalu, ia dirujuk ke RS Centra Medika karena mengalami penurunan kondisi dan menghembuskan napas terakhir 29 November 2020. Pastor Fion dimakamkan 1 Desember oleh Kepala Sekolah Seminari Kakaskasen Pastor Cornelis Kupea Pr.

Tanggal 27 November, menurut Pastor Jansen, dalam kesakitan dan derita kakaknya Pastor Fion membuat doa, “Ya Yesus, engkaulah kekuatanku, jangan biarkan aku terpisah dari pada-Mu.”(PEN@ Katolik/paul c pati)

Fion

Pastor Jansen, adik dari Pastor Fion, sedang memberi kesaksian (screenshot/psc)
Pastor Jansen, adik dari Pastor Fion, sedang memberi kesaksian (screenshot/psc)

Suasana Misa requiem di Katedral Manado (screenshot/pcp)
Suasana Misa requiem di Katedral Manado (screenshot/pcp)
Pemberkatan jenazah di Katedral Manado (screenshot/pcp)
Pemberkatan jenazah di Katedral Manado (screenshot/pcp)

1 komentar

  1. Menghasil kan seorang imam memang tidak gampang,mendengar pastor” meninggal apalagi yg masih muda” rasanya kok gimana…banget didalam hati.Tuhan kehendak Mu memang Sungguh” MESTERIUS ter kadang SUSAH UNTUK DIFAHAMI.

Tinggalkan Pesan