Mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain
Mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain

Siapa bilang menangis itu cengeng? Siapa bilang menangis itu bukan orang kuat? Siapa bilang menangis itu hal yang kurang tepat? Menangis adalah luapan emosi. Situasi dan orang-orang sekitar membuat kita malu untuk menangis, karena “lable” yang suka orang lain ucapkan. Menangis adalah bentuk kejujuran hati. Di saat sedih atau bahagia, terkadang air mata keluar dengan sendirinya. Inilah luapan emosi yang membuat kita menjadi lega dan nyaman setelahnya. Lewat luapan air mata kita memiliki banyak cerita. Luapan air mata bukan sekedar hal biasa, tetapi ada arti di balik itu semua.

Tanggal 19 November 2020, dalam Injil Lukas 19:41-44, kita melihat Yesus menangisi kota Yerusalem. Yesus saja menangis karena Ia meratapi dan tahu apa yang akan terjadi dengan kota Yerusalem. Ia tidak menahan apa yang ia rasakan. Ia menunjukkan diri-Nya begitu ekspresis dengan isi hati-Nya. Yesus tidak berpura-pura. Inilah contoh seorang manusia otentik, yang tidak pura-pura dengan apa yang ia rasakan, dan yang tahu bagaimana mengekspresikannya. Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana kita harus bersikap di dalam setiap situasi yang ada.

Ini sebenarnya adalah undangan bagi kita untuk juga dapat mengekspresikan perasan kita di waktu dan dengan cara yang tepat. Walaupun Dia adalah Allah, Yesus juga manusia sama seperti kita, yang sama mengalami berbagai macam pergulatan dan permasalahan. Sikap Yesus inilah yang patut kita teladani untuk berani jujur dengan diri sendiri. Berani mengungkapkan apa yang dirasakan dan dialami. Dengan keterbukaan ini kita pun siap dibantu dan ditolong orang lain.

Sahabat, manusia tak bisa hidup dalam kepura-puraan. Walau nampaknya kita kuat menyembunyikan perasaan, tetapi kita akhirnya harus jujur dengan diri sendiri. Manusia tidak bisa hidup dengan begitu banyak topeng untuk menutupi apa yang dialami, sebab topeng akhirnya akan terbuka satu persatu dan ‘AKU’ yang otentik akan berbicara. Yesus menunjukkan kepada kita untuk mampu mengekspresikan diri dengan tepat dan benar serta mohon bimbingan Roh Kudus pula dalam mengungkapkannya, sehingga kita pun tahu bagaimana harus bertindak setelahnya.(FRAY.EL.OP)

Tinggalkan Pesan