Pastor Aloysius Diaz SVD
Pastor Aloysius Diaz SVD

Di HUT ke-94, 1 Maret 2020, Pastor Aloysius Luis Kean Diaz SVD membagikan resep atau kata kunci untuk tetap bersemangat yakni “Berpikir Positif”. Website Paroki Pademangan Jakarta mengutip imam yang pernah dua periode (1984-1987 dan 1987-1990) menjadi anggota Dewan Pimpinan Provinsi SVD Jawa itu bahwa “tidak mudah untuk selalu berpikir positif, tetapi semua orang bisa melakukannya lewat doa yang tak pernah putus, selalu terbuka kepada penyelenggaraan Allah dan yakin bahwa Roh Allah selalu menyertai dan menjaga kita.”

Namun, Keluarga Besar SVD Provinsi Jawa menginformasikan bahwa Pastor Aloysius Luis Diaz SVD yang biasa dipanggil “Opa Diaz” di Paroki Santo Alfonus Rodriguez Pademangan Jakarta, meninggal dunia. “Telah Meninggal Dunia Pater Aloysius Diaz SVD, Usia Kelahiran 94 tahun, Usia Imamat 68 tahun. Keluarga Besar SVD Provinsi Jawa sangat kehilangan seorang misionaris senior yang memiliki dedikasi tinggi pada karya misi, dalam panggilan dan perutusannya. Beliau menghembuskan nafas terakhir 2 November 2020, Pukul 18.00 WIB, di Rumah Sakit Carolus Jakarta.”

Hidup doa yang baik, menurut Opa Diaz, “akan membawa kita kepada suatu kepasrahan total dan menjadikan kita lebih ringan dalam menjalankan tugas tanggungjawab kita. Selain itu kedisiplinan, disiplin dalam mempergunakan waktu yang kita miliki, waktunya tidur lepaskan segala beban pikiran kita, jika masih sulit tidur, berdoa saja Bapa Kami atau Salam Maria, maka kita dapat tidur dengan nyenyak dan bangun dengan semangat baru. Waktunya makan atau istirahat pun kita pergunakan sebaik-baiknya, semua waktu yang kita dapatkan hendaknya dipergunakan bagi diri kita sendiri dan juga orang lain.”

Kepasrahan dan berpikir positif Opa Diaz dibenarkan oleh Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo dalam Misa Requiem di Paroki Pademangan 3 November. “Satu hal yang sangat menarik bagi saya pribadi, beliau berusia 94 tahun, anugerah luar biasa. Sejauh saya tahu menjadi tua, bertambah umur, yang saya amat-amati ada dua kemungkinan yang pertama merasa semakin cemas dengan segala macam ekspresinya. Saya tidak pernah melihat kecemasan sedikit pun dalam diri Pater Diaz. Beliau menunjukkan kepada kita inilah caranya menjadi senior dan semakin senior dalam rasa penuh syukur ini adalah berkat bagi kita semua khususnya para senior.”

Bahkan Kardinal Suharyo melihat Pastor Diaz adalah seorang suci yang berjalan, “karena apa saja yang ditugaskan kepada beliau sejak awal, sampai akhir sebagai imam dalam tarekat SVD beliau terima sebagai jalan menuju kesempurnaan kasih, sebagai jalan menuju kesempurnaan kesucian.”

Opa Diaz yang lahir di Lebao, Larantuka, 1 Maret 1926, dari Laurentius Kean Diaz dan Maria Yasinta Odjan di Paroki Santo Yohanes Pembaptis Lebao itu menyelesaikan SMP dan SMA di Seminari Menengah Mataloko (1938-1945) dan setelah Novisiat SVD (1945-1947) di Ledalero, Maumere, dia mengucapkan Kaul Pertama di Ledalero 15 Agustus 1947 dan Kaul Kekal di tempat yang sama, 15 Agustus 1952.

Opa Diaz ditahbiskan imam 28 Oktober 1952 di Nita oleh Mgr Gabriel Manek SVD dengan moto tahbisan, “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Luk. 1:38).

Setelah tahbisan imam, Opa Diaz pernah mengikuti Kursus Penyegaran di Nemi, Roma (1962), Kursus Pastoral di Roncalli, Salatiga (1974), namun sebelumnya dia menjadi Staf Pengajar atau Prefek Seminari Menengah Santo Johanes Berchmans Mataloko (1953-1961) dan Penilik Sekolah atau Yayasan Persekolahan Vedapura di Sikka-Maumere (1962-1965).

Mantan Staf KWI bagian C di Jakarta (1965-1974) itu kemudian menjadi Pastor Rekan Paroki Santo Yosef Matraman, Jakarta (1974-1979), Pimpinan Postulat SVD-Karmel di Batu, Malang (1979-1983),

Kepala Paroki Pademangan, Jakarta (1983-1993), Praeses Biara Soverdi Jakarta (1994-1997), dan kembali ke Paroki Pademangan sebagai Pastor Rekan (1997-2020).

Berpikir positif, lanjut Opa Diaz, membawa pada kebahagiaan. “Semua orang dapat melakukannya dimulai dari pembiasaan diri untuk hidup disiplin dalam segala hal. Jika sudah menjadi kebiasaan, maka hal itu bisa berjalan secara otomatis, tidak ada kesulitan yang dirasakan teramat sulit, yang ada hanyalah sukacita dan kebahagiaan, selalu tersenyum dan terbuka kepada siapa saja yang menyapa. Itu juga resep awet muda.”

Opa Diaz dimakamkan di Pemakaman Kembang Kuning Surabaya 5 November setelah Misa Requiem di Biara Soverdi Surabaya 4 November.(PEN@ Katolik/paul c pati)

Misa Requiem di Biara Souverdi Surabaya, 4 November 2020
Misa Requiem di Biara Souverdi Surabaya, 4 November 2020

3 KOMENTAR

Tinggalkan Pesan