Kardinal Christian Tumi
Kardinal Christian Tumi

Kardinal Christian Wiyghan Tumi, 90, yang diculik oleh tersangka pejuang separatis yang bersenjata di wilayah Barat Laut Kamerun, Kamis, 5 November, telah dibebaskan hari Jumat, 6 November. Mantan Uskup Agung Emeritus Douala itu didampingi oleh penguasa tertinggi Nso yang sedang dalam perjalanan pulang ke istana tradisionalnya setelah berbulan-bulan mengasingkan diri karena konflik bersenjata antara pasukan pemerintah dan separatis.

Sumber-sumber mengatakan, konvoi itu dihentikan oleh penghalang jalan yang dipasang oleh tersangka pejuang separatis yang menculik kardinal itu dan membawanya ke lokasi yang tidak diketahui.

Dalam wawancara dengan Vatican News, Uskup Agung Douala Mgr Samuel Kleda memperkirakan Kardinal Tumi diculik sekitar pukul 18:00 dalam perjalanannya dari Bamenda ke Kumbo, karena dia baru sejam lalu berhubungan dengannya.

Kamis malam, Uskup Agung Kleda menerima panggilan telepon dari kardinal itu yang memberitahukan bahwa dia diinterogasi oleh para penculik. Upaya berikut untuk menghubungi kardinal itu melalui telepon pada Jumat pagi sia-sia. Namun, kardinal itu dibebaskan hari Jumat setelah menghabiskan malam di sarang para penculik.

Kardinal Tumi itu vokal menyerukan dialog dan perdamaian di tengah konflik selama empat tahun di wilayah Barat Laut dan Barat Daya negara itu.

Paus Fransiskus telah mengungkapkan kedekatan dengan Kamerun. Dalam Audiensi Umum mingguan, 28 Oktober, Paus berdoa agar “wilayah yang tersiksa di Barat Laut dan Barat Daya negara itu dapat menemukan kedamaian.”

Paus berdoa juga bagi keluarga para siswa muda yang dibunuh 24 Oktober oleh orang-orang bersenjata di sebuah sekolah swasta di Kumba. Paus mengungkapkan kesedihan atas “tindakan kejam dan tak masuk akal yang menghancurkan kehidupan anak muda tak berdosa saat mereka mengikuti pelajaran di sekolah.”

Separatis bersenjata, yang juga dikenal sebagai “Amba boys” terlibat dalam pertempuran berkelanjutan dengan pasukan pemerintah dalam upaya untuk menciptakan negara merdeka yang mereka ingin namakan “Ambazonia.”

Krisis dimulai tahun 2016 saat lembaga pendidikan dan peradilan di wilayah Barat Laut dan Barat Daya berbahasa Inggris di negara dua bahasa itu memprotes penunjukan penutur bahasa Prancis yang tidak dapat dibenarkan di wilayah mereka. Tahun 2017, situasinya lepas kendali dan menjadi perang separatis.

Konflik berkepanjangan menimbulkan ribuan korban jiwa dan pengungsian meluas. Anak-anak sekolah di zona konflik baru kembali ke sekolah tahun ini setelah hampir empat tahun tutup.

Bulan lalu, orang-orang bersenjata yang diduga terkait dengan pejuang separatis, menembaki para siswa di Akademi Bilingual Internasional Ibu Fransisca di Kumba dan enam dari mereka tewas dalam serangan mematikan itu.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan