Paus Fransiskus dalam Angelus 1 November
Paus Fransiskus dalam Angelus 1 November

“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Sabda Bahagia kedua itu,  terkesan kontradiktif karena berkabung bukanlah pertanda kegembiraan dan kebahagiaan. Tetapi, Yesus mewartakan berbahagialah orang-orang yang berdukacita karena penderitaan, dosa-dosa dan kesulitan-kesulitan hidup sehari-hari, namun “percaya akan Tuhan dan menempatkan diri di bawah naungan-Nya.”

Paus Fransiskus mengatakan hal itu saat Angelus pada Hari Raya Semua Orang Kudus, 1 November, dan mengajak umat beriman untuk merenungkan harapan besar yang berdasarkan kebangkitan Kristus.

Dalam sambutan itu, Paus menjunjung tinggi para Santo dan Santa serta Beato dan Beata sebagai saksi pengharapan Kristiani yang paling berwibawa. Paus juga mengajak kita semua untuk memilih kemurnian, kelembutan dan belas kasihan sambil mempercayakan diri kita kepada Tuhan dan mendedikasikan diri kita pada keadilan dan perdamaian.

Selain Sabda Bahagia kedua itu, paus juga merenungkan Sabda Bahagia ketiga yang  dikotbahkan Yesus dan bergema kembali dalam Liturgi hari itu (lihat Mat 5: 1-12a), dan menggambarkannya sebagai jalan menuju kekudusan.

Orang-orang yang digambarkan dalam Sabda Bahagia kedua itu, kata paus, “tidak acuh tak acuh, tidak juga mengeraskan hati saat menderita, tapi dengan sabar mengharapkan penghiburan dari Tuhan. Dan mereka mengalami hiburan ini bahkan dalam hidup ini.”

Dalam Sabda Bahagia ketiga, kata Paus, Yesus menyatakan, “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” Kelemahlembutan, kata paus, adalah karakteristik Yesus, yang berkata tentang diri-Nya, “Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat 11:29).

Orang yang lemah lembut, lanjut Paus, “tahu  cara mengendalikan diri, meninggalkan ruang bagi orang lain, mendengarkan orang lain, menghormati cara hidup orang lain, serta kebutuhan dan permintaan mereka.”

Menurut paus, mereka tidak berniat menindas atau merendahkan orang lain, mereka tidak ingin mendominasi atau memaksakan ide atau kepentingannya untuk rugikan orang lain.

Orang-orang seperti ini, kata Paus, mungkin tidak dihargai oleh dunia, tetapi mereka berharga di mata Tuhan. “Tuhan memberi mereka tanah perjanjian sebagai warisan, yaitu hidup yang kekal. Sabda bahagia ini juga dimulai di sini di bawah dan digenapi di Surga.”

Apalagi di saat seperti ini, dengan begitu banyaknya agresivitas di dunia, lanjut Paus, kelemahlembutan adalah cara maju dengan kerendahan hati dan belas kasihan.

Karena itu, Paus mengajak umat beriman untuk memilih kehidupan yang murni, lemah lembut, dan penuh kasih, mempercayakan diri kepada Tuhan dalam kemiskinan jiwa dan kesusahan. “Ini berarti melawan arus berkenaan dengan mentalitas dunia ini, berkenaan dengan budaya memiliki, kesenangan yang tidak berarti, kesombongan terhadap yang orang paling lemah.”

Paus juga mengatakan, langkah injili ini dilalui oleh para Santo dan Santa serta Beato dan Beata dan hari yang menghormati Semua Orang Kudus ini mengingatkan kita tentang “panggilan pribadi dan universal menuju kekudusan, dan mengusulkan model-model pasti untuk perjalanan ini agar setiap orang menjalani jalan unik dan tidak dapat diulang sesuai ‘imajinasi’ Roh Kudus.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan