Misa konsistori 5 Oktober 2019 di Basilika Santo Petrus  (Vatican Media)
Misa konsistori 5 Oktober 2019 di Basilika Santo Petrus (Vatican Media)

Gereja atau Kolese Kardinal akan mendapat tambahan tiga belas kardinal baru tanggal 28 November 2020. Sembilan dari mereka berusia di bawah 80 tahun dan karena itu, berhak ikut konklaf di masa mendatang. Empat lainnya berusia lebih dari 80 tahun. Pengumuman Paus Fransiskus setelah doa Angelus hari Minggu, 25 Oktober, itu mengagetkan. Paus mengkomunikasikan berita tentang penciptaan para kardinal baru itu dalam audiensi di Lapangan Santo Petrus serta kepada orang-orang yang terhubung di seluruh dunia.

Dua dari kardinal baru itu bekerja di Kuria Romawi, yakni Sekretaris Jenderal Sinode Para Uskup Mgr Maltese Mario Grech serta mantan Uskup Albano dan prefek baru untuk Kongregasi Penggelaran Kudus Mgr Marcello Semeraro dari Italia.

Enam gembala lain dalam Gereja di seluruh dunia adalah Uskup Agung Kigali (Rwanda) Mgr Antoine Kambanda, Uskup Agung Washington (Amerika Serikat) Mgr Wilton Gregory, Uskup Agung Capiz (Filipina) Mgr Jose Fuerte Advincula, Uskup Agung Santiago (Chili) Mgr Celestino Aós Braco, Vikaris Apostolik Brunei Mgr Cornelius Sim, Uskup Agung Siena (Italia) Mgr Augusto Paolo Lojudice.

Selain itu, Paus menunjuk Guardian Sacro Convento milik Fransiskan di Assisi Pastor Mauro Gambetti OFMConv.

Kepada para kardinal di bawah usia 80 tahun itu, Paus Fransiskus menambahkan empat kardinal lain yang berusia lebih dari 80 tahun. Mereka adalah Uskup Agung Emeritus San Cristóbal de Las Casas (Meksiko) Mgr Felipe Arizmendi Esquivel, mantan Duta Vatikan dan mantan pengamat tetap di Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa yang kemudian bekerja di Dikasteri Peningkatan Pengembangan Manusia Integral Mgr Silvano Tomasi, pengkhotbah Rumah Tangga Kepausan Pastor Raniero Cantalamessa OFMCap, dan gembala Tempat Ziarah Cinta Ilahi Pastor Enrico Feroci.

Para kardinal itu mengenakan warna merah yang menandakan kesediaan mereka untuk mengorbankan diri usque ad sanguinis effusionem, yaitu, sampai menumpahkan darah sendiri, demi melayani Penerus Petrus. Dan, meskipun mereka tinggal di daerah yang paling terpencil di dunia, mereka menjadi uskup tituler dari sebuah paroki di Kota Abadi, sehingga mereka diinkardinasi dalam Gereja di mana Paus adalah uskupnya.(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan