Uskup Agung Florentino Lavarias dari San Fernando memberkati makam para imam dan kaum religius yang meninggal di Taman Peringatan Santa Maria di Kota Angeles, 23 Oktober 2020. FOTO DARI PAROKI ROSARIO KUDUS - PISAMBAN MARAGUL
Uskup Agung Florentino Lavarias dari San Fernando memberkati makam para imam dan kaum religius yang meninggal di Taman Peringatan Santa Maria di Kota Angeles, 23 Oktober 2020. FOTO DARI PAROKI ROSARIO KUDUS – PISAMBAN MARAGUL

Menjawab pembatasan antara lain tidak boleh melakukan pertemuan-pertemuan besar di gereja-gereja atau kuburan-kuburan dan tidak boleh keluar rumah karena pandemi, Vatikan memperluas indulgensi penuh untuk jiwa-jiwa di Api Penyucian.

Menurut keputusan 23 Oktober yang ditandatangani Kardinal Mauro Piacenza, Penitensaria Utama dari Penitensaria Apostolik, indulgensi yang bisa membantu membatalkan hukuman sementara karena dosa bagi orang yang meninggal dalam keadaan rahmat, bisa diperoleh sepanjang bulan November 2020.

Dalam wawancara dengan Vatican News, Kardinal Piacenza mengatakan, para uskup telah meminta perpanjangan jangka waktu untuk indulgensi penuh, mengingat pentingnya Hari Raya Semua Orang Kudus, 1 November, dan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, 2 November.

Dalam wawancara itu, Kardianl Piacenza mengatakan, meskipun ada Misa yang disiarkan langsung untuk lansia yang tidak bisa menghadiri liturgi secara langsung, namun “ada juga yang kurang terbiasa dengan perayaan di televisi.”

Ini “bisa menandai ketidaktertarikan tertentu dalam menghadiri perayaan-perayaan [liturgi],” kata kardinal. “Oleh karena itu, ada upaya dari para uskup untuk menerapkan semua solusi yang memungkinkan untuk membawa umat kembali ke Gereja, dan selalu menghormati segala sesuatu yang perlu dilakukan demi situasi tertentu yang sayangnya harus kita hadapi.”

Kardinal Piacenza juga mencatat pentingnya merayakan sakramen-sakramen itu pada Hari Raya Semua Orang Kudus dan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, yang di beberapa negara bisa dihadiri dan diikuti oleh sangat banyak umat.

Dengan keputusan baru itu, orang yang tidak bisa meninggalkan rumah masih bisa berpartisipasi dalam indulgensi, dan lebih banyak waktu bagi orang-orang lain untuk menghadiri Misa, menerima sakramen pengakuan, dan mengunjungi pemakaman, sambil tetap mengikuti langkah-langkah virus corona dalam kerumunan, kata kardinal.

Dekrit itu juga mendorong para imam untuk membuat sakramen tersedia seluas mungkin selama November. “Agar lebih mudah menerima rahmat ilahi melalui belas kasih pastoral, penitensaria dengan sungguh berdoa agar semua imam yang diberkahi kemampuan yang sesuai memberi diri mereka dengan kemurahan hati untuk perayaan sakramen tobat dan memberikan Komuni Kudus bagi orang sakit,” kata dekrit itu.

Indulgensi penuh, yang melepaskan semua hukuman sementara karena dosa, harus disertai pelepasan penuh dari dosa. Seorang Katolik yang ingin memperoleh indulgensi penuh harus juga memenuhi syarat indulgensi, yaitu mengaku dosa, menerima Ekaristi, dan berdoa untuk intensi paus. Pengakuan dosa dan penerimaan Ekaristi bisa terjadi dalam minggu penerimaan indulgensi itu.

Di bulan November, Gereja memiliki dua cara tradisional untuk memperoleh indulgensi penuh bagi jiwa-jiwa di Api Penyucian. Yang pertama mengunjungi pemakaman dan berdoa bagi orang mati selama Oktaf Hari Semua Orang Kudus, 1-8 November. Tahun ini, Vatikan memutuskan bahwa indulgensi penuh bisa diperoleh setiap hari di bulan November.

Indulgensi pleno kedua terkait dengan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, 2 November, dan bisa diterima oleh mereka yang dengan saleh mengunjungi gereja atau kapel kecil pada hari itu dan mendoakan Bapa Kami serta Aku Percaya. Vatikan mengatakan, guna mengurangi keramaian, indulgensi penuh juga diperpanjang dan tersedia bagi umat Katolik sepanjang bulan November.

Kedua indulgensi itu harus memasukkan tiga syarat biasa dan pelepasan penuh dari dosa. Vatikan juga mengatakan, karena keadaan darurat kesehatan, para lansia, orang sakit, dan orang lain yang tidak dapat meninggalkan rumah karena alasan serius bisa ikut dalam indulgensi dari rumah dengan mendoakan orang meninggal di hadapan patung Yesus atau Perawan Maria. Mereka juga harus mempersatukan diri secara spiritual dengan umat Katolik lainnya, benar-benar terlepas dari dosa, dan memiliki niat untuk memenuhi syarat-syarat itu secepat mungkin.

Dekrit Vatikan itu memberikan contoh doa yang bisa didoakan oleh umat Katolik di rumah, termasuk laudes atau vesper dari Ibadat Harian untuk Orang Mati, Rosario, Kaplet Kerahiman Ilahi, dan doa lain untuk orang meninggal di antara keluarga atau teman mereka, atau melakukan pekerjaan belas kasih dengan mempersembahkan rasa sakit dan ketidaknyamanan mereka kepada Allah.

Dekrit itu juga mengatakan “karena jiwa-jiwa di Api Penyucian dibantu oleh suara umat beriman dan terutama dengan pengorbanan Altar yang menyenangkan Tuhan… semua imam diajak merayakan tiga kali Misa Kudus pada hari peringatan semua umat beriman yang telah meninggal, sesuai konstitusi apostolik ‘Incruentum altaris,’ yang dikeluarkan Paus Benediktus XV, 10 Agustus 1915.”

Kardinal Piacenza mengatakan, alasan lain meminta para imam rayakan tiga Misa tanggal 2 November adalah agar lebih banyak umat Katolik bisa hadir. “Para imam juga didorong untuk bermurah hati dalam Pelayanan Pengakuan Dosa dan membawa Komuni Kudus kepada orang sakit,” kata Kardinal Piacenza. Ini akan mempermudah umat Katolik untuk “mendoakan orang yang telah meninggal, untuk merasakan mereka dekat, singkatnya, untuk mengalami semua perasaan mulia yang berperan menciptakan Persekutuan Para Kudus.”(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Hannah Brockhaus/Catholic News Agency)

 

 

 

2 KOMENTAR

Tinggalkan Pesan