Sumakud 3
Foto: Maxi Paat

Pastor Yosef Linus Sumakud MSC (Pastor Yoppy) mulai membangun tempat kediaman di Parepare (Sulawesi Selatan), tempat dia lahir 23 September 1954. Mengapa Parepare? Karena ayahnya adalah tentara, Soleman Sumakud dari Airmadidi, yang didampingi istri, Maxima Pelealu dari Woloan. Kemudian Pastor Yoppy membangun rumah kediaman di Woloan, Kakaskasen, Pineleng, Karanganyar, Poso, Kepulauan Kei Kecil, Kepulauan Aru, Kota Ambon dan berakhir di Jakarta. Airmadidi, Woloan, Kakaskasen dan Pineleng adalah nama tempat di Sulawesi Utara.

Di Jakarta, tepatnya di Rumah Induk Tarekat Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC), Pastor Yoppy “membongkar rumah kediaman di dunia” dengan meninggal dunia 14 Oktober 2020 pada usia 66 tahun. Padahal, sekitar pukul 14.00 dia masih bercerita dengan Provinsial MSC Pastor Samuel Maranresy MSC di halaman provinsialat dan sekitar pukul 17. 30 bermain basket dari atas kursi roda yang sudah dia gunakan bertahun-tahun.

“Dalam perspektif Rasul Paulus, kematian seorang beriman adalah saat dia membongkar tempat kediamannya di dunia ini. Tetapi, Allah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga, tempat kediaman kekal, yang bukan buatan tangan manusia,” kata Pastor Johanes Mangkey MSC, rekan sepanggilan dan seperjalanan Pastor Yoppy dalam Misa Requiem yang dipimpinnya dengan lebih dari 20 imam konselebran di Aula Provinsialat MSC Jakarta, 15 Oktober. Misa itu juga dihadiri antara lain oleh para frater, suster, keluarga dari Pastor Yoppy, Keluarga Chevalier, dan Kawanua Katolik.

Tempat itu, kata Pastor Mangkey dalam homili berdasarkan 2 Korintus 5:1, adalah tempat kediaman yang pasti bagi orang yang percaya kepada Tuhan, tempat kediaman bersama Allah yang kita idam-idamkan. Beberapa malam sebelum meninggal, jelasnya, Pastor Yoppy menelpon saudaranya di Bekasi, yang sekitar dua bulan lalu kehilangan suaminya, dan mengatakan, “Siapa yang tidak mau berada di rumah Bapa.”

Saat menempati rumah kediaman di bumi, Pastor Yoppy telah “mengatur, menata, mengisi dan menghiasi hidupnya dengan sebagus-bagus dan seindah-indahnya, yakni dengan keutamaan-keutamaan hidupnya, terutama sebagai seorang biarawan MSC dan imam Gereja. Untuk itu, dia menjadi seorang pejuang, yang dimulainya dari memperjuangkan panggilan sebagai biarawan dan imam.”

Perjuangannya semasa pembinaan “ditandai discernment atau memilah-milah kehendak Roh baginya.” Ketika berada di tahap-tahap akhir masa pembinaan, jelas Pastor Mangkey yang merupakan teman seangkatan almarhum, “beberapa teman direkomendasikan oleh staf untuk berkaul kekal, termasuk Pastor Yoppy. Tapi, ia minta waktu lebih banyak untuk discernment guna memantapkan keputusannya untuk menjadi imam biarawan MSC.”

Karya-karya pelayanan Pastor Yoppy di tengah umat Keuskupan Amboina, lanjut Pastor Mangkey, menunjukkan “dia adalah pejuang untuk kebaikan dan keselamatan umat. Ia pribadi yang baik, sederhana, tegas (kadang-kadang terkesan pemarah), rajin dan setia melayani umat di tempat-tempat sulit yang dipercayakan kepadanya.”

Pastor Yoppy disebut sebagai imam penuh perhatian dan kepedulian pada ekonomi umat, misalnya melalui Credit Union Mario di Ambon dan perjuangannya demi masa depan umat, khususnya anak-anak muda melalui pendidikan. “Tidak sedikit anak-anak dibantunya untuk mengenyam pendidikan yang baik. Mereka semua setuju bahwa ia punya hati seorang bapak untuk mereka, maka mereka panggil dia Bapa Yoppy!” jelas Pastor Mangkey.

Pastor Yoppy diterima baik di kalangan umat, di antara para konfrater MSC dan imam diosesan. “Kehadirannya selalu membawa suasana gembira dengan humor dan senda guraunya. Tapi ia menegur imam yang tidak taat kepada Uskup. Ia menjadi teladan pelayanan dan pengorbanan bagi umat,” tegasnya.

Selama 37 tahun lebih Pastor Yoppy bertugas di Keuskupan Amboina dan enggan pindah ke daerah lain. Kepada Pastor Mangkey yang saat itu berada di Chicago-USA dia pernah ceritakan alasannya lewat surat.

Tahun 1985, ketika Pastor Yoppy sedang dalam perjalanan dengan kapal kayu dari Desa Somlain, Kei Kecil, menuju Pulau Tanimbar-Kei, kapal bocor dan pelan-pelan tenggelam. Dari 60 orang di kapal itu hanya 11 selamat, termasuk imam itu. 49 lainnya hilang tanpa jejak.

“Peristiwa itu menyebabkan ia berkomitmen untuk menghabiskan hidup dan pelayanannya di Maluku. Di sana ia berubah dari orang gunung di sisi Gunung Lokon (Woloan) jadi orang laut, dari biasa memegang pacul di kebun jadi jurumudi kapal,” jelas Pastor Mangkey.

Menurut imam yang pernah menjadi Sekretaris Provinsi MSC Indonesia itu, Pastor Yoppy akan dikenang sebagai “pejuang dalam membangun sarana penunjang karya pastoral seperti gereja” karena “di mana pun ia ditugaskan, ia tidak hanya membangun landasan iman, tetapi memikirkan cara membangun sarana fisik, seperti gereja. Ia juga membangun Gua Maria indah di Desa Air Lou, Ambon, sepanjang dinding batu karang putih di tepi laut, yang secara kasat mata mustahil dikelola. Karya mahabesarnya adalah Gereja Paroki Maria Bintang Laut Ambon, tempat ia terakhir bertugas sebagai pastor paroki.”

Pastor Mangkey mengenal Pastor Yoppy sejak Kelas I SMP Seminari Menengah Kakaskasen tahun 1966. Enam dari 40 siswa kelas 1 itu berhasil tamat dari SMA seminari itu dan semuanya ditahbiskan imam walaupun pada waktu berbeda, Almarhum Pastor Edi Wolff Pr dan Pastor Cardo Renwarin Pr (Desember 1980), Almarhum Pastor Frans Rares MSC, Almarhum Pastor Lowi Roong MSC dan Pastor Joanis Mangkey MSC (29 Juni 1981), serta Almahum Pastor Yoppy Sumakud MSC (25 Januari 1983). Yang tersisa saat ini Pastor Mangkey dan Pastor Cardo Renwarin Pr.

Menurut Arsip Provinsialat MSC Jakarta, Pastor Yosef Linus Sumakud MSC yang melewati pendidikan Sekolah Rakyat Roma Katolik di Wolaon (1960-1966), Seminarium Xaverianum Kakaskasen (1967-1973), dan Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng (1974-1981), memulai masa Novisiat MSC di Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah, 28 Desember 1975, berkaul pertama sebagai MSC di tempat yang sama, 3 Desember 1976, berkaul kekal juga ditempat yang sama 1 November 1982, dan menjalani tahun pastoral khusus di Poso. Dia ditahbiskan diakon di Pineleng 18 Januari 1983 dan ditahbiskan imam di Manado, 25 Januari 1983, keduanya oleh Mgr Theodorus Moors MSC.

Sebagai imam, Pastor Yoppy pernah menjadi pastor paroki di Paroki Santo Petrus dan Paulus Namar di Kei Kecil (1983-1988), Paroki Hati Kudus Yesus Ohoidertutu di Kei Kecil (1985-1988), Paroki Maria de Fatima Dobo di Kepulauan Aru (1988-2001), dan Paroki Maria Bintang Laut di Ambon (2001-2018).

Tahun-tahun terakhir tugasnya di Paroki Maria Bintang Laut Ambon, Pastor Yoppy mulai bermasalah dengan kesehatan. Bersama Almarhum Mgr Andreas Sol MSC dan Pastor Wim Zomer MSC, ia sering ke Jakarta untuk memeriksakan kesehatan jantungnya.

Tahun 2017, Pastor Yoppy menjalani operasi lutut untuk mengeluarkan cairan dan kemudian terserang stroke. Mulai saat itu, Pastor Yoppy hidup di atas kursi roda. Setelah melalui penanganan medis selama kurang lebih tiga tahun, Pastor Yoppy menghembuskan nafas terakhir di Rumah Induk MSC Jakarta, 14 Oktober 2020 pukul 22.22 WIB.

Pastor Yoppy yang sudah hidup sebagai MSC selama 44 tahun, dan sebagai imam 37 tahun dimakamkan di Pemakaman MSC di San Diego Hills Karawang 16 Oktober.(PEN@ Katolik/paul c pati)

Pastor Johanes Mangkey MSC memberkati jenazah Pastor Yoppy Sumakud MSC (screenshot)
Pastor Johanes Mangkey MSC memberkati jenazah Pastor Yoppy Sumakud MSC (screenshot)
Para konfrater MSC menyanyikan lagu Ametur  (screenshot)
Para konfrater MSC menyanyikan lagu Ametur (screenshot)
Suasana Misa Requiem (Foto Maxi Paat)
Suasana Misa Requiem (Foto Maxi Paat)
Yoppy Sumakud MS 1
Ist

Tinggalkan Pesan