Oposisi terhadap hukuman mati (ANSA)
Oposisi terhadap hukuman mati (ANSA)

Dalam pernyataan yang dikeluarkan hari Selasa, 22 September 2020, Ketua Komisi Keadilan Rumah Tangga dan Pengembangan Manusia Konferensi Waligereja AS Uskup Agung Oklahoma City Mgr Paul S Coakley, dan Ketua Komisi Pro-Life Activities dari Konferensi Waligereja AS Uskup Agung Kansas City Mgr Joseph F Naumann menyoroti bahwa sejak Juli tahun ini, ada lima eksekusi mati di Amerika Serikat. Jumlah itu adalah yang terbesar di sepanjang tahun-tahun dalam satu abad terakhir.

Hari itu, pemerintah federal (yang terdiri dari beberapa negara bagian) mengeksekusi William Emmett LeCroy yang dihukum karena memperkosa dan membunuh perawat berusia 30 tahun di Georgia 19 tahun lalu. Dia dijatuhi hukuman mati tahun 2004.

Hari Kamis, 24 September, Christopher Vialva akan dieksekusi karena menembak mati seorang pria di dekat Ft Hood, Texas, tahun 1999, ketika dia masih remaja. Ibunya telah mengimbau Presiden Donald Trump untuk mengampuni nyawa putranya.

Kedua uskup agung itu menyatakan bahwa sebagai Gereja, “kita harus memberikan bantuan konkret kepada korban kekerasan, dan kita harus mendorong rehabilitasi dan pemulihan mereka yang melakukan kekerasan.”

Kedua uskup itu menambahkan “akuntabilitas dan hukuman yang sah adalah bagian proses ini.” Mereka mengakui, “Tanggung jawab atas kejahatan diperlukan kalau ingin ada penyembuhan dan bisa menjadi alat dalam melindungi masyarakat.” Tetapi, tegas mereka, “eksekusi sama sekali tidak perlu dan tidak bisa diterima, seperti telah diucapkan dengan tegas oleh Santo Paus Yohanes Paulus II, Paus emeritus Benediktus XVI, dan Paus Fransiskus.”

Bulan Juli tahun ini, Mahkamah Agung AS menolak menangani kasus terpidana mati federal yang menentang protokol suntikan mematikan dari pemerintah. Ini membuka jalan bagi Pemerintahan Trump untuk melaksanakan eksekusi pertama di tingkat federal dalam hampir dua dekade.

Menyusul keputusan itu, Uskup Agung Coakley, mengatakan kepada Vatican News bahwa dia sedih dengan langkah tersebut, dan menambahkan, dia tidak menyangka ada “situasi yang bisa membenarkan hukuman mati.”

Uskup Agung itu juga menggarisbawahi bahwa Gereja “telah berupaya keras selama bertahun-tahun untuk melawan penggunaan hukuman mati bukan hanya dari pemerintah federal tetapi juga pemerintah negara bagian.”

Bulan Agustus, Lezmond Mitchell dan Keith Dwayne Nelson dihukum mati menyusul keputusan Mahkamah Agung AS itu. Tiga orang lainnya dieksekusi selama empat hari di bulan Juli. (PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan