Kardinal Sekretaris Negara Pietro Parolin mengunjungi Gereja Kristen Maronit Santo Gregorius yang rusak dalam ledakan di Beirut (ANSA)
Kardinal Sekretaris Negara Pietro Parolin mengunjungi Gereja Kristen Maronit Santo Gregorius yang rusak dalam ledakan di Beirut (ANSA)

Dalam Audiensi Umum 2 September 2020, Paus Fransiskus menyerukan hari doa dan puasa universal 4 September untuk Lebanon, setelah ledakan mematikan 4 Agustus di pelabuhan Beirut, serta krisis ekonomi dan politik yang sedang berlangsung di negara itu.

Paus juga mengumumkan akan mengirim Sekretaris Negara Kardinal Pietro Parolin ke Lebanon sebagai wakilnya “untuk hadir bersama rakyatnya” dan untuk mengungkapkan “solidaritas dan kedekatan spiritual.” Maka, sehari sebelum hari doa itu, Kardinal Parolin bertemu para uskup Lebanon, berbagai perwakilan umat beragama, dan ogranisasi-organisasi kemanusiaan di Katedral Santo Gregorius Maronite di Beirut.

Kardinal Parolin menjelaskan kepada para pemimpin agama dalam pertemuan itu bahwa kunjungannya adalah “untuk mengungkapkan kedekatan Gereja Katolik di seluruh dunia.” Kardinal itu menunjukkan bahwa seruan Paus untuk hari doa itu menghasilkan tanggapan langsung dari seluruh dunia. “Anda tidak sendirian!” kata Kardinal Parolin.

Kardinal Parolin juga meminta para pemimpin politik bangsa, dan mendesak mereka untuk “menumbuhkan bakat-bakat anak muda dan aspirasi-aspirasi mereka untuk perdamaian dan masa depan yang lebih baik.” Hanya dengan bersama-sama, lanjut kardinal, kita bisa “mengalahkan semua bentuk otoritarianisme dengan meningkatkan kewarganegaraan inklusif berdasarkan respek terhadap tugas dan kewajiban fundamental.”

Menurut kardinal, “penderitaan bisa membantu memurnikan niat dan memperkuat tekad hidup bersama dalam perdamaian dan martabat guna memperjuangkan pemerintahan lebih baik yang mendukung tanggung jawab, transparansi dan akuntabilitas.”

Seraya menunjukkan nilai unik Lebanon, bagian Tanah Suci yang dikunjungi Yesus, para rasul-Nya, dan Bunda Maria, Kardinal Parolin mengingatkan para pemimpin agama bahwa mereka punya “misi utama untuk memberikan harapan kepada penduduk yang menderita, untuk menghormati dan melayani saudara dan saudari kita, dimulai dari yang paling rentan.”

Kardinal Parolin mendorong banyak contoh “indah” solidaritas yang sudah terjadi di seluruh Beirut, dan mengimbau masyarakat internasional tidak meninggalkan Lebanon sendirian, karena dunia “perlu juga eksperimen pluralisme unik yang sedang berlangsung, hidup bersama dalam solidaritas dan kebebasan, yakni Lebanon.”

Dalam Misa pada hari yang sama di Tempat Ziarah Bunda Maria dari Lebanon di Harissa, Kardinal Parolin mendorong semua orang Lebanon “terus berharap dan menemukan kekuatan dan energi untuk memulai kembali,” tanpa memandang krisis ekonomi, sosial dan politik yang hanya diperparah oleh pandemi Covid-19 dan ledakan bulan Agustus.

Sekretaris Negara Vatikan itu mengimbau agar rekonstruksi negara dilakukan tidak hanya di tingkat material, tapi juga dengan cara mendorong pendekatan baru dalam pengelolaan urusan publik berdasarkan hukum, transparansi, tanggung jawab kolektif dan kebaikan bersama.

Kardinal Parolin mengakhiri homili dengan kata-kata Paus Fransiskus dalam Audiensi Umum 2 September, “Dan sekarang saya minta kalian mempercayakan kecemasan dan harapan kita kepada Maria, Bunda Kita dari Harissa. Semoga dia mendukung semua orang yang berduka atas orang yang mereka cintai dan semoga dia memberikan keberanian kepada semua orang yang kehilangan rumah dan, bagian hidup mereka! Semoga dia menjadi perantara di hadapan Tuhan Yesus sehingga Tanah Aras bisa mekar kembali dan menyebarkan keharuman hidup bersama di seluruh Timur Tengah.” (PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Vatican News)

Tinggalkan Pesan