Paus di Assisi pada Hari Doa Sedunia untuk Perdamaian pada 20 September 2016 (Ossevatore Romano)
Paus di Assisi pada Hari Doa Sedunia untuk Perdamaian pada 20 September 2016 (Ossevatore Romano)

Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama (PCID) dan Dewan Gereja-Gereja Dunia (WCC) merilis dokumen bersama yang menyerukan kepada umat Kristiani untuk merefleksikan pentingnya solidaritas antaragama saat dunia menghadapi krisis Covid-19.

“Melayani Dunia yang Terluka dalam Solidaritas Antaragama: Seruan Kristen untuk Refleksi dan Aksi selama Covid-19,” yang dirilis 29 Agustus 2020 itu ditujukan untuk mendorong “gereja-gereja dan organisasi-organisasi Kristen untuk merefleksikan pentingnya solidaritas antaragama di dunia yang terluka oleh pandemi Covid-19.”

Dokumen yang memberikan dasar Kristen untuk solidaritas antaragama dalam menanggapi krisis itu, juga ditujukan untuk para pengikut agama lain, “yang telah menanggapi Covid-19” dengan refleksi serupa berdasarkan tradisi-tradisi mereka sendiri.

“Karena hubungan antaragama bisa menjadi sarana ampuh untuk mengekspresikan dan membangun solidaritas, dan membuka diri terhadap sumber-sumber daya yang datang kepada dari luar batas-batas kita, maka kita mengajak refleksi tentang cara orang Kristen bisa menjadi mitra dalam solidaritas dengan semua orang beriman dan berkehendak baik. Dalam perjalanan menuju solidaritas ini, komunitas-komunitas yang berbeda diinspirasi dan dipertahankan oleh harapan yang kita temukan dalam tradisi masing-masing.”

Dalam dokumen itu, PCID dan WCC menemukan dasar “untuk solidaritas antaragama dalam keyakinan kita akan Allah yang adalah satu dari tiga Pribadi, Bapa, Putra, dan Roh Kudus.” Dalam serangkaian pernyataan, dokumen itu mencatat, semua manusia adalah satu keluarga, yang diciptakan Allah menurut rencana Bapa, bahwa “kepercayaan dan harapan kita ada dalam Yesus Kristus,” dan bahwa kita “semua terhubung oleh karya Roh Kudus.” Ini berfungsi sebagai dasar solidaritas universal, dan mengikuti teladan Kristus dalam melayani sesama, yang diilhami kekuatan spiritual dari Roh yang “mengarahkan kita kepada Allah dalam doa dan kepada sesama kita dalam pelayanan dan solidaritas.”

Dokumen itu berlanjut dengan prinsip-prinsip Kristiani bersama yang bisa “membimbing kita dalam karya saling melayani dalam dunia yang terluka, bersama dengan semua orang beriman dan berkehendak baik.” Prinsip-prinsip itu antara lain kerendahan hati dan kerentanan, rasa hormat terhadap orang lain, kasih sayang, dialog, pertobatan, rasa syukur dan kemurahan hati, serta cinta.

Inti dari dokumen ini terletak pada serangkaian rekomendasi tentang bagaimana umat Kristen bisa melayani sesama, dan melayani bersama mereka. Dokumen itu meminta umat Kristen memikirkan dan menemukan cara untuk memberi kesaksian tentang penderitaan; memelihara solidaritas melalui bentuk-bentuk spiritualitas  bersama; mendorong dan mendukung idealisme dan energi kaum muda; serta merestrukturisasi proyek-proyek dan proses-proses solidaritas antaragama.

Dalam pernyataan pengantar dokumen itu, Ketua PCID Kardinal Miguel Ángel Ayuso Guixot mencatat bahwa pandemi Covid-19 “telah mengungkap luka dan kerapuhan dunia kita, dan bahwa tanggapan kita harus diberikan dalam solidaritas inklusif, terbuka untuk pengikut tradisi-tradisi agama lain dan orang-orang yang berkehendak baik, mengingat kepedulian terhadap seluruh keluarga manusia.”

Sekjen sementara WCC, Dr Ioan Sauca mengatakan, “Dalam menghadapi pandemi Covid-19, keluarga manusia bersama menghadapi seruan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk saling melindungi, dan untuk menyembuhkan komunitas-komunitas kita.”

“Dialog antaragama tidak hanya membantu memperjelas prinsip-prinsip iman kita sendiri dan identitas kita sebagai umat Kristen, tetapi juga membuka pemahaman kita tentang tantangan — dan solusi kreatif — yang mungkin dimiliki orang lain,” lanjutnya.(PEN@ Katolik/pcp berdasarkan Vatican News)

 

Tinggalkan Pesan