Pastor Sony Wengkang MSC  (foto Maxi Pat)
Pastor Sony Wengkang MSC (foto Maxi Pat)

Imam dengan nama lengkap Pastor Antonius Gerardus Wengkang MSC telah dipanggil Tuhan di Rumah Sakit Sint Carolus, Jakarta, 22 Agustus 2020 pukul 12.00 WIB. Imam yang akrab dipanggil Pastor Sony itu berusia 58 tahun, 7 bulan. Dia lahir 17 Januari 1962 di Woloan, Tomohon, berkaul pertama dalam Tarekat MSC 15 Juli 1984, berkaul kekal 21 Januari 1989 dan ditahbiskan imam 12 Januari 1991.

Dalam Misa Requiem yang dilaksanakan secara tertutup untuk umat di Aula Provinsialat MSC, Jakarta, dan disiarkan secara live streaming di hari yang sama pukul 20.00 WIB, Pemimpin Komunitas MSC Daerah Jakarta-Kalbar-Sumsel Pastor Robertus Bob Rarun MSC bercerita bahwa dia tinggal bersama Pastor Sony sejak Februari 2019 di Cengkareng, bahkan pernah bersama sejak di Skolastikat MSC Pineleng, Sulawesi Utara, dan ketika berkarya di Katedral Merauke.

“Dia sudah lama sakit diabetes. Begitu banyak pergumulan dan perjuangannya yang luar biasa. Meski perjalanan sakit terasa berat namun dia tetap menjalaninya dengan kesetiaan, dia tetap menjalankan kewajiban Misa dan doa pagi serta tugasnya di rumah sehari-hari seperti tidak terjadi apa-apa,” kata Pastor Rarun.

Pastor itu mengaku, semua pekerjaan di rumah dikerjakan mereka bersama-sama karena mereka tidak punya pembantu kecuali supir. “Semua kami kerja sendiri, cuci sendiri, setrika sendiri, masak sendiri.”

Di masa Covid-19, Pastor Rarun dan konfrater lain di Cengkareng mengaku khawatir dengan Pastor Sony. “Dia harus bolak-balik rumah sakit Senin-Kamis dan di minggu-minggu tertentu tiga sampai empat kali ke rumah sakit karena gangguan lain dan perlu dokter lain. Tapi, dia tetap jalankan semua itu dan selalu siap kapan saja dipanggil Tuhan.”

Pastor Rarun bercerita, semalam di Cengkareng, karena mereka berencana menghadiri Misa 60 Tahun “Hidup Membiara Pastor Lambertus Somar MSC, Pastor Titus Rahail MSC dan Pastor Johanis Mengko MSC” di Aula Provinsial MSC Jakarta, “dia katakan besok pagi kita makan roti saja, maka dia keluar dengan sopir cari roti. Pagi sekitar jam 5 saya dengar bunyi di dapur, beliau siapkan sarapan pagi, tanpa ada tanda lain, karena itu rutin kita lakukan bergantian. Kami tiba di provinsialat sekitar 9.30 dan kami masih cerita-cerita.”

Namun, PEN@ Katolik mengamati dalam tayangan YouTube Misa itu, sejak lagu Alleluya, Pengantar Injil, Pastor Sony sudah tidak tenang berdiri sambil berpegang pada kursi roda konfrater di depannya. Pada saat Injil selesai dibacakan, konfrater lain dari belakang langsung menjemputnya karena badannya kelihatan semakin lemah.

Misa yang dimulai pukul 10.00 WIB itu terus berlangsung. Pastor Sony dibawa ke Rumah Sakit Sint Carolus dan meninggal di sana dua jam kemudian.

“Satu hal saya lihat dari beliau adalah kesetiaan. Meski sakit, dia tidak mengeluh, tetap menjalankan tugas. Kalau Misa, dia paling suka menyanyi. Dalam Misa Minggu yang dia pimpin, dia nyanyikan semua, mazmur pun dia nyanyikan. Kita sudah tidak enak, karena dalam sakit dia tampak mau jatuh. Kita khawatir, tapi dia suka nyanyi,” ceritanya.

Kesetiaan, kata Pastor Rarun, “dia wujudkan sebagai imam terlebih dalam doa dan Ekaristi, sumber kekuatan dalam seluruh perjalanan hidupnya. Ia selalu merayakannya penuh sukacita dan kegembiraan, karena dia percaya, makan Tubuh Kristus dan minum Darah Kristus memberinya kehidupan kekal dan Tuhan akan membangkitnya di akhir zaman.”

Sesudah Misa, Pastor Rarun memberkati jenazahnya dengan air suci dan pendupaan, dan para konfrater dan jumat yang hadir menyanyikan “In paradisum deducant te Angeli: In tuo adventu suscipiant te Martyres, et perducant te in civitatem sanctam Jerusalem (Semoga para malaikat membimbingmu masuk ke dalam surga, semoga para martir menyambut kedatanganmu dan membawamu ke kota suci Yerusalem).

Kematian Pastor Sony terjadi pada bulan yang sama meninggalnya dua konfrater MSC yakni Pastor Vincentius Markus Marlon MSC yang meninggal di Berau, Kaltim, 5 Agustus, dan Bruder Maxi Simon Dumanauw MSC di Manado, 4 Agustus. Tahun ini enam imam MSC dan satu bruder MSC meninggal dunia. Sebelumnya Pastor Yan Sereta MSC meninggal 13 Juli, Pastor Endro Wignyoseputra MSC 1 Juli, Pastor Norbertus Ngutra MSC 25 April, dan Pastor Frans Rares MSC 8 Maret.

Pastor Sony Wengkang dimakamkan di Pemakaman San Diego Hills, Karawang, Minggu 23 Agustus 2020 pukul 09.00 WIB, setelah Misa Pelepasan Jenazah pukul 07.00 di Aula Provinsialat MSC yang disiarkan secara online dan dipimpin oleh Pemimpin Provinsi MSC Indonesia Pastor Samuel Maranresy MSC.

Dua bulan setelah tahbisan tahun 1991 hingga 1998, Pastor Sony ditugaskan di Keuskupan Agung Merauke, di antaranya sebagai Pastor Kepala Paroki Katedral Merauke dan Anggota Dewan Penasehat Keuskupan Agung Merauke hingga Vikjen Keuskupan Agung Merauke. Di sana pun dia pernah bertugas sebagai Bendahara MSC Daerah Merauke hingga Wakil Pemimpin Komunitas MSC Daerah Merauke.

Sedangkan di Keuskupan Agung Jakarta sejak 1998 hingga 2002 pernah menjadi Pastor Kepala Bunda Hati Kudus Kemakmuran, Deken Jakarta Barat 1 serta Ketua Pengurus Harian hingga Ketua Dewan Pembina Yayasan Bunda Hati Kudus Jakarta dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Kasih Ayah Bunda Jakarta.

Di Keuskupan Agung Pontianak, sejak 2002 hingga 2012, Pastor Sony pernah menjadi Pastor Paroki Stella Maris Siantan, Moderator Komunitas Tritunggal Mahakudus, Anggota Dewan Konsultor dan Dewan Imam serta Dewan Keuangan, Ketua Komisi, Badan Penasehat Kredit Union Stella Maris Pontianak, Koordinator Distrik XI ME Pontianak, dan Anggota Pengurus Inti Komisi Keluarga KWI. Pastor Sony jadi Pastor Kepala Paroki Hati Kudus Yesus, Karombasan, Manado, 2012-2014.

Menurut Pastor Johanis Mangkey MSC dari sekretariat provinsialat MSC, kurang lebih lima tahun terakhir kesehatan Pastor Sony bermasalah. “Dia harus ke Jakarta untuk mengurus kesehatannya, karena ia divonis gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah dua kali seminggu. Selama menjalani perawatan di Jakarta ia tinggal di Komunitas Rumah Induk atau Provinsialat MSC dan kemudian di Rumah Superiorat MSC Jakarta di Cengkareng.”

Meski kondisi kesehatan terganggu, lanjut Pastor Mangkey, “Pastor Sony menyempatkan diri melayani umat dan memimpin Ekaristi dan hadir dalam berbagai kegiatan di Provinsi maupun di Daerah Jakarta.” Semangat hidupnya, jelas imam itu, mengalahkan rasa sakit yang diderita bertahun-tahun “dan dia mengatakan sewaktu-waktu dia bisa dipanggil oleh Tuhan tetapi dia sudah siap sedia.”

Yang dilakukan Pastor Sony semasa hidupnya, kata Pastor Rarun, “menjadi inspirasi bagi saya dan semua konfrater, karena dia berjuang dengan sakitnya, dan saya yakin dia sudah mempersiapkan segala sesuatu dan mempersatukannya dengan sengsara Kristus di salib, dan itu tentu jadi kekuatannya untuk menjalani hari-hari hidupnya. Saya bersyukur pernah hidup bersama dia, dan dia telah menunjukkan teladan untuk tetap berjuang dan tetap setia, apapun yang terjadi di dalam kehidupannya.”(PEN@ Katolik/paul c pati/aop)

Pastor Sony sudah tak kuat berdiri lagi dan badannya mulai jatuh langsung dipapah dan dibawa ke rumah sakit (PEN@ Katolik/pcp/screenshot)
Pastor Sony sudah tak kuat berdiri lagi dan badannya mulai jatuh dalam Misa Syukur 60 tahun hidup membiara tiga konfraternya, dan dia langsung dipapah dan dibawa ke rumah sakit (PEN@ Katolik/pcp/screenshot)
Pemberkatan Jenazah (PEN@ Katolik/pcp/screenshot)
Pemberkatan Jenazah oleh Pastor Robertus Bob Rarun MSC(PEN@ Katolik/pcp/screenshot)
Pastor Sony Wengkang MSC 8
Foto Maxi Paat
Doa oleh Pimpinan Kawanua Katolik (Ist)
Doa oleh Pimpinan Kawanua Katolik (Ist)
Homili (PEN@ Katolik/pcp/screeshot)
Homili (PEN@ Katolik/pcp/screeshot)
Saat Misa Syukur 60 Tahun Hidup Membiara tiga imam MSC yang dirayakan pada hari yang sama Pastor Johanis Mangkey sudah curiga melihat kondisi Pastor Sony yang kurang sekat. Ist
Saat Misa Syukur 60 Tahun Hidup Membiara tiga imam MSC yang dirayakan pada hari yang sama Pastor Johanis Mangkey MSC sudah curiga melihat kondisi Pastor Sony yang kurang sekat. Ist

Tinggalkan Pesan