Mgr Robertus Rubiyatmoko  menahbiskan dua imam diosesan di Kapel Kapel Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta, 19 Agustus 2020 (semua foto dalam tulisan ini diambil secara screenshot oleh PEN@ Katolik  dari tayangan langsung oleh Komsos KAS)
Mgr Robertus Rubiyatmoko menahbiskan dua imam diosesan di Kapel Kapel Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta, 19 Agustus 2020 (semua foto dalam tulisan ini diambil secara screenshot oleh PEN@ Katolik dari tayangan langsung oleh Komsos KAS)

Misa tahbisan imam yang biasa meriah dirayakan hari itu dengan penuh kesederhanaan di sebuah kapel dalam suasana Covid-19, sehingga sekitar 50 orang yang hadir pun harus menggunakan masker dan menjaga jarak. Para imam yang hadir pun hanya beberapa perwakilan. Banyak kursi kosong.

Setelah yakin bahwa para diakon yang akan ditahbiskan imam, para imam, suster, frater dan keluarga serta segenap umat yang mengikuti Misa itu lewat live streaming, semua merasa bahagia meskipun suasananya penuh pembatasan, Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko menegaskan, “memang tahbisan ini sangat istimewa dan penuh pembatasan karena virus corona, namun pembatasan tidak mengurangi keagungan, kemeriahan, keseriusan, dan kekhusukan tahbisan imam hari ini.”

Mgr Rubi berbicara dalam homili sebelum menahbiskan diakon Benediktus Nugroho Susanto dan diakon Yustinus Andi Muda Purniawan menjadi imam dalam Misa di Kapel Seminari Tinggi Kentungan Yogyakarta, 19 Agustus 2020. Kedua imam diosesan baru yang disebut Mgr Rubi sebagai angkatan tahbisan corona (angkor) itu mengambil moto tahbisan, “Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih.”

Berpangkal dari berbagai refleksi dan pengalaman, termasuk pengalaman tahbisan dalam suasana pandemi itu, khususnya moto tahbisan mereka, Mgr Rubi meminta kedua imam baru itu melakukan perutusan dalam kasih. “Tiga ciri khas orang yang melakukan perutusan dalam kasih adalah total, tulus dan tidak hitung-hitungan, namun sungguh semua hanya untuk Tuhan sendiri.”

Mgr Rubi menjelaskan, melakukan perutusan dalam kasih tidak lain adalah “melakukannya dengan penuh totalitas, dalam arti penuh kesungguhan, tidak setengah-setengah, mencurahkan segala pikiran dan budi untuk karya pelayanan.”

Tulus, lanjut prelatus itu, “berarti tugas pelayanan dilakukan dengan penuh kerelaan, kebebasan, tanpa keterpaksaan, dan tanpa embel-embel lain.” Sedangkan tidak hitung-hitungan “artinya tidak mau mencari sesuatu untuk diri sendiri, namun semua dilakukan hanya untuk Allah, untuk kemuliaan Tuhan, dan keselamatan bagi umat manusia.” Kalau seorang imam melakukan semua itu, Mgr Rubi yakin, dia akan menemukan ganjaran berlipat lipat, yang sangat luar biasa, yang di luar dugaan dan harapan.

Menurut Mgr Rubi, dalam refleksi dan keseharian kedua calon imam itu “ada sukacita dan kegembiraan” yang mereka ungkapkan secara ringkas dalam logo tahbisan mereka “yang menampilkan begitu banyak lambang guna mengungkapkan pengalaman iman dan pengalaman perjuangan panggilan mereka.”

Logo tahbisan mereka berisi dua siluet manusia berwarna merah dan biru yang gambarkan dua orang yang dipanggil menjadi imam, api yang lambangkan Roh Kudus, salib yang lambangkan pengorbanan Yesus Kristus, 12 sinar yang lambangkan usaha mereka untuk mengajarkan iman para Rasul, dan Kitab Suci bertuliskan Alfa dan Omega, serta tulisan paling jelas di bagian bawah, “Lakukanlah segala pekerjaanmu di dalam kasih.”

Dalam moto itu, Mgr Rubi menangkap sukacita yang ingin mereka tampilkan untuk menanggapi panggilan Tuhan. “Mereka rumuskan moto ini dari pengalaman sangat konkret, yakni pengalaman merasa diri penuh kelemahan, penuh kekurangan, penuh ketidakmampuan, namun dipakai oleh Allah, dipanggil oleh Tuhan, untuk menjadi imamnya. Mereka mengalami dari waktu ke waktu selama 13 tahun persiapan, mereka merasa didampingi, disertai dan diberkati oleh Tuhan sendiri.”

Sebagaia imam baru, Pastor Beni ditugaskan di Paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari, DIY, dan Pastor Andi di Paroki Santa Theresia Liseus Boro, Kulonprogo, DIY.

Sebelum bertugas Mgr Rubi mengingatkan bahwa indikasi orang bekerja dalam kasih adalah “sukacita atau kegembiraan” saat melakukan tugas pelayanan, dan lawannya adalah “bersungut-sungut, marah dan emosi”. Orang yang bekerja dalam kasih, lanjut uskup agung itu, “selalu mempunyai pengharapan dan keyakinan bahwa Allah akan menyertai, akan berkarya di dalam dirinya.”(PEN@ Katolik/paul c pati)

Imam KAS 6Imam KAS 7Imam KAS 4Imam KAS 9Imam KAS 5

Tinggalkan Pesan