17 Agustus

Di Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia ini, KWI secara khusus mengangkat bacaan-bacaan yang bertemakan hidup berbangsa dan bernegara, sehingga tentunya berbeda dengan kalender liturgi Gereja pada umumnya.

Melalui bacaan-bacaan yang diangkat tersebut, KWI ingin kembali mengingatkan umat Katolik di Indonesia akan tugas dan kewajibannya sebagai WNI dan juga warga Gereja yang baik, seperti yang dikatakan oleh Santo Petrus dalam bacaan kedua (1 Petrus 2: 13-17), “Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!”

Demikian pula bacaan pertama (Sirakh 10: 1-8), yang menekankan pentingnya peranan pemerintah atau negara, mengatakan, “Pemerintah yang bijak menjamin ketertiban dalam masyarakat, seperti pemerintah kota, demikian pula semua penduduknya.”

Maka, ‘bagaimanakah pendapat Tuhan Yesus tentang hidup bernegara?’ Dalam bacaan Injil hari ini (Matius 22: 15-21), orang-orang Farisi kembali berusaha menjebak Yesus dengan pertanyaan, “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Tetapi, Yesus yang mengetahui kejahatan hati mereka itu berkata, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.”

Dalam hal ini, Yesus menjawab pertanyaan mereka dengan berbalik bertanya, karena Yesus tidak ingin termakan oleh jebakan mereka. Sebab, jika Ia menjawab ‘boleh’, maka Ia akan dianggap sebagai seorang pengkhianat dan berpihak pada bangsa penjajah yang menindas mereka. Sebagai akibatnya, ajaran-Nya tentang Kerajaan Allah di mana hanya Allah yang patut berkuasa atas hidup manusia akan menjadi tidak relevan lagi.

Sebaliknya, jika Ia menjawab ‘tidak boleh’, maka mereka akan melaporkan-Nya kepada pemerintah Romawi, dan Yesus akan ditangkap karena dianggap telah menghasut rakyat untuk tidak membayar pajak.

Maka, Yesus pun kembali bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Sahabat terkasih, melalui sabda-Nya ini, Tuhan Yesus tidak mengabaikan adanya otoritas negara atau pemerintah. Dan, sebagai seorang warga negara kita pun perlu membayar pajak dan melakukan kewajiban lainnya. Tetapi, pada akhirnya ketaatan yang tertinggi harus tetap kembali pada Allah.

Selain itu, hal ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus adalah seorang bijaksana sekaligus jenius (smart), sehingga perkataan-Nya itu tidak menjadi batu sandungan bagi diri-Nya sendiri melainkan justru dapat membungkam para musuh-Nya.

Semoga semua ini dapat menginspirasi agar di masa-masa sulit saat ini, kita bisa menjadi warga negara dan warga Gereja yang smart, bijaksana dan tulus, sehingga tidak mudah terhasut oleh berita maupun ajakan yang tidak benar. Sebab, orang bisa saja memiliki IQ (Intelligence Quotient) yang tinggi, namun belum tentu memiliki EQ (Emotional Quotient) yang seimbang.

Sungguh, hanya dengan berpegang pada sabda-Nya saja kita dapat memperoleh sumber kebijaksanaan dan jalan keluar dari setiap masalah yang kita hadapi.

Selamat Hari Raya Kemerdekaan RI! Semoga Tuhan Yesus memberkati bangsa dan negara kita senantiasa.

Frater Agustinus Hermawan OP

Tinggalkan Pesan