Tahbisan Bandung 13
Tahbisan imam Pastor Yohanes Tony Setyawan Pr dan Pastor Stephanus Augusta Yudhiantoro Pr (Semua foto dalam tulisan ini diambil dengan screenshot oleh PEN@ Katolik/pcp)

Sebelum ditahbiskan imam, dalam pembicaraan pribadi dengan Uskup Bandung Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC, kedua calon imam yang selesaikan pendidikan filsafat dan teologi di Universitas Katolik Prahyangan Bandung, yakni Yohanes Tony Setyawan dan Stephanus Augusta Yudhiantoro, mengatakan ingin “menjadi teladan dan saksi sejati.”

Diakon Tony asal Cimahi, Jawa Barat, yang pernah belajar di Seminari Menengah Mertoyudan Magelang, dan Diakon Yudhi asal Pasar Minggu, Jakarta, yang pernah belajar di Seminari Menengah Wacana Bakti dan SMA Kolese Gonzaga Jakarta itu diterima dan ditahbiskan imam diosesan Keuskupan Bandung oleh Mgr Subianto dalam Misa live streaming oleh Komisi Komsos Keuskupan Bandung di Aula Seminari Tinggi Fermentum, Bandung, 12 Agustus 2020. Jumlah pemirsa siaran Youtube dalam Misa itu lebih dari 1800.

Dalam Misa, yang menaati pedoman kesehatan pencegahan Covid-19 dan hanya dihadiri beberapa imam, kedua orang tua imam baru dan para frater seminari yang jadi petugas koor, Mgr Subianto didampingi Rektor Seminari Fermentum Pastor Bhanu Viktorahadi Pr dan staf formator Seminari Fermentum Pastor Albertus Herrynunug Fermentum Pr.

Mengawali Misa itu Pastor Bhanu mengatakan, kedua diakon itu memilih tema tahbisan dari Lukas 24:48 “Kamu adalah saksi dari semuanya ini.” Sabda Yesus itu, menurut imam itu, menjadi bagian narasi penampakan Yesus setelah kebangkitan-Nya dari alam maut, dan untuk memberi perutusan kepada para murid. Di sinilah episode para murid dimulai, tegas imam itu, “para murid mendapat anugerah panggilan untuk melaksanakan tugas-tugas perutusan mereka dan perutusan utama mereka adalah menjadi saksi.”

Ketika meminta Uskup Bandung menahbiskan kedua calon itu, Pastor Bhanu menegaskan “kami telah bertanya kepada umat beriman dan orang-orang yang mengenal para calon dengan baik, berdasarkan kesaksian dan pendapat mereka, kami menegaskan bahwa para calon layak ditahbiskan menjadi imam.”

Mgr Subianto “memilih” kedua calon itu dan menegaskan, saksi adalah unsur penting dalam menentukan kebenaran. “Tanpa saksi, kebenaran diragukan, bisa diputarbalikan. Saksi pun bermacam-macam, yang paling kuat adalah saksi mata, yang secara fisik ada di tempat kejadian, yang melihat, mendengar atau merasakan yang terjadi. Untuk jadi saksi sejati, bukan palsu, tak cukup hanya alami langsung, tapi harus memiliki integritas pribadi, kekuatan rohani, kehidupan moral dan spiritual yang tak diragukan, dikenal sebagai orang baik, benar, santun dan kudus, hingga kesaksiannya dipercaya. Hanya orang seperti itulah pantas jadi saksi sejati.”

Uskup bercerita, kadang-kadang di tempat kerja seseorang baru tahu temannya Katolik dan mengatakan, “Oh, ternyata kamu Katolik ya?!” Dia mengatakan “Oh” karena tidak menduga. “Oh, mantan frater ya?!” dan “Oh, mantan imam ya?!” Tanggapan “Oh” karena kelakuannya tidak sama seperti yang dialami, Katolik tapi tidak seperti orang Katolik, mantan tapi tak seperti mantan, tak ada bekas pendidikan seminari. “Mendapat tanggapan ‘Oh’ karena hidupnya tidak memberi kesaksian. Dan kita berkata jangan-jangan dia itu palsu, kesaksiannya bohong,” kata uskup.

Tapi, lanjut uskup, seorang yang tak dikenal tapi hidupnya baik berkata, “Saya dulu mantan Fermentum.” Dan orang lain jawab, “Pantesan, ada bekas-bekasnya!” Yang lain berkata, “ada cowok cakep banget, saleh, alim, kasep lagi. Itu siapa?” Jawab yang lain “Ah, itu diakon Tony!” “Pantesan!” jawabnya. Dan itu, yang “gagah, semangat, seperti tidak ada lelahnya, murah hati?” Jawab temannya, “Itu mau ditahbiskan jadi imam. Itu Frater Yudhi.” Menurut Mgr Subianto, “’Oh’ itu meragukan, ‘Pantesan’ itu meneguhkan.”

Mgr Subianto, kedua calon imam “yang fotonya bagus-bagus, kalau orang bilang kasep, gagah, setidak-tidaknya fotonya bagus,” mengaku “ingin jadi teladan, ingin menjadi saksi sejati seperti yang diamanatkan Kristus untuk mewartakan berita pertobatan, perubahan hidup dan pengampunan dosa.”

Menurut Pastor Bhanu, ini kali ketiga dalam sejarah Keuskupan Bandung bahwa tahbisan imam dilaksanakan di Seminari Fermentum. Namun, jelasnya, Pastor Tony dan Pastor Yudhi “lebih istimewa karena semua perangkat untuk jadi imam diterima di Seminari Tinggi Fermentum, mulai dari penerimaan jubah, instalasi lektor dan akolit, tahbisan diakonat sampai tahbisan presbiterat ini.

Pastor Tony mengakui seminari itu “menjadi tempat istimewa” bagi mereka berdua karena alasan yang dikemukakan rektor. “Tempat ini menjadi saksi dari proses perjalanan formasi menjadi imam di Keuskupan Bandung. Di tempat ini kami mulai mengolah pengenalan dan relasi dengan Allah. Di tempat ini pula kami siap diutus membagikan apa yang sudah kami dapatkan kepada orang-orang sekitar kami,” kata Pastor Tony seraya memohon doa agar mereka “tetap menjadi saksi Allah bagi orang-orang di sekitar kami.”

Sebelum berkat penutup, Mgr Subianto menugaskan Pastor Yohanes Tony Setyawan Pr sebagai Pastor Vikaris Paroki Hati Tak Bernoda Santa Perawan Maria Buah Batu, Bandung, dan Pastor Stephanus Augusta Yudhiantoro Pr sebagai Pastor Vikaris Paroki Santo Martinus Kopo, Bandung.

“Semoga yang para imam baru itu janjikan menjadi kesaksian yang hidup, sehingga orang berkata, ‘Luar biasa’,” kata Uskup Bandung di akhir Misa.(PEN@ Katolik/paul c pati)

Tahbisan Bandung 7
Pastor Tony (kiri) dan Pastor Yudhi (kanan)

Tahbisan Bandung 4Tahbisan Bandung 5Tahbisan Bandung 11Tahbisan Bandung 2

Tinggalkan Pesan