Paus Fransiskus menyalami umat dari jendela Istana Apostolik pada Angelus  9 Agustus 2020 (Media Vatican)
Paus Fransiskus menyalami umat dari jendela Istana Apostolik pada Angelus 9 Agustus 2020 (Media Vatican)

“Ketika kita memiliki perasaan sangat ragu dan takut dan tampaknya akan tenggelam, kita tidak boleh malu untuk berseru, seperti Petrus: ‘Tuhan, tolonglah aku’,” kata Paus Fransiskus seraya menegaskan bahwa doa itu sama seperti mengetuk hati Tuhan dan hati Yesus. “Kita bisa mengulanginya berkali-kali.”

Paus berbicara dalam sambutan Angelus 9 Agustus 2020 kepada para peziarah yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus, saat merenungkan bacaan-bacaan liturgi hari itu. Bahkan, tegas Paus, “Yesus adalah tangan Bapa, yang tidak pernah meninggalkan kita, tangan Bapa yang kuat dan setia, yang selalu dan hanya menginginkan apa yang baik untuk kita.”

Kisah Injil tentang Yesus berjalan di atas air itu, menurut Paus, “adalah panggilan untuk menyerahkan diri kita dengan penuh kepercayaan kepada Tuhan di setiap saat hidup kita, terutama di saat-saat pencobaan dan ketakutan.”

Injil itu menceritakan bagaimana Yesus, yang berjalan di atas air di tengah badai, memanggil Petrus untuk datang kepada-Nya di atas air. Petrus berjalan beberapa langkah, tetapi menjadi ketakutan dan mulai tenggelam. Dia memanggil Yesus, “Tuhan, tolonglah aku!” dan “Yesus menggenggam tangannya dan berkata kepadanya, ‘Wahai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang.”

Mengingat bacaan Perjanjian Lama, Paus mengatakan bahwa Tuhan tidak berada dalam “badai, api, gempa bumi,” melainkan datang kepada kita dalam “angin sepoi-sepoi, yang tidak pernah memaksakan dirinya, tetapi meminta untuk didengar.”

Paus mengingatkan kita bahwa Tuhan tahu betapa lemahnya iman kita, dan betapa sulitnya perjalanan kita. “Tetapi Dialah Yang Bangkit, Tuhan yang melewati kematian untuk membawa kita kembali ke tempat yang aman. Bahkan sebelum kita mulai mencari Dia, Dia telah hadir di samping kita.”

“Mungkin dalam kegelapan, kita berteriak: ‘Tuhan, Tuhan!’ seraya berpikir Dia jauh sekali. Dan Dia berkata, ‘Aku di sini.’ Ah, Dia bersamaku! Itulah Tuhan.”

Dalam kisah Injil itu, kata Paus, “perahu di tengah badai adalah gambaran Gereja, yang di setiap zaman menjumpai angin sakal, cobaan yang sangat berat di waktu-waktu tertentu.” Secara khusus Paus mencatat “penganiayaan lama dan terus menerus tertentu” di abad kedua puluh, dan menambahkan “dan bahkan hari ini di tempat-tempat tertentu.”

Pada saat-saat seperti itu, lanjut Paus, Gereja “mungkin tergoda untuk berpikir bahwa Tuhan telah meninggalkannya.” Namun, kata Paus, “justru di saat-saat itulah kesaksian iman, kesaksian cinta, kesaksian pengharapan paling bersinar.”

“Kehadiran Kristus yang Bangkit dalam Gereja-Nya,” kata Paus, “memberikan rahmat kesaksian bagi kemartiran, dan dari situ tumbuh umat Kristen baru serta buah rekonsiliasi dan perdamaian untuk seluruh dunia.”

Ketika memulai Angelus, Bapa Suci memohon kepada Santa Perawan Maria seraya berdoa, “Semoga perantaraan Maria Yang Mahakudus membantu kita bertekun dalam iman dan cinta persaudaraan saat kegelapan dan badai kehidupan menempatkan kepercayaan kita kepada Tuhan dalam krisis.”(PEN@ Katolik/paul c pati berdasarkan Vatican News)

1 komentar

Tinggalkan Pesan